Tampilkan postingan dengan label Nyanyian Anak Negeri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nyanyian Anak Negeri. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Juli 2013

SAJAK TANAH GERSANG


Ada tanda tanya di dinding pencakar langit

Inikah yang namanya kemajuan?
Tatkala tembok angkuh itu berdiri megah
Jalan beton mengular ke segala arah
Sementara para petani kehilangan lahan
Nelayan-nelayan kehilangan tangkapan

Ladang-ladang kini disulap menjadi pabrik
Mahasiswa bermimpi kerja di ruang ber-AC
Manusia-manusia desa minggat ke kota
Mental jongos mewabah setiap kepala
Siapa yang lemah akan diinjak dan dilindas sampai mati
Sungguh, bukan ini yang namanya kemajuan!
Jika bapakku petani,
Aku juga ingin jadi petani
Jika bapakku nelayan,
Aku juga ingin jadi nelayan

Sarjana-sarjana!
Kembalilah ke sawah,
Kembalilah ke lautan,
Jika ladang dan tambak kau tinggalkan
Bersiaplah mati oleh taring kapitalis

Selasa, 08 Januari 2013

HIJAU YANG HILANG



Oh, apa yang sedang terjadi?

Banjir datang lagi dan lagi
Tidak lihatkah kita?
Sampah telah menyumbat segalanya
Menggunung, memenuhi tiap sudut mata
Mengepung kita dari arah mana saja

Hujan tak lagi hadirkan pelangi
Guntur dan badai adalah sang pengganti
Air sudah tak menumbuhkan tanaman
Ternak kita kehausan
Ikan-ikan hilang dalam pencemaran
Sungai tak lagi bermuara di lautan
Danau tak lagi membawa kehidupan

Oh, apa yang telah terjadi?

Senja penuh dengan warna kesedihan
Dengarkah kita malam bernafas dalam luka?
Kunang-kunang tak lagi mau bercerita
Dan rembulan kini berwarna jingga

Tanah gersang!
Tiada lagi cemara, tiada lagi akasia
Hanya kering, kering dan kering
Hutan kita terbakar!
Hutan kita lenyap!
Dan udara dipenuhi asap!

Bumi ini kian letih dan gelisah
Tiada lagi langit biru yang cerah
Tiada lagi gerimis yang basah
Musim apa kiranya sekarang?
Entah, aku telah lama lupa!
Sekarang aku hanya berharap melihat hijau,
Hijau yang telah lama hilang!

Oh, apakah yang terjadi?
Adakah ini bentuk kemarahan Tuhan?
Atau tangan kita yang menyebabkan ini semua?

Kamis, 28 Januari 2010

BERITA DUKA CITA INDONESIA

Kemarin hari di televisi tua buatan cina
Berita duka kembali mengudara
Bercerita tentang negeri tak bernurani

Seorang nenek tewas terinjak saat berebut zakat
Seorang bayi dibuang ibunya di tempat sampah
Seorang bocah gelandangan sepuluh tahun mati di mutilasi

Kemarin hari pula, di layar televisi tua buatan cina pula
Berita duka sekali lagi mengudara
Bercerita pula tentang negeri yang tak bernuarani

Para pejabat dan menteri mendapat mobil mewah baru
Yang uangnya dari pajak rakyat miskin dan melarat
Seperti tak punya rasa malu mereka-mereka itu
Yang membuang 6,7 Triliun uang negara
Kemudian tidak ada yang merasa bertanggung jawab

Kemarin hari lagi, di layar televisi tua buatan cina lagi
Berita duka terus-menerus mengudara
Bercerita lagi tentang negeri yang tak bernuarani

Seorang Ibu di tangkap polisi karena mencuri dua buah coklat
Padahal penilep uang negara miliaran rupiah bebas lari ke luar negeri
Seorang ibu lain di hukum karena menulis keluhannya di surat elektronik
Padahal penyuap polisi dan jaksa tidak juga diadili kesalahannya
Meski dosanya sudah terdengar hampir di setiap telinga

Berita duka di negeri ini tidak berhenti mengudara
Seperti jargon lama Radio kita...
“Sekali di udara tetap di udara”

Sekarang, Mari kita heningkan cipta!

Selamat jalan nurani Indonesia
Semoga suatu saat nanti, engkau akan hidup kembali

Pontianak, Januari 2010

Minggu, 10 Januari 2010

DI NEGERI INI TIDAK ADA LAGI YANG NAMANYA KEADILAN

Kemarin dan hari-hari ini sama saja
Berita yang dibawakan di TV, itu-itu saja
Kasus korupsi yang tak pernah usai
Dan rakyat kelaparan

Kalau besok ada lagi bapak yang mencuri
Untuk makan anaknya
Ia akan masuk berita setelah di pukul massa
Di sisi kanan halaman lima surat kabar senja
Mukanya hancur dan berdarah-darah
Padahal maunya ia, hanya agar anaknya bisa makan
Tapi toh, siapa yang mau peduli

Dan tak jauh dari tempatnya
Mungkin hanya beberapa kilometer
Gubernur, Menteri, atau Presiden
Makan hingga perutnya kenyang dan buncit
Lalu tidur dengan permaisurinya yang cantik
Uangnya dari pajak rakyat
Termasuk dari bapak tadi, Si maling yang babak belur
Untuk cari makan anaknya

Si maling masuk penjara, mendekam berbulan-tahun
Kerena si anak merengek minta makan
Dia memang salah, mencuri tetap saja dosa
Tapi kemarin, Gubernurnya beli mobil baru
Dengan uang entah dari mana
Menterinya punya rumah baru dari
Bonus gaib sana-sini
Presidennya tidak usah dibicarakan lagi
Entah ada atau tidak penjara untuk mereka
Padahal mereka sudah terima gaji
Yang asalnya dari pajak rakyat
Pajak, kalau tak mau dibilang memeras
Karena semboyan yang dari rakyat
Untuk rakyat itu,
Melulu dari rakyat dan tak pernah
Dirasa untuk rakyat
Semuanya akhirnya membuncitkan perut penguasa

Sekarang kita tanya,
Dimanakah keadilan itu ?

Agustus 06

Rabu, 04 November 2009

APAKAH SERIUS ?

Ada satu pertanyaan penting
Apakah kita serius,
Menjadi sebuah Negara
Yang bernama Indonesia?

Kalau begitu bagaimana kita bercerita
Tentang ironi yang ada di mana-mana

Penegak hukum tidak perduli dengan hukum
Korupsi terus dipelihara dan ditutup-tutupi
Dan penentangnya dikebiri sampai mati
Disumbat rezekinya dan salahnya di cari-cari

Para Pejabatnya juga tidak punya malu-malu lagi
Belum juga menepati janji sudah minta naik gaji
Padahal seminggu sebelum ini kita lihat di televisi
Seorang TKI pulang kembali ke negeri ini
Dengan tubuh kaku terbaring dalam peti mati

Wakil rakyatnya sekarang berulah lain lagi
Tidak punya taji untuk memberi aksi
Karena Presidennya adalah teman koalisi
Dan para mentrinya kawan separtai sendiri

Padahal rakyat ingin segera meminta bukti
Dari janji yang di berikan kemarin hari
Ketika menjelang pemilu delapan juli
Agar pemilu itu yang sudah kesekian kali
Yang menghabisakan dana banyak sekali
Tidak jadi sia-sia dan percuma lagi
Apalagi pelaksanaannya yang tidak rapi
Dan kejujurannya di ragukan sana-sini

Aset negara satu-satu di jual tanpa rasa rugi
Dari BUMN, Hasil bumi, bahkan harga diri
Lama-lama Indonesia jadi milik luar negeri

Nanti jangan-jangan suatu saat kita akan melihat,
Pulau Jawa jadi punya Amerika
Sumatra jadi punya China
Lalu Papua punya Australia
Sulawesi punya Filipina
Dan Kalimantan diakui oleh Malaysia.

Kalau sudah begini kita harus bertanya lagi
Apakah kita sudah serius selama ini
Menjadi sebuah negara?
Atau selama ini kita hanya main-main
Hanya main-main menjadi negara
Yang bernama Indonesia

Padahal dahulu para pahlawan kita
Sudah serius memperjuangkan Indonesia
Sudah serius membangun negara Indonesia
Bahkan mereka telah berkorban segalanya
Untuk negara yang bernama Indonesia

Lalu, kalau memang kita hanya main-main
Menjadi negara yang bernama Indonesia
Apa yang akan kita katakan pada mereka?

Pontianak
November 09

UNTUKMU PEMUDA

Kita harus bergerak sekarang
Bangsa ini sudah sedemikian sakitnya
Dan perlu obat secepatnya
Maka kita tidak bisa lagi hanya diam
Karena kita adalah pemuda!
Maka kita tidak boleh lagi hanya diam

Suara keadilan menanti kita untuk berdengung lagi
Sejarah menunggu langkah kita yang berderap kencang
Dalam barisan yang tidak pernah habis
Menggema hingga ke setiap penjuru nusantara
Dan mereka yang mendengarnya
Yang punya nurani dan rasa peduli
Akan turut serta mengikuti

Kita adalah penanggung amanah besar
Pemegang tongkat estafet dari mereka,
Dari Sukarno, dari Moh. Yamin, dari WR Supratman
Dari Syahrir, dari Bung Tomo, dari Chairil Anwar
Dari Soe Hok Gie, dari Taufiq Ismail, dari Rendra,
dan semua para aktivis keadilan ‘66
Dari para pendemo yang menduduki gedung MPR
Dan meminta Soeharto untuk turun dari jabatannya
Pada pertengahan tahun 1998 yang kacau
Dan mereka kini menitipkan cita-citanya kepada kita

Sudah seharusnya kita tidak pernah berhenti
Karena kita adalah pemuda!
Memang seharusnya kita tidak boleh berhenti
Mari kita catat kisah kita di negeri ini
Dengan tinta emas sejarah....

Pontianak,
Oktober ‘09

Kamis, 22 Oktober 2009

PILPRES

Delapan juli dua ribu sembilan
Hampir pukul sepuluh
Datang ke TPS di dekat rumah
Mendaftar kepada petugas yang tetangga sendiri
Menyerahkan undangan yang sampai kemarin hari

Diberi surat suara, lalu masuk ke dalam bilik
Kubuka surat suaranya lebar-lebar
Sambil mengingat janji mereka ketika kampanye
Ku contreng satu gambar
Dengan pesan yang kumintakan pada Tuhan
Aku tidak mau ditipu lagi
Kalau dia ingkar janji
Jangan jadikan ia pemimpin kami

Kulipat surat suara, kumasukkan dalam kotaknya
Di ujung jari, kucelupkan tinta
Besok, pengumuman pemenangnya aku nanti
Dan aku tidak mau di tipu lagi


Juli 09

Selasa, 13 Oktober 2009

KOTA PADANG DI SUATU SENJA

Petaka di senja hari
Saat bumi bergetar hebat
Dan kota Padang terkubur dalam tanah

Lihatlah kini, sebuah irama pilu kembali di mainkan
Dan terdengar ke setiap jendela rumah kita
Bumi telah menjadi tempat istirahat mereka
Mengubur para manusia hidup-hidup

Mari, mari, kita hening cipta barang sesaat
Kita turunkan bendera kita di tengah tiangnya
Rasanya kita punya banyak alasan
Untuk menyalahkan diri kita
Atas semua ini

Lihatlah, lihatlah mereka yang kebingungan
Yang telah terdampar diantara hidup dan mati
Mereka bertanya apa yang terjadi pada kotanya
Lalu bagaimana kita bercerita?
Dari mana kisah ini harus kita mulakan?
Apakah dari tangisan yang terdengar
Seorang ibu kehilangan anaknya
Dua ibu kehilangan anaknya
Sepuluh ibu kehilangan anaknya
Seratus ibu kehilangan anaknya
Ribuan ibu kehilangan anaknya

Lalu lihatlah!
Air mata mereka mengetuk nurani negeri
Seluruh Indonesia kehilangan anaknya
Seluruh Indonesia berduka

Petaka di senja hari
Saat bumi bergetar hebat
Dan kota Padang terkubur dalam tanah


Pontianak
Oktober 09

KAMI YANG DI BESARKAN DI ANTARA KORUPSI, PORNOGRAFI DAN RASA BENCI

Berceritalah kami tentang bagaimana kami di besarkan
Diantara korupsi
Diantara pornografi
Diantara rasa benci

Kami dari kecil telah diajarkan berkorupsi
Dengan mencontek pada ujian berkali-kali
Kami dari kecil telah dijejali pornografi
Oleh layar kaca televisi yang kami temui setiap hari
Kami dari kecil telah di tanamkan untuk saling benci
Dengan memusuhi orang lain dan memutuskan silaturahmi

Inilah kami anak negeri ini
Dibesarkan dengan semua ini
Kami yang awalnya tidak mengerti
Yang bersih, polos dan suci
Kini jadi begini

Silahkan anda berintrospeksi
Wahai bapak dan ibu kami
Moral kami sudah rusak di sana-sini
Negeri ini tak bisa lagi berharap pada kami
Dan kalian punya saham besar sekali untuk semua ini

Oktober 09

Minggu, 27 September 2009

AKU MEMANG TIDAK MENGENALMU, TAPI KITA BERDIRI DI TANAH YANG SAMA

Untuk mereka yang tidak pernah mau tunduk
pada ketidakadilan

Kita memang tidak saling mengenal,
Tapi kita hidup dalam jiwa yang sama,
Dalam cita-cita yang tidak ada beda,
Dan tidak sudi tunduk pada musuh yang sama
Bernama kedzaliman

Berdiri kita di garis depan,
Kau dengan barisanmu
Aku dengan barisanku,
Kita berteriak!
Dengan teriakan yang sama,
Pada musuh yang sama,
Yang bergetar ketika melihat kita
Begitu kokohnya dalam keteguhan,
Walau tanpa di bayar sekedarnya
Dan moncong senapan di arahkan ke muka kita
Karena kita adalah orang muda
Yang tidak pernah takut mati

Aku memang tidak mengenalmu,
Tapi aku adalah kau,
Kau adalah aku,
Semua itu hanya kerena satu hal sederhana,
Karena kita punya satu persamaan saja,
Kita berdiri di tanah yang sama
Kita menjejak di bumi yang sama,
Negeri Indonesia.

Bila kuceritakan pada anak cucuku nanti,
Tentang perjuangan hari ini,
Semoga mereka mengerti
Bahwa ini bukanlah panggung puja-puji
Bukan tempat mencari kehidupan sendiri,
Tapi aku datang ke sini,
Hanya karena panggilan nurani
Yang kudengar dan kuturuti

Seperti yang juga kau lakukan
Dan kau wariskan kini di jiwa kami
Pemuda negeri ini

Pontianak,
september 09

AKU ADALAH ORANG-ORANG HILANG

Aku adalah orang-orang hilang…..
Terperangkap dalam kesemuan yang aku benci

Inilah ketidakadilan memelekku erat
Dan enggan melepaskanku barang sejenak
Mereka adalah tiran
Dan aku bukan pemberontak
Aku hanya ingin bergerak

Aku adalah orang-orang hilang......
Tersesat pada hidup dan mati
Cari aku di tempat sepi
Di rumah kesunyian dan senyap bertakhta
Jadi raja
Dan kita bisa kontempolasi
Sepuasnya, tanpa ada yang membataskan
Kita bertanya pada diri kita
Dan aku bertanya
Pada diri ku
Orang Hilang-kah Aku?

Aku adalah orang-orang hilang....
Tergolek di pusara kejujuran
Tengoklah jelas-jelas
Keadilan itu sudah kering dari tanah ini
Dan kebenaran sedang kemarau untuk menetes ke mari
Tanaman kita mati, ternak kitapun mati,
kejujuran kita mati, idealisme kitapun mati
setelah itu kita jugapun akan mati

Aku adalah orang-orang hilang....
Di negeri yang sekarat ini

Tapi aku heran, tidak adakah orang lain, yang juga menyadarinya
Seperti aku?

Pontianak,
September 2009

SAJAK GENERASI MUDA UNTUK BANGSA

Lama sudah rasanya kami dibohongi oleh kata-kata
Yang tidak juga kami temukan di dalam dunia nyata
Ini negeri, paling kaya di seluruh dunia,
Baik dari sumber daya, flora fauna maupun budaya.

Bertahun-tahun juga kami diyakinkan setengah mati
Bahwa merdekanya bangsa ini sudah terjadi lama sekali
Yang nyata tidak juga kami temukan kini,
Hanya berganti rupa dengan sedikit modifikasi
Penjajahan itu,
Kalau dahulu ia bisa di lawan dengan bedil dan peluru,
Tapi penjajah yang sekarang tidak bisa ditembak mati.
Karena bentuknya tidak ada, tapi sungguh-sungguh nyata.
Dan penjajahan itu sekarang menjelma segala rupa,
Baik disadari atau tidak.
Baik dilawan maupun tidak,
Bahkan malah ada yang memeliharanya
Dijaga-jaganya, biar negeri ini
Tidak juga merdeka,
Dan mereka yang dapat untungnya

Rasanya sekarang sudah saatnya kita bergerak,
Bukan lagi hanya diam atau bicara saja
Tapi benar-benar bergerak
Dengan benar-benar gerak
Dengar itu, langkah kami yang berderak,
Muda, kreatif, sangat berbahaya,
Hingga orang banyak yang bertanya
Tentang apa yang bisa kami lakukan

Biar kami jawab dengan pasti:
Dahulu di negeri ini, orang muda yang pertama
Teriak MERDEKA!!!
Dan sekarang, biar kami yang akan sekali lagi teriak MERDEKA!!!

Pontianak,
September 2009