Tampilkan postingan dengan label Nyanyian Perjuangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nyanyian Perjuangan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Maret 2014

PEJUANG JALANAN

Untuk kerumunan yang menggetarkan para tiran
Hari ini kulihat, kawan
Para pejuang sesungguhnya
Tidak bersenjata apa-apa
Tapi nuraninya nyaring bersuara

Pedang kita adalah semangat
Tameng kita adalah tekad
Ditengah medan perang hitam putih
Kita adalah tentara-tentara kebenaran
Yang berbicara bukan sekedar dengan kata-kata
Kita adalah pembawa tongkat penghakiman
Untuk semua bentuk ketidak adilan

Kita bersuara atas kata-kata yang tak didengar
Kita bergerak untuk takdir yang telah ditentukan
Dan kita hanya akan mati atas nama sebuah perjuangan

Kala suara langit telah dibungkam Tuhan
Kita harus tetap meneriakkan kebenaran
Dan semua kelalim akan mendapat balasan

Hari ini kita datang dalam barisan perjuangan
Mengepung istana emas tempat kecurangan bertakhta
Kita buat para raja-raja tak bisa bermimpi di malam hari
Dan hidup mereka menjadi sebuah neraka di atas bumi

Mereka boleh gentar sekarang,
Mari kita lihat saja
Apakah raja kita yang agung itu,
Berani bertemu muka dengan kita besok pagi?
Karena kita akan terus di sini
Kita akan terus bertahan di sini
Kita akan terus bicara
Dan berharap mati tanpa pusara

Kita adalah serigala untuk kedzaliman
Neraca keadilan telah ditegakkan
Semua yang benar akan selalu menang

Dan yang salah pasti akan mendapat hukuman


Rabu, 26 Juni 2013

MENGEJAR MATAHARI




Hari ini, senja datang seperti biasa
Lalu mentari hilang diantara garis cakrawala
Luka, gelisah, dan lara terakumulasi bersama malam
Tersimpan menjadi mimpi buruk dalam lelap dunia

Saat tubuh lelah ini menuntut berhenti
Jiwa telah tertinggal bersama mimpi-mimpi
Kita meraba-raba cinta yang lama kita lupakan
Mentari yang tak mau berhenti, kita benci setengah mati
Sejarah menjadi drakula penghisap darah

Kita faham, tapi kita menipu diri
Mentari tak pernah hilang
Dia ada di sana, bumilah yang sedang berputar

Saat esok hari membuka lembaran pagi
Tataplah sinar tajam di ufuk timur dengan berani
Berlarilah mengejar matahari
Karena itu tak akan membuatmu berhenti berlari

Nikmatilah setiap misteri dan kejutan
Karena hidup hanya bermuara pada dua pilihan
Kesenangan dan kesedihan
Tapi nikmatilah setiap langkah yang hatimu pilihkan
Karena disanalah berada kebahagian

Hidup bukan tentang hasil dari setiap pilihan yang kita ambil
Hidup adalah tentang pilihan-pilihan itu sendiri

Jumat, 05 April 2013

PRIA DI PEREMPATAN ITU

Pria di perempatan itu tidak pernah aku lupakan

Dia yang pertama berdiri dahulu
Berada di garis depan membawa bendera
Dan spanduk-spanduk sederhana dari pilox
Meninggalkan ruang-ruang kuliah
Diktat-diktat tebal dari berbagai cabang ilmu
Mulai dari ilmu filsafat hingga risalah pergerakan
Juga meja dan kursi yang menjadi pasangan setia
Ia berdiri, bangkit, dan bergerak
Memandu barisan-barisan anti kezaliman
Dengan suara serak yang keluar dari corong
Pengeras suara
Ia berteriak, berseru
Nadanya sumbang dan tak berirama
Tapi bagiku seperti bensin
Meledak dan membakar semua orang

Pria itu tidak pernah aku lupakan
Ia selalu sederhana dalam bergaya
IPK nya tidak lebih dari angka tiga
Tapi caranya berbicara
Dan kata-kata yang datang darinya
Seperti mutiara yang bercahaya

Kutatap fotonya yang terbingkai figura emas
Kuberi salam hormat penuh takzim
Ucapan terima kasih dan doa syukur
Wajahmu tersenyum setia di situ
Tanpa bergeser barang seinci pun
Menatap dunia luar yang bising
Melihat tunas-tunas baru itu tumbuh subur
Menatap kami di sini
Meneruskan perjuanganmu

Pria di perempatan itu benar-benar tidak pernah aku lupakan
Ribuan orang mengantarkan kepergiannya
Aku salah satunya

Selasa, 14 Desember 2010

SEBUAH REPERTOIR

Ada suara berisik dari zaman yang sekarat
Jiwa-jiwa telah hilang dalam hutan logika
Nurani terasing dalam hiruk-pikuk peradaban
Pergiliran waktu membuat hati kian hitam
Topeng-topeng sandiwara terserak di mana-mana
Hingar-bingar pesta dunia telah dimulai
Kita larut dan ikut mabuk bersama

Ini adalah drama yang tak layak dipentaskan
Tirai panggung telah dibentangkan
Lampu-lampu telah dinyalakan

Biarlah kisah sunyi ini terekam dalam kenangan
Dalam bait-bait catatan harian masa silam
Tidak perlu ada yang membacanya
Tidak perlu ada yang mendengarnya

Hidup telah menawarkan banyak keindahan
Arus dunia mengajak kita terus hanyut
Semakin dalam…
Semakin tenggelam…

Hingga kita sampai pada satu titik balik
Ketika pintu cahaya telah ditemukan
Memperkenalkan kita tentang mana hitam dan putih
Kadang kita bimbang
Tapi manusia bisa memilih, manusia harus memilih

Skenario mulai dituliskan
Babak baru mulai dimainkan
Para aktor telah ditentukan

Aku bertanya: Sedanga apa kau?
Aku menjawab: Menulis puisi.
Aku bertanya: Untuk siapa?
Aku menjawab: Untuk diriku sendiri
Aku bertanya: Untuk apa?
Aku menjawab: Untuk sebuah drama
Aku bertanya
Aku menjawab
Aku tertawa

Kita sedang mementaskan drama kehidupan
Tiap langkah ini adalah perjuangan
Dan kita sedang berjalan menuju syurga, InsyaAllah

Kamis, 28 Januari 2010

BERITA DUKA CITA INDONESIA

Kemarin hari di televisi tua buatan cina
Berita duka kembali mengudara
Bercerita tentang negeri tak bernurani

Seorang nenek tewas terinjak saat berebut zakat
Seorang bayi dibuang ibunya di tempat sampah
Seorang bocah gelandangan sepuluh tahun mati di mutilasi

Kemarin hari pula, di layar televisi tua buatan cina pula
Berita duka sekali lagi mengudara
Bercerita pula tentang negeri yang tak bernuarani

Para pejabat dan menteri mendapat mobil mewah baru
Yang uangnya dari pajak rakyat miskin dan melarat
Seperti tak punya rasa malu mereka-mereka itu
Yang membuang 6,7 Triliun uang negara
Kemudian tidak ada yang merasa bertanggung jawab

Kemarin hari lagi, di layar televisi tua buatan cina lagi
Berita duka terus-menerus mengudara
Bercerita lagi tentang negeri yang tak bernuarani

Seorang Ibu di tangkap polisi karena mencuri dua buah coklat
Padahal penilep uang negara miliaran rupiah bebas lari ke luar negeri
Seorang ibu lain di hukum karena menulis keluhannya di surat elektronik
Padahal penyuap polisi dan jaksa tidak juga diadili kesalahannya
Meski dosanya sudah terdengar hampir di setiap telinga

Berita duka di negeri ini tidak berhenti mengudara
Seperti jargon lama Radio kita...
“Sekali di udara tetap di udara”

Sekarang, Mari kita heningkan cipta!

Selamat jalan nurani Indonesia
Semoga suatu saat nanti, engkau akan hidup kembali

Pontianak, Januari 2010

Minggu, 08 November 2009

PALESTINA, TANAHKU YANG TERAMPAS

Aku menyaksikan lagi seperti hari-hari biasanya
Duka negeri yang terampas
Dari balik kaca jedela kamarku
Seperti wajah-wajah kecil terluka itu dapat ku sentuh
Seperti suara-suara riuh rendah tangisan dapat kudengar jelas
Memandang lagi Al-Aqsa menjadi tempat mulia
Tempat orang-orang ruku sembahyang
Dan berdoa dalam khusyu
Tanpa ada senapang yang ditodongkan ke kepala

Palestinaku yang hilang
Aku menangis di sisimu, di atas pasir tanahmu
Menyaksikan bayangan syurga di depanku
Negeri orang-orang yang tidak pernah mati
Tempat orang-orang yang tidak pernah kembali
Inilah tanah keabadian
Tempat tinggal duka dan penghuni syurga

Aku memandangmu dari balik kaca jendelaku
Memandang Al-Aqsa sekali lagi
Menangis aku di sisi gerbangnya
Kapan aku kan ke sana
Menyambut panggilan perjuangan
Dari tanahku yang terampas

Pontianak,
Januari ‘09