Tampilkan postingan dengan label Tentang Seseorang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang Seseorang. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Februari 2015

UNTUK KAMU YANG SEDANG MENANTI SEORANG MALAIKAT

You are the sunshine of my life, you are the apple of my eye


Mungkin ketika itu, manusia sedang kurang ajar-kurang ajarnya
Melupakan Tuhan dan meragukan Kebesaran serta Kuasa-NYA
Maka DIA lalu akhirnya memutuskan menciptamu
Dan kini aku tunduk dalam sujud, mengakui keagungan-NYA

Mengapa aku baru menemukanmu sekarang?
Bak seorang Nabi yang hadir memperbaiki kehancuran umat
Kau adalah matahari musim dingin yang datang membawa hangat
Kau adalah matahari di awal subuh yang menghapuskan gelap
Maka puji Tuhan! Terberkahilah kami
Yang dianugrahkan engkau hadir dalam hidup kami
Di izinkan menikmati surga meski masih menginjak bumi
Yang deminya, manusia lain rela beribadah jungkir balik setengah mati

Wahai kau, yang sedang menunggu malaikat
Saat kau merasa hidupmu sedemikian kesepian
Percayalah, tak ada yang cukup bodoh meninggalkanmu pergi
Karena tak ada manusia yang bisa hidup tanpa matahari
Karena tak ada yang mau menikmati malam tanpa pagi
Karena  tanpamu, hujan akan turun setiap hari
Dan kami manusia akan berdoa tanpa henti

Jangan pernah bersedih, karena kau pantas untuk bahagia

Dan kalaupun kelak tak kau temukan malaikat
Tuhan takkan telantarkan Maha Karya-Nya yang terhebat
DIA akan berikan kasih-Nya yang paling dahsyat
Dalam wujud tak bernama, tapi lebih tangguh dari malaikat
Yang akan melakukan apa saja agar senyummu tetap ditempat

Tapi mungkin kau sebenarnya tak perlu malaikat
Kau hanya butuh orang-orang yang mendoakanmu
Dan kau tak akan kekurangan yang rela melakukan itu
Bahkan mereka melakukannya tanpa sedikitpun kau tahu

Karena seandainya saja malaikat boleh memilih,
Tanpa kau memintapun, mereka akan berbaris dengan suka cita
Mengabulkan pintamu, sambil berharap kau jatuh cinta
Dan meski anomali, aku yakin Tuhan akan memakluminya
Karena bagiku, kau memang karya-NYA paling luar biasa

Malam ini, saat kau hendak tidur dan bermimpi,
Tersenyumlah, ucapkan "Terima kasih" dan katakan "Amiiiin!"
Karena percayalah, seseorang, entah dimana, sedang mendoakanmu, dan berkata:
“Selamat tidur, semoga mimpi indah dan semoga besok kau bertemu malaikatmu.”

Rabu, 26 Maret 2014

GADIS YANG SEPERTI MATAHARI

Kau gadis yang seperti matahari
Yang hilang bersama senja yang syahdu
Aku selalu berharap malam tak pernah datang
Karena betapapun indahnya, perpisahan adalah kehilangan
Yang merdunya kita nikmati hanya dalam lagu
Percayalah, penyair-penyair itu hanyalah sekumpulan penipu
Yang mereka sendiri tahu, puisi tak akan pernah keluar dari buku

Wahai gadis yang seperti matahari
Aku mengenalmu ketika shubuh sedang gelap-gelapnya
Kau buat aku percaya, kalau hari ini mungkin akan berbeda
Sementara kau sendiri sering kali ragu, sinarmu tak sempurna
Seolah-olah kau berhutang pada semesta
Padahal cahayamu, me-ji-ku-hi-bi-ni-u
Memberi makna pada warna di dunia


Wahai Gadis yang membuatku jatuh cinta pada matahari
Jangan pernah lemah oleh cibiran para pembenci
Karena sempurna itu tidak pernah ada yang memiliki
Aku, kau, mereka, kita, semua, sama
Tapi jelas engkau punya makna berbeda
Karena kau adalah matahari,
Bagi kami orang-orang yang kau cintai
Bagi kami orang-orang yang mencintai
Bahkan saat malam gelap sempurna
Dan purnama sedang cantik-cantiknya
Kami tahu cahaya indah itu darimana datangnya

Di ujung dunia ini,
Tiap kali senja datang, aku selalu merindukanmu

Jumat, 07 Maret 2014

SIMPATI UNTUK PARA TIRAN



Untuk Hitler, Nero dan Caligula
Kita tak mau disebut pahlawan
Kita tak mau pula disebut tiran
Dan tak ada yang punya hak menentukan
Karena bahkan orang sucipun
Mati di tangan para pendosa
Dan kalian hanya menontonnya
Lalu bedakah kalian dengan setan

Mari biarkanlah saja,
Zaman berlagak jadi hakim paling kuasa
Dan kita tak pernah perduli,
Biarkan mereka membenci kita
Selama mereka takut pada kita

Kita hanyalah jiwa-jiwa penyendiri
Yang terlalu asik dengan pikiran kita sendiri
Kita tahu bahwa banyak manusia ksatria
Tapi kita juga tahu,
Tidak ada orang yang pantas untuk dipercaya
Ya, kita tidak percaya pada siapa-siapa
Bahkan pada diri kita sendiri

Kita tidak pernah memandang hitam putih
Seorang pembohong hebat,
Hanyalah seorang pesulap hebat,
Tidak ada yang berdosa,
Hanya sebuah permainan
Karena nanti akan ada saatnya,
Ketika kita harus membenci apa yang kita cintai
Ketika kita harus menertawakan apa yang kita yakini
Maka mengembaralah terus dalam pencarian
Jika tak kau temui di ujung sisi terang
Mungkin ia berada di ujung sisi yang lainnya
Karena kebenaran sejati kadang ada di dalam kegelapan jiwa

Kita menikmati gerak kehidupan,
Dan tak ingin mati lebih cepat
Karena diam berarti kematian
Kita tak menyiapkan rencana pemakaman
Meski para revolusioner memancung kita sekalipun
Kita percaya bahwa ini bukanlah penebusan
Bahkan dihadapan kematian, kita hanya punya satu sabda:
Qualis artifex pereo
Lihatlah, seorang seniman hebat akan mati

Sekali lagi, Tak ada yang perduli kita ini tiran atau pahlawan
Karena kita tahu sama tahu,
Bahwa sejarah hanyalah kebohongan yang disepakati
Dan kita semua sebenarnya adalah orang gila

Dalam kadar dan kedoknya masing-masing


Rabu, 26 Februari 2014

UNTUK ZU II

Aku selalu berfikir kita masih punya banyak waktu, Zu…
Tanpa sadar bahwa semua di sekitar kita berubah
Padahal ia bukan waktu namanya kalau tak terus maju
Aku berubah, kau pun berubah
Dan kita tak pernah lagi sama

Apakah waktu sebegitu memusuhi kita?
Ah… tidak juga…
Kita sajalah terlalu sombong pada takdir
Padahal waktu sudah menyuruh kita menjadi dewasa
Tapi kita tidak mau menurutinya
Kita terlenan oleh bayangan dan angan-angan
Tanpa menyadari kita terpisah sehasta demi sehasta
Semakin jauh, hingga jarak membuat kita asing
Membuat kita tak lagi berbicara dengan cinta

Aku tidak akan menyalahkanmu, Zu…
Karena memang tidak ada yang keliru
Kau dan aku adalah protagonist dalam hidup ini
Tak ada yang mendikte kita dalam menentukan arah
Kita adalah manusia-manusia yang merdeka
Bahwa dalam setiap pilihan ada yang harus direlakan
Itu adalah keniscayaan…
Karena kemenangan yang diraih tanpa pengorbanan
Rasanya tidak cukup patut untuk dirayakan

Jika pada akhirnya kisah ini berakhir tak seindah mimpi
Aku akan dengan senang hati melepasmu
Mengakui ke kalahanku…
Tapi selama waktu masih menjanjikan harapan, Zu…
Aku akan tetap melangkah kepadamu
Merekonstruksi janji-janji
Merfleksi mimpi-mimpi


Jumat, 21 Februari 2014

TENTANG HUJAN

Saat memandang dunia yang berembun
Dari jendela kamarku
Selalu saja aku teringat padamu
Gadis manis berkerudung merah jambu
Yang datang kehujanan tanpa mantel
Menerobos hujan bulan februari

Matahari yang malu-malu bersinar
Dan air langit yang menyanyi riang di atap rumah
Memanggilku untuk turut serta menari
Bermain hujan seperti anak kecil
Tanpa perduli apapun lagi

Tersenyumlah padaku wahai hujan
Temani kesendirianku
Sampaikan rinduku padanya
Pada gadis manis berkerudung merah jambu
Yang menyukai hujan bulan februari

Selepas hujan...
Aku berharap pelangi yang indah
Dan senyum manismu sebagai hadiah

Sabtu, 18 Januari 2014

ABSTRAKSI

Aku tidak pernah benar-benar memahami cinta
Definisi tak cukup menerjemahkan makna
Hati adalah misteri yang sangat mengerikan
Psikopat yang paranoid
Menyaru dalam wajah seorang pemalu

Asmara memberikan janji paling manis
Meski realitas tak lebih seperti hujan gerimis
Merobek dan mengiris
Tapi seperti candu, aku tidak bisa berhenti
Bahkan mengharap dosis paling tinggi

Aku membenci cermin yang merefleksi memori
Berharap arus waktu adalah gurauan paling tak lucu
Kau hadir lalu pergi
Seolah cinta tak cukup untukmu
Membawa pada titik yang tak lagi bisa aku kenali
Diriku dan dirimu

Aku mencintaimu seperti aku membencimu
Aku membencimu seperti aku mencintai
Mari melepas rindu...
Temui aku saat kau bersiap memeluk kematian
Mari bercumbu saat ajal menjemput kesepian

Sui Raya, 29 Desember 2012

Sabtu, 12 Oktober 2013

MEMBACA PERTANDA

 

Aku terjaga dari rahim sang malam
Ketika seperempat abad datang menghampiri
Halaman pertama sebuah catatan
Berlanjut dalam lembaran-lebaran terbaru
Terselingi, namun tidak pernah benar-benar terganti

Hari ini waktu seakan berhenti dalam kontempolasi
Jalan hidup telah membawaku sampai di sini
Takdir mengeliminasi sekian banyak pilihan
Meninggalkan aku untuk mempersiapkan sebuah jawaban

Dalam lelap semesta, pemahaman menyelinap
Memberikan wujud kepada mimpi-mimpi senyap
Jawaban atas renungan-renungan di kala gelap
Apakah ini adalah firasat?

Aku percaya pada pertanda…
Karena Tuhan berbicara kepada hamba
Dan alam berisyarat dalam sebuah bahasa
Hanya terkadang kita tak sanggup membacanya
Dan aku akan mengikuti kemana ia akan membawa

Rabu, 11 September 2013

SAJAK SEPULUH SEPTEMBER II

Waktu itu unik ya, Zu?
Karena waktu kita bertemu
Karena waktu pula kita berpisah
Dan perlahan-lahan kita semakin jauh

Ada apa ya, Zu?
Mengapa takdir tak tersenyum pada kita?
Padahal kufikir cinta itu semanis madu
Tapi luka, ternyata perihnya berlipat seribu

Aneh kan, Zu?
Cerita ini sudah lama terlewati
Tapi masih saja ingin selalu aku nikmati
Seolah-olah fragmen waktu dapat kita ulangi
Padahal jalan takdir ini tak akan pernah bisa direvisi
Yah, paling tidak, dalam sejarahlah kau bisa kumiliki sendiri


Hari ini 10 september lagi, Zu
Aku masih ingin mengenangmu seperti dulu
Meski, tentu saja, kau sudah tidak sama lagi
Tidak pernah sama lagi!

Tapi, sudahlah, Zu
Untuk malam ini saja!
Izinkan aku memimpikanmu,
Agar aku bisa melanjutkan hidup untuk esok hari

Sui Raya 
10 September 2012

Rabu, 28 Agustus 2013

SEBUAH PERTANYAAN TENTANG CINTA

Sulitkah untuk dijawab
Apakah cinta punya wujud dan warna?

Aku bukan orang yang pandai bersilat lidah,
Kaupun faham!
Tapi waktu memang tidak bisa menunggu
Takdir tidak pernah memberikan pilihan

Aku masih mengenangmu dengan sempurna
Sebagai gadis pemilik senyum putih abu-abu
Dalam kenangan mimpi-mimpi selalu menjadi doa
Tapi dalam kenangan, tak ada yang bisa direvisi

Perasaan ini memang bukan soal matematika
Cinta ini tidak terdiri cuma dari hitam dan putih
Terkadang ia terdistorsi terlalu jauh dari mimpi
Terkadang jarak sedepa bahkan tidak juga bisa teraba
Terkadang puisi tidak cukup menjadi bukti
Klise memang,
Tapi itu yang selalu terjadi

Aku lelah berperang dengan keberanianku sendiri
Bahwa kau memang pantas diperjuangkan,
Aku tak bisa menyangkal
Tapi aku memang seorang peragu
Dan di dunia yang sempit ini,
Tidak ada tempat untuk orang seperti itu

Sulitkah untuk dijawab,
Apakah cinta punnya wujud dan warna?

Kufikir aku sudah cukup pandai
Tapi bahkan dalam hening paling mencekam
Aku tetap juga tidak bisa menjawabnya
Selain namamu, cinta terlalu absurd untukku

Jumat, 05 April 2013

PRIA DI PEREMPATAN ITU

Pria di perempatan itu tidak pernah aku lupakan

Dia yang pertama berdiri dahulu
Berada di garis depan membawa bendera
Dan spanduk-spanduk sederhana dari pilox
Meninggalkan ruang-ruang kuliah
Diktat-diktat tebal dari berbagai cabang ilmu
Mulai dari ilmu filsafat hingga risalah pergerakan
Juga meja dan kursi yang menjadi pasangan setia
Ia berdiri, bangkit, dan bergerak
Memandu barisan-barisan anti kezaliman
Dengan suara serak yang keluar dari corong
Pengeras suara
Ia berteriak, berseru
Nadanya sumbang dan tak berirama
Tapi bagiku seperti bensin
Meledak dan membakar semua orang

Pria itu tidak pernah aku lupakan
Ia selalu sederhana dalam bergaya
IPK nya tidak lebih dari angka tiga
Tapi caranya berbicara
Dan kata-kata yang datang darinya
Seperti mutiara yang bercahaya

Kutatap fotonya yang terbingkai figura emas
Kuberi salam hormat penuh takzim
Ucapan terima kasih dan doa syukur
Wajahmu tersenyum setia di situ
Tanpa bergeser barang seinci pun
Menatap dunia luar yang bising
Melihat tunas-tunas baru itu tumbuh subur
Menatap kami di sini
Meneruskan perjuanganmu

Pria di perempatan itu benar-benar tidak pernah aku lupakan
Ribuan orang mengantarkan kepergiannya
Aku salah satunya

Selasa, 19 Maret 2013

DOA SEORANG GELANDANGAN

Malam telah larut....!

Kabut sunyi yang pekat tersenyum
Memeluk jiwa-jiwa kalah yang gelisah

Jalanan sepi...
Tiga wanita dengan baju tak pantas
Berdiri di sudut perempatan
Bibir merah itu
Adalah korban kehidupan
Pipi merah itu
Adalah korban zaman

Malam semakin larut...!
Bocah laki-laki bermain gitar di seberang jalan
Nyanyiannya getir
Hatinya berteriak penuh amarah
Dan hidup membalas dengan sumpah serapah

Aku berbaring di bawah bintang
Di atas tanah yang makin egois
Menahan luka yang semakin lelah

Anakku janganlah merengek lagi
Biarkan ibumu tertidur
Hidup ini terkadang memang kejam
Tapi Tuhan kita tidak pernah terpejam

Kita memang hanya orang terpinggir
Hidup di jalanan yang lengang
Tanpa atap dan lantai
Tanpa tiang dan jendela

Anak dan istriku...
Janganlah kalian bersedih
Tuhan mendengar doa kita
Tabahkan hati kalian
Janganlah ada iri dan dengki
Pada mereka yang kuasa...
Pada mereka yang kuasa...

Kita memang hanya orang terpinggir
Hidup di jalanan yang lengang
Hanya Tuhan yang akan menjawab doa kita

Ya Tuhan...
Jangan Kau tinggalkan kami
Beri kami cinta-Mu
Beri kami kelapangan hati
Kepada mereka yang lebih berkuasa...
Sayangilah mereka!
Ampunilah mereka!
Jangan biarkan kami iri pada mereka!
Jangan biarkan kami menyimpan dengki pada mereka!
Tabahkanlah kami...
Tabahkanlah kami, Tuhan...

Selasa, 02 Oktober 2012

UNTUK ZU



Untukmu, Zu…
Emak ingin bertemu!
Ia ingin bercerita banyak hal
Tentang anak laki-lakinya yang sebentar lagi akan jadi milikmu

Jika telah sampai waktunya
Emak akan melepas bocah bengalnya ini kepadamu
Hanya kepadamu, Zu…
Rawatlah ia dengan kasih sayang terbaik yang bisa kau beri
Sekarang hanya kaulah yang ia punya
Logika sederhananya tidak cukup menjalani hidup ini sendirian
Ia butuh kau, Zu…

Pada akhirnya Emak akan menitipkan buah hatinya kepadamu
Si jantan yang ia rawat itu, kini telah menemukan betinanya
Hanya ini pesan Emak untukmu, Zu…
Bersabarlah menghadapinya
Dia terkadang memang suka bertindak bodoh
Amarahnya sering kali lebih panjang dari akalnya
Tapi dia hanyalah bocah kecil Emak, Zu…
Yang keras kepala tapi berhati lembut
Yang selalu egois tapi penuh kasih
Dan sebentar lagi, akan segera jadi bagian dari hari-harimu

Surat ini untukmu, Zu…
Temuilah Emak!
Ia akan bercerita banyak hal
Tentang anak laki-lakinya yang sangat mencintaimu



Agustus 2012

Selasa, 18 September 2012

NIA


 
Surga, ceritakanlah padaku tentangmu!

Terkadang hidup ini memang penuh dengan misteri
Mengapa jalan ceritamu berlaku sedemikian absurd?
Kala langkah menuju cita kau rentas dengan sempurna
Kereta kencana itu malah datang tiba-tiba

Aku mengerti, memang takdir bukanlah pilihan
Saat langit tak mau berbagi rahasia
Maka hidup akan selalu penuh kejutan
Seperti senyummu...
Yang hadir dengan pesona bidadari
Dan hilang dalam senja di pagi hari

Mungkin aku merasa tak cukup puas bersamamu
Mungkin kenangan bukan ganti sepadan bagi hadirmu
Mungkin suara tawa ceriamu terlalu cepat pergi berlalu
Dan mungkin aku terlalu rindu kepadamu

Tapi, siapakah yang mengerti tentang luka?
Saat orang yang terkasih harus menyalami takdir
Tanpa kata ia meninggalkan ku
Tanpa wasiat ia datang menemui-Mu
Dan takdir, memang tak pernah memberi pilihan

Mengenang sudari dan sahabatku tercinta

Mei 09

Kamis, 10 Juni 2010

IRONI

Dalam dingin pelukan malam
Aku mencari arti semua ini
Sesuatu yang tak pernah punya makna
Hanya kata dengan seribu tanya

Raga yang bicara menyulam rasa
Sebuah rindu yang tiada terkata
Hanya kupendam, hanya kusimpan
Seperti bulan di selimuti awan

Kala pagi menyuarakan cita
Aku jadi tak percaya pada hati
Asa itu jadi biasa
Aku jadi tak berguna
Semua sudah biasa

Seperti air mata untaikan kesedihan
Sebuah arti yang tak kan ditemui
Baik di kamus bahasa manapun
Hanya suara yang tak mau bicara
Dengan bahasa diam ia beri jawaban

Seperti pengembara bertanya pada bintang
Berlomba mencari sesuatu tak pasti
Tak tentu arah dan tujuan
Hanya punya satu impian

Cerita lama tentang seorang wanita
Yang punya cinta berjuta makna
Seperti madu yang mahal harganya
Atau api yang membakar kerangka
Hingga tiada bentuk tersisa
Karena rindu yang membunuh jiwa

Lalu waktu memberontak...
Kau disana berjalan mencari bahagia
Aku disini menunggu mati
Lalu bagaimana ku hidup tanpamu...?

Pontianak,
July 04

Selasa, 19 Januari 2010

DARI SEORANG PENYENDIRI KEPADA AYAHNYA

Ingin ku sampaikan ini padamu,
Meski aku tidak terbiasa menjadi melankolis
Di hadapanmu

Rasanya waktu berjalan terlalu cepat bagi kita berdua
Seperti baru kemarin rasanya aku masih menjadi anak-anak
Namun tanpa terasa kini aku sudah menjadi dewasa sepertimu

Kita memang sering tak sejalan
Karena kita sama-sama laki-laki yang keras kepala
Yang tidak mempercayakan takdir kita pada kata orang lain
Dan enggan menyerah sampai akhir

Engkau seperti tidak pernah termakan zaman
Meski bahu kukuhmu mulai surut menahan beban
Namun matamu senantiasa berbinar seperti dahulu
Tiap kali menatap anak-anakmu

Jika kemarin hari atau besok kita berselisih
Aku tahu kau tidak pernah menganggapnya serius
Selain sebagai dinamika pencarian jati diri untukku
Dan dengan mudah kau akan memaafkannya begitu saja

Dalam renungan-renungan kesendirianku
Kuingat lagi petuah-petuahmu abadimu
Yang kuukir di sisi relung hatiku
Pengalaman memang telah mengajarkanmu tentang segalanya
Rumusan kehidupan yang awam aku selami

Engkau adalah Ayahku!!!
Yang selamanya mengalirkan darah di tubuhku
Yang mewariskan namamu di ujung namaku
Agar aku tak salah langkah....

Pontianak, Januari 2010

Minggu, 10 Januari 2010

NYANYIAN KOTA CAHAYA

Wahai kalian penikmat kesunyian!
Yang terasing di rumahnya sendiri
Beginilah warna sejati sang malam
Hitam dan membeku

Kota cahaya bernyanyilah bersamaku
Tentang mimpi-mimpi dan jati diri
Senandungkanlah lagu kemerdekaan
Bagi mereka yang sendirian

Biarkan bintang menemani langkahku
Menjadi penunjuk jalan si pengembara ini
Agar aku tak tersesat dan hilang oleh zaman
Tak jadi pecundang paling menyedihkan

Kabut malam antarkanlah cinta dan rinduku
Yang padanya aku pernah berjanji:
Tidak akan kalah oleh siapapun
Kecuali pada Tuhan dan kematian

Singkawang, Desember 09

Selasa, 29 Desember 2009

PEREMPUAN

Datanglah dengan keindahan
Sesempurna syurga dan cahaya cinta
Mewarnai pelangi dengan irama syahdu
membingkai langit hitam dengan sinar kejora

Engkau adalah kemuliaan
Permata berkilau yang bercahaya
Jagalah dengan sempurna
Dengan kesucian

Maka sujudlah
Tunduklah dalam khusyu’
Engkau memang perempuan
Tapi duduklah di sisi syurga
Jadilah bidadari!

September 2009

Rabu, 11 November 2009

TENTANG DIRIMU

Berikan kepadaku sebuah pertanyaan
Tentang bagaimana kau diciptakan
Kan ku jawab dengan pesan singkat
Yang kan kau baca ketika kau bangun pagi ini

Kau diciptakan dengan keindahan
Dengan aroma syurga dan bidadari

September 09

Selasa, 13 Oktober 2009

SEPANJANG KAPUAS

Tentang rindu,
Engkau tentu lebih mengerti,
Karena kau lebih pengalaman dalam hal cinta
Dari pada aku

Malam ini, aku hanyut dalam pesona Kapuas
Dan nuansa eksotis yang begitu lepas
Namun tetap saja,
Seperti biasa,
Aku merindukanmu

Angin terasa dingin menyentuh kulit
Kuingin engkaulah yang hadir dalam tiap kebekuan
Membetulkan letak jaketku
Kemudian mengajaku makan malam
Dengan menu pilihan yang paling kita suka
Dan menikmati, perjalan kita di sana
Memandang bintang-bintang yang selalu ramah
Pada kita,
Lalu kita duduk, memandang pada Kapuas
Malihat sisiannya yang punya beragam cerita romantis
Sambil mencelupkan kaki kita kedalam arusnya yang deras
Seperti mereka yang sedang asyik dengan cinta
Walau mungkin cinta kita dan mereka sangat berbeda

Biarlah sekarang kunikmati dulu rindu ini
Untuk diriku sendiri
Dan kau tidak perlu tahu
Biar kita hidup dengan cinta kita masing-masing
Kau dengan cintamu
Aku dengan mencintaimu
Tapi percayalah, engkau tidak pernah berjalan sendiri
Ada alunan nafas lain yang menyertaimu
Ada alunan langkah lain yang menyertaimu
Engkau tidak pernah benar-benar berjalan sendiri

Kupejamkan mata, kuhirup harumnya
Dalam desau angin yang menyertaiku
Engkau bercerita tentang rasa rindumu
Adakah aku disana?
Tersenyum dalam mimpi dan khayalanmu
Memberikan harapan dan inspirasi
Dan mengajakmu mencipta sejuta puisi

Sepanjang Kapuas aku melihat kilas wajahmu
Ku baca namamu terukir dalam tiap riak gelombang
Nafasmu terdengar dalam tiap debur di dinding perahu
Dan angin malam mengantarkan senyummu yang hangat

Sepanjang Kapuas...
Entah mengapa, aku teringat padamu


Pontianak,
10 Oktober 09

Minggu, 27 September 2009

SAJAK SEPULUH SEPTEMBER

Bagaimana harus ku bercerita
Tentang hati ini kepadamu

Engkau sendiri mungkin tahu
Bagaimana kisah ini bermula
Karena engkau, adalah tokoh utamanya
Tanpa kau sadari atau tidak

Engkau datang begitu saja dalam hidupku
Tanpa izin, kau mengambil tempat
Di sisi ruang hatiku
dan kemudian hadir
menyapaku dalam mimpi-mimpi

Kemudian semuanya membuat aku resah
Semuanya membuatku gelisah
Tapi rasanya benar-benar indah

Bagaimana harus ku bercerita
Tentang hati ini kepadamu

Entah jika esok hari kita bertemu
Di jalan atau di pasar
Apakah kau akan menyapaku sehangat dahulu?
Saat kita masih duduk di ruang yang sama
Memandang ke arah yang sama
Dan memakai seragam yang sama

Apakah kita masih seperti dahulu
Malu-malu ketika harus berbicara soal cinta
Dan akhirnya semuanya cukup kita simpan
Di hati saja

Sekarang kita sudah dewasa
Dan kita menjadi begitu berbeda
dalam banyak hal
bahkan semua

Besok aku ingin kembali bertemu denganmu
Seperti saat kita masih duduk di ruang yang sama
Memandang ke arah yang sama
Dan memakai seragam yang sama
Seperti dahulu

Sapalah aku dengan suara hangatmu yang khas
Tunggulah aku di muka pintu rumahmu
Memanggil namaku dengan lembut
Dan membawakan ku cangkir dan seduhan teh
Yang kau buat memang hanya untukku
Sandarkanlah kepalamu ke bahu ini
Kemudian berceritalah, aku akan mendengarkannya
Dengan bahasa yang mungkin hanya kita saja yang tahu
Tanpa ada yang mengerti
Tanpa ada yang akan perduli
Selain kita

Hidup kita memang tidak lagi sama
Semuanya memang tidak lagi pernah sama
Kita sudah punya jalan sendiri-sendiri
Engkau dengan hidupmu sendiri
Aku dengan hidupku sendiri
Dan cinta kita
Juga mungkin tidak akan pernah sama

Tapi aku akan jalan terus
Walau kita berbeda dalam cinta dan semuanya
Tersenyum padamu
Dan menunduk malu-malu seperti dahulu
Saat setiap kali kita bertemu muka
Dan berpapasan di lorong panjang depan kelasku

Bagaimana harus ku bercerita
Tentang hati ini kepadamu

Engkau akan tetap ada untukku
Dalam kenangan-kenangan dan harapan
Dan juga hidup yang selalu biru

Pontianak,
10 september 09