Tampilkan postingan dengan label Nyanyian Iman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nyanyian Iman. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Mei 2013

DIALOG AKHIR MALAM

Sang sepi menyeringai ditengah malam

Teruntuk jiwa-jiwa yang menyendiri dalam senyap
Yang tebangun dengan gelisah di puncak sang temaram
Berteman kabut kelam yang jahat dan kejam
Serta sinar rembulan yang kian pudar

Lidah-lidah yang kering ini mulai basah
Ayat-ayat cinta telah didendangkan syahdu
Taubat telah dibenamkan dalam sajadah yang kusam
Hanya ada desah kepedihan, kala mengingat dosa.
Hanya ada desah pengharapan, kala mengingat Engkau.

Hati ini hitam legam,
Terkotori oleh zaman yang kian suram.
Jiwa-jiwa yang tersesat ini mencari jalan pulang
Langkah-langkah bimbang ini perlu tempat tujuan

Entah dengan apa akan ku tebus surga-Mu,
Yang kupunya hanya sujud-sujud sederhana
Dan doa-doa pelan yang terselip dalam masa
Rasanya tak akan cukup,
Kecuali dengan Rahmat-Mu yang agung

Dalam malam yang senyap,
Kening kasar ini tenggelam dalam alas sujud
Aku ingin mendengarkan suara-Mu
Berbisik pada hatiku yang galau

Malam ini memang dingin dan sunyi
Namun aku tak ingin berhenti memuja
Dalam lirih suara, kusebut nama-Mu
Temani keheninganku dalam jaga dan air mata

Malam ini ku ingin Engkau menemani jiwa ku yang resah
Tuntunlah aku melintasi jalan yang  mengarah pada-Mu
Jangan biarkan aku berjalan dalam pekat tanpa arah
Aku sedang tak mau sendirian.

Selasa, 04 Desember 2012

PENCARI CAHAYA

Kekasihku tunjukkan aku jalan
Bawakan aku lilin untuk penerang

Telah cukup aku berteman dengan malam
Sekarang aku ingin Kau bawa aku
Menuju jalan-Mu yang lurus
Agar cepat hati ini menjadi luruh
Dalam sinar gemerlap kasih-Mu

Kekasihku tunjukkan aku jalan
Bawakan aku lilin untuk penerang

Tiap detik yang ku ingat menjadikanku
Pembunuh.....

September 05

Kamis, 14 Juni 2012

MENJUMPAI KEMATIAN


Pada akhirnya semua menjadi teramat sederhana
Seperti dalam sebuah hari yang biasa saja
Saat wujud kematian adalah bayang-bayang
Tak tersentuh, dan aku berjalan seperti sediakala

Tapi ini bukan perkara yang sukar
Bahwa hakikat mentari adalah mencintai horison
Dan senja tidak bisa dimaju mundurkan
Karena waktu bukan seperti jam weker
Yang bisa atur ulang kapan ia akan bersuara

Kapankah diri ini siap menghadap kematian?
Angka-angka itu bukan rumusan matematika
Bahwa detik kematian adalah teka-teki paling hakiki

Aku tidak ingin berada di dunia selamanya
Tapi aku masih ingin hidup seribu tahun lagi
Jika kau bertanya kepadaku,
Kapankah aku akan siap menghadap kematian?
Tidak sekarang
Tidak besok
Tidak lusa
Tidak pula nanti
Karena memang mungkin,
Tak pernah ada kata siap untuk sebuah kematian

Namun ketika pada akhirnya dia datang,
Aku akan tersenyum kepadanya!
Dan kuulurkan tanganku menyambut kehadirannya

Sungguh…
Yang terpenting bukan kapan kematian itu akan menjemputku,
Tapi dimanakah aku saat ia datang menjumpaiku?
Aku tahu, aku tidak bisa lari darinya
Karena waktu akan selalu berjalan maju
Hidup hanyalah menunda kematian

Selasa, 14 Desember 2010

SEBUAH REPERTOIR

Ada suara berisik dari zaman yang sekarat
Jiwa-jiwa telah hilang dalam hutan logika
Nurani terasing dalam hiruk-pikuk peradaban
Pergiliran waktu membuat hati kian hitam
Topeng-topeng sandiwara terserak di mana-mana
Hingar-bingar pesta dunia telah dimulai
Kita larut dan ikut mabuk bersama

Ini adalah drama yang tak layak dipentaskan
Tirai panggung telah dibentangkan
Lampu-lampu telah dinyalakan

Biarlah kisah sunyi ini terekam dalam kenangan
Dalam bait-bait catatan harian masa silam
Tidak perlu ada yang membacanya
Tidak perlu ada yang mendengarnya

Hidup telah menawarkan banyak keindahan
Arus dunia mengajak kita terus hanyut
Semakin dalam…
Semakin tenggelam…

Hingga kita sampai pada satu titik balik
Ketika pintu cahaya telah ditemukan
Memperkenalkan kita tentang mana hitam dan putih
Kadang kita bimbang
Tapi manusia bisa memilih, manusia harus memilih

Skenario mulai dituliskan
Babak baru mulai dimainkan
Para aktor telah ditentukan

Aku bertanya: Sedanga apa kau?
Aku menjawab: Menulis puisi.
Aku bertanya: Untuk siapa?
Aku menjawab: Untuk diriku sendiri
Aku bertanya: Untuk apa?
Aku menjawab: Untuk sebuah drama
Aku bertanya
Aku menjawab
Aku tertawa

Kita sedang mementaskan drama kehidupan
Tiap langkah ini adalah perjuangan
Dan kita sedang berjalan menuju syurga, InsyaAllah

Selasa, 29 Desember 2009

PEREMPUAN

Datanglah dengan keindahan
Sesempurna syurga dan cahaya cinta
Mewarnai pelangi dengan irama syahdu
membingkai langit hitam dengan sinar kejora

Engkau adalah kemuliaan
Permata berkilau yang bercahaya
Jagalah dengan sempurna
Dengan kesucian

Maka sujudlah
Tunduklah dalam khusyu’
Engkau memang perempuan
Tapi duduklah di sisi syurga
Jadilah bidadari!

September 2009

Minggu, 06 Desember 2009

RENUNGAN MALAM LEBARAN

Angin melintas melewati jendela
Bertasbih aku dalam hening
Dalam hampa yang tidak berdaya

Kutanyakan pada diriku sendiri
Tentang tanya yang tidak terjawab

Pada-Mu tempat aku mengadu
Jawaban tanya yang lama tak ketemu
Hati ini sudah letih
Dan Engkaulah hanya satu tumpuan
Dan aku tidak bisa apa-apa
Selain memuja-Mu penuh cinta
Mengaharap kasih-Mu sepenuhnya

Dalam diam aku bertanya
Dalam tanya ku cari jawab
Dalam jawab ku cari Engkau

November 09

Selasa, 24 November 2009

BALADA SEORANG GEMBEL TUA

Di kanan kiri rel yang tak lagi dipakai
Gerbong-gerbong hitam penuh debu membisu
Sepasang mata tua itu kian sayu
Tangan lemahnya menggoreskan tinta hitam
Di garis-garis kehidupan yang belum mau berhenti
Baginya….
Hanya sebuah senyum getir hatinya
Berkata : Aku sudah lelah

Langit mengguyurkan hujan kepadanya
Tanpa perduli….gundahnya yang membiru
Tubuh kurusnya menggigil dalam temaram yang sunyi
Air hujan yang menusuk kulit, membuat hatinya
Yang dingin menjadi beku dan angin mengiris hatinya
Dengan pisau belati yang paling tajam
Rintihan dan air matanya sudah tak lagi sehangat dulu
Ia sudah lelah
Ia ingin berontak
Hatinya ingin teriak

Perut lapar yang tak jemu menyiksanya
Membuat semangat rentanya makin hilang dalam kabut
Jiwanya kian gentar pada dunia
Nyalinya sudah terkubur di dasar bumi
Dan malam membencinya setengah mati

Sudut gerbong kereta tua, tempatnya berhenti
Dari keras, kejamnya realita
Ia sudah lelah….
Detik jam merantai lengannya
Dunia jadi belenggu
Tuhan, pada-Mu ia bertumpu

Dibuatnya refleksi hati di atas kertas putih
Lagu-lagu cinta dijadikannya puisi tak bermakna
Tanpa punya kata-kata yang manis
Hanya jiwanya penuh khidmat meminta :
Wahai malaikat yang terjaga
Bolehkah kupinjam surga?
Aku sudah lelah dengan dunia.

Pontianak,
Oktober 04

Minggu, 08 November 2009

PALESTINA, TANAHKU YANG TERAMPAS

Aku menyaksikan lagi seperti hari-hari biasanya
Duka negeri yang terampas
Dari balik kaca jedela kamarku
Seperti wajah-wajah kecil terluka itu dapat ku sentuh
Seperti suara-suara riuh rendah tangisan dapat kudengar jelas
Memandang lagi Al-Aqsa menjadi tempat mulia
Tempat orang-orang ruku sembahyang
Dan berdoa dalam khusyu
Tanpa ada senapang yang ditodongkan ke kepala

Palestinaku yang hilang
Aku menangis di sisimu, di atas pasir tanahmu
Menyaksikan bayangan syurga di depanku
Negeri orang-orang yang tidak pernah mati
Tempat orang-orang yang tidak pernah kembali
Inilah tanah keabadian
Tempat tinggal duka dan penghuni syurga

Aku memandangmu dari balik kaca jendelaku
Memandang Al-Aqsa sekali lagi
Menangis aku di sisi gerbangnya
Kapan aku kan ke sana
Menyambut panggilan perjuangan
Dari tanahku yang terampas

Pontianak,
Januari ‘09

Kamis, 08 Oktober 2009

TAHAJUDKU

Pada subuh yang datang senyap
Aku bangun….
Sebelum azan panggilan tuhan tiba
Dalam lembut dingin yang beku
Gemericik air wudhu
Ketika menyentuh tanganku
Ku awali munajat itu

Ini adalah hariku yang penuh masalah
Ini adalah hariku yang penuh dosa
Ini adalah hariku yang penuh tanya
Ku adukan semua itu pada-Nya
Sujud panjangku di dalamnya
Air mataku jatuh di sana

Pontianak,
Juli 2009