Tampilkan postingan dengan label Senandung Persahabatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Senandung Persahabatan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 September 2012

NIA


 
Surga, ceritakanlah padaku tentangmu!

Terkadang hidup ini memang penuh dengan misteri
Mengapa jalan ceritamu berlaku sedemikian absurd?
Kala langkah menuju cita kau rentas dengan sempurna
Kereta kencana itu malah datang tiba-tiba

Aku mengerti, memang takdir bukanlah pilihan
Saat langit tak mau berbagi rahasia
Maka hidup akan selalu penuh kejutan
Seperti senyummu...
Yang hadir dengan pesona bidadari
Dan hilang dalam senja di pagi hari

Mungkin aku merasa tak cukup puas bersamamu
Mungkin kenangan bukan ganti sepadan bagi hadirmu
Mungkin suara tawa ceriamu terlalu cepat pergi berlalu
Dan mungkin aku terlalu rindu kepadamu

Tapi, siapakah yang mengerti tentang luka?
Saat orang yang terkasih harus menyalami takdir
Tanpa kata ia meninggalkan ku
Tanpa wasiat ia datang menemui-Mu
Dan takdir, memang tak pernah memberi pilihan

Mengenang sudari dan sahabatku tercinta

Mei 09

Sabtu, 10 Desember 2011

ILALANG RINDU KAMPUNG KENANGAN

Aku teringat pada ilalang yang aku rindu
Ditengah pelosok kampung penuh kenangan
Kala purnama menyinari malam
Jangkrik bernyanyi dengan berisik

Kami dahulu adalah sahabatmu
Yang berlarian bebas tanpa beban
Bermain bersamamu dalam siang dan malam

Waktu telah mengubah semua
Kau semakin hilang dalam peradaban
Dan aku terbebani dalam tanggung jawab

Kampung ku semakin hilang kini
Orang-orang latah pada istilah modernisasi
Di kampung, berdiri kota
Di kota, kampung dihapuskan dari peradaban
Tembok-tembok dibangun berjajar
Ramah-tamah, tegur-sapa terasa asing sekali

Kampung ini sekarang tidak sama lagi
Zaman telah mengubahnya dalam-dalam
Menyulapnya jadi kian asing dalam pikiranku
Membuat puzzle kenanganku sukar kucocokkan ulang

Kusyukuri kau tetap ada di sana,
Setia menjadi bagian memoriku
Meski kini kau sendiri
Ditinggal oleh sahabat terbaikmu
Anak-anak kecil polos
Yang menghabiskan waktu di bawah mentari
Berpeluh, bermain petak umpet dan kejar-kejaran
Mereka kini memilih berkawan dengan elektronik
Playstation dan Personal Computer

Ilalang di tengah kampung yang tak berkawan dengan zaman
Sebatang kara kini kau tak berpenghuni
Aku datang untuk menemui mu
Mengucap salam dan bernostalgia dengan kenangan
Bercerita tentang sahabat-sahabat masa kecilku
Yang entah dimana mereka kini?

Selasa, 13 Oktober 2009

KAPUAS MALAM

Aku menikmati nuansa malam itu,
Yang dingin dan membekukan
Di sepanjang sungai ini,
Tempat aku kecil lahir dan berlari

Warna malam memang selalu sama
Hitam dan membekukan,
Di sepanjang sungai Kapuas yang melegenda
Diatas perahu kecil penuh tenaga
Melawan laju arus khatulistiwa

Sebuah perjalanan ditengah kota cahaya
Melintas di bawah jembatan baja raksasa
Sinar lampu dari rumah-rumah tepi sungai
Seperti kunang-kunang yang berkerumun ramai
Diantara muda-mudi yang dimabuk cinta
Mewarnai kota dengan karya sempurna

Pada Tuhan ku berucap Syukur khidmat
Kau Telah berikan aku jiwa dan para sahabat
Pencipta keindahan yang kini kunikmati
Tempat aku bersujud dan merebahkan diri

Kuhirup dalam-dalam aromanya
Sungguh bahagia terlahir di tanah ini
Di sisi sungai yang penuh legenda ini

Wahai Kapuas,
Aku telah meminum air mu,
Sampai kapanpun kau tidak akan hilang dari hatiku

Pontianak,
10 Oktober 09