Tampilkan postingan dengan label Nyanyian Anak Negeri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nyanyian Anak Negeri. Tampilkan semua postingan
Rabu, 31 Juli 2013
SAJAK TANAH GERSANG
Ada tanda tanya di dinding pencakar langit
Inikah yang namanya kemajuan?
Tatkala tembok angkuh itu berdiri megah
Jalan beton mengular ke segala arah
Sementara para petani kehilangan lahan
Nelayan-nelayan kehilangan tangkapan
Ladang-ladang kini disulap menjadi pabrik
Mahasiswa bermimpi kerja di ruang ber-AC
Manusia-manusia desa minggat ke kota
Mental jongos mewabah setiap kepala
Siapa yang lemah akan diinjak dan dilindas sampai mati
Sungguh, bukan ini yang namanya kemajuan!
Jika bapakku petani,
Aku juga ingin jadi petani
Jika bapakku nelayan,
Aku juga ingin jadi nelayan
Sarjana-sarjana!
Kembalilah ke sawah,
Kembalilah ke lautan,
Jika ladang dan tambak kau tinggalkan
Bersiaplah mati oleh taring kapitalis
Selasa, 08 Januari 2013
HIJAU YANG HILANG
Oh, apa yang sedang
terjadi?
Banjir datang lagi dan
lagi
Tidak lihatkah kita?
Sampah telah menyumbat
segalanya
Menggunung, memenuhi
tiap sudut mata
Mengepung kita dari
arah mana saja
Hujan tak lagi hadirkan
pelangi
Guntur dan badai adalah sang pengganti
Air sudah tak
menumbuhkan tanaman
Ternak kita kehausan
Ikan-ikan hilang dalam
pencemaran
Sungai tak lagi
bermuara di lautan
Danau tak lagi membawa
kehidupan
Oh, apa yang telah
terjadi?
Senja penuh dengan
warna kesedihan
Dengarkah kita malam
bernafas dalam luka?
Kunang-kunang tak lagi
mau bercerita
Dan rembulan kini
berwarna jingga
Tanah gersang!
Tiada lagi cemara,
tiada lagi akasia
Hanya kering, kering
dan kering
Hutan kita terbakar!
Hutan kita lenyap!
Dan udara dipenuhi
asap!
Bumi ini kian letih
dan gelisah
Tiada lagi langit biru
yang cerah
Tiada lagi gerimis
yang basah
Musim apa kiranya sekarang?
Entah, aku telah lama
lupa!
Sekarang aku hanya
berharap melihat hijau,
Hijau yang telah lama hilang!
Oh, apakah yang terjadi?
Adakah ini bentuk
kemarahan Tuhan?
Atau tangan kita yang
menyebabkan ini semua?
Label:
Nyanyian Anak Negeri,
Teriakan Hati
Kamis, 28 Januari 2010
BERITA DUKA CITA INDONESIA
Kemarin hari di televisi tua buatan cina
Berita duka kembali mengudara
Bercerita tentang negeri tak bernurani
Seorang nenek tewas terinjak saat berebut zakat
Seorang bayi dibuang ibunya di tempat sampah
Seorang bocah gelandangan sepuluh tahun mati di mutilasi
Kemarin hari pula, di layar televisi tua buatan cina pula
Berita duka sekali lagi mengudara
Bercerita pula tentang negeri yang tak bernuarani
Para pejabat dan menteri mendapat mobil mewah baru
Yang uangnya dari pajak rakyat miskin dan melarat
Seperti tak punya rasa malu mereka-mereka itu
Yang membuang 6,7 Triliun uang negara
Kemudian tidak ada yang merasa bertanggung jawab
Kemarin hari lagi, di layar televisi tua buatan cina lagi
Berita duka terus-menerus mengudara
Bercerita lagi tentang negeri yang tak bernuarani
Seorang Ibu di tangkap polisi karena mencuri dua buah coklat
Padahal penilep uang negara miliaran rupiah bebas lari ke luar negeri
Seorang ibu lain di hukum karena menulis keluhannya di surat elektronik
Padahal penyuap polisi dan jaksa tidak juga diadili kesalahannya
Meski dosanya sudah terdengar hampir di setiap telinga
Berita duka di negeri ini tidak berhenti mengudara
Seperti jargon lama Radio kita...
“Sekali di udara tetap di udara”
Sekarang, Mari kita heningkan cipta!
Selamat jalan nurani Indonesia
Semoga suatu saat nanti, engkau akan hidup kembali
Berita duka kembali mengudara
Bercerita tentang negeri tak bernurani
Seorang nenek tewas terinjak saat berebut zakat
Seorang bayi dibuang ibunya di tempat sampah
Seorang bocah gelandangan sepuluh tahun mati di mutilasi
Kemarin hari pula, di layar televisi tua buatan cina pula
Berita duka sekali lagi mengudara
Bercerita pula tentang negeri yang tak bernuarani
Para pejabat dan menteri mendapat mobil mewah baru
Yang uangnya dari pajak rakyat miskin dan melarat
Seperti tak punya rasa malu mereka-mereka itu
Yang membuang 6,7 Triliun uang negara
Kemudian tidak ada yang merasa bertanggung jawab
Kemarin hari lagi, di layar televisi tua buatan cina lagi
Berita duka terus-menerus mengudara
Bercerita lagi tentang negeri yang tak bernuarani
Seorang Ibu di tangkap polisi karena mencuri dua buah coklat
Padahal penilep uang negara miliaran rupiah bebas lari ke luar negeri
Seorang ibu lain di hukum karena menulis keluhannya di surat elektronik
Padahal penyuap polisi dan jaksa tidak juga diadili kesalahannya
Meski dosanya sudah terdengar hampir di setiap telinga
Berita duka di negeri ini tidak berhenti mengudara
Seperti jargon lama Radio kita...
“Sekali di udara tetap di udara”
Sekarang, Mari kita heningkan cipta!
Selamat jalan nurani Indonesia
Semoga suatu saat nanti, engkau akan hidup kembali
Pontianak, Januari 2010
Minggu, 10 Januari 2010
DI NEGERI INI TIDAK ADA LAGI YANG NAMANYA KEADILAN
Kemarin dan hari-hari ini sama saja
Berita yang dibawakan di TV, itu-itu saja
Kasus korupsi yang tak pernah usai
Dan rakyat kelaparan
Kalau besok ada lagi bapak yang mencuri
Untuk makan anaknya
Ia akan masuk berita setelah di pukul massa
Di sisi kanan halaman lima surat kabar senja
Mukanya hancur dan berdarah-darah
Padahal maunya ia, hanya agar anaknya bisa makan
Tapi toh, siapa yang mau peduli
Dan tak jauh dari tempatnya
Mungkin hanya beberapa kilometer
Gubernur, Menteri, atau Presiden
Makan hingga perutnya kenyang dan buncit
Lalu tidur dengan permaisurinya yang cantik
Uangnya dari pajak rakyat
Termasuk dari bapak tadi, Si maling yang babak belur
Untuk cari makan anaknya
Si maling masuk penjara, mendekam berbulan-tahun
Kerena si anak merengek minta makan
Dia memang salah, mencuri tetap saja dosa
Tapi kemarin, Gubernurnya beli mobil baru
Dengan uang entah dari mana
Menterinya punya rumah baru dari
Bonus gaib sana-sini
Presidennya tidak usah dibicarakan lagi
Entah ada atau tidak penjara untuk mereka
Padahal mereka sudah terima gaji
Yang asalnya dari pajak rakyat
Pajak, kalau tak mau dibilang memeras
Karena semboyan yang dari rakyat
Untuk rakyat itu,
Melulu dari rakyat dan tak pernah
Dirasa untuk rakyat
Semuanya akhirnya membuncitkan perut penguasa
Sekarang kita tanya,
Dimanakah keadilan itu ?
Berita yang dibawakan di TV, itu-itu saja
Kasus korupsi yang tak pernah usai
Dan rakyat kelaparan
Kalau besok ada lagi bapak yang mencuri
Untuk makan anaknya
Ia akan masuk berita setelah di pukul massa
Di sisi kanan halaman lima surat kabar senja
Mukanya hancur dan berdarah-darah
Padahal maunya ia, hanya agar anaknya bisa makan
Tapi toh, siapa yang mau peduli
Dan tak jauh dari tempatnya
Mungkin hanya beberapa kilometer
Gubernur, Menteri, atau Presiden
Makan hingga perutnya kenyang dan buncit
Lalu tidur dengan permaisurinya yang cantik
Uangnya dari pajak rakyat
Termasuk dari bapak tadi, Si maling yang babak belur
Untuk cari makan anaknya
Si maling masuk penjara, mendekam berbulan-tahun
Kerena si anak merengek minta makan
Dia memang salah, mencuri tetap saja dosa
Tapi kemarin, Gubernurnya beli mobil baru
Dengan uang entah dari mana
Menterinya punya rumah baru dari
Bonus gaib sana-sini
Presidennya tidak usah dibicarakan lagi
Entah ada atau tidak penjara untuk mereka
Padahal mereka sudah terima gaji
Yang asalnya dari pajak rakyat
Pajak, kalau tak mau dibilang memeras
Karena semboyan yang dari rakyat
Untuk rakyat itu,
Melulu dari rakyat dan tak pernah
Dirasa untuk rakyat
Semuanya akhirnya membuncitkan perut penguasa
Sekarang kita tanya,
Dimanakah keadilan itu ?
Agustus 06
Rabu, 04 November 2009
APAKAH SERIUS ?
Ada satu pertanyaan penting
Apakah kita serius,
Menjadi sebuah Negara
Yang bernama Indonesia?
Kalau begitu bagaimana kita bercerita
Tentang ironi yang ada di mana-mana
Penegak hukum tidak perduli dengan hukum
Korupsi terus dipelihara dan ditutup-tutupi
Dan penentangnya dikebiri sampai mati
Disumbat rezekinya dan salahnya di cari-cari
Para Pejabatnya juga tidak punya malu-malu lagi
Belum juga menepati janji sudah minta naik gaji
Padahal seminggu sebelum ini kita lihat di televisi
Seorang TKI pulang kembali ke negeri ini
Dengan tubuh kaku terbaring dalam peti mati
Wakil rakyatnya sekarang berulah lain lagi
Tidak punya taji untuk memberi aksi
Karena Presidennya adalah teman koalisi
Dan para mentrinya kawan separtai sendiri
Padahal rakyat ingin segera meminta bukti
Dari janji yang di berikan kemarin hari
Ketika menjelang pemilu delapan juli
Agar pemilu itu yang sudah kesekian kali
Yang menghabisakan dana banyak sekali
Tidak jadi sia-sia dan percuma lagi
Apalagi pelaksanaannya yang tidak rapi
Dan kejujurannya di ragukan sana-sini
Aset negara satu-satu di jual tanpa rasa rugi
Dari BUMN, Hasil bumi, bahkan harga diri
Lama-lama Indonesia jadi milik luar negeri
Nanti jangan-jangan suatu saat kita akan melihat,
Pulau Jawa jadi punya Amerika
Sumatra jadi punya China
Lalu Papua punya Australia
Sulawesi punya Filipina
Dan Kalimantan diakui oleh Malaysia.
Kalau sudah begini kita harus bertanya lagi
Apakah kita sudah serius selama ini
Menjadi sebuah negara?
Atau selama ini kita hanya main-main
Hanya main-main menjadi negara
Yang bernama Indonesia
Padahal dahulu para pahlawan kita
Sudah serius memperjuangkan Indonesia
Sudah serius membangun negara Indonesia
Bahkan mereka telah berkorban segalanya
Untuk negara yang bernama Indonesia
Lalu, kalau memang kita hanya main-main
Menjadi negara yang bernama Indonesia
Apa yang akan kita katakan pada mereka?
Apakah kita serius,
Menjadi sebuah Negara
Yang bernama Indonesia?
Kalau begitu bagaimana kita bercerita
Tentang ironi yang ada di mana-mana
Penegak hukum tidak perduli dengan hukum
Korupsi terus dipelihara dan ditutup-tutupi
Dan penentangnya dikebiri sampai mati
Disumbat rezekinya dan salahnya di cari-cari
Para Pejabatnya juga tidak punya malu-malu lagi
Belum juga menepati janji sudah minta naik gaji
Padahal seminggu sebelum ini kita lihat di televisi
Seorang TKI pulang kembali ke negeri ini
Dengan tubuh kaku terbaring dalam peti mati
Wakil rakyatnya sekarang berulah lain lagi
Tidak punya taji untuk memberi aksi
Karena Presidennya adalah teman koalisi
Dan para mentrinya kawan separtai sendiri
Padahal rakyat ingin segera meminta bukti
Dari janji yang di berikan kemarin hari
Ketika menjelang pemilu delapan juli
Agar pemilu itu yang sudah kesekian kali
Yang menghabisakan dana banyak sekali
Tidak jadi sia-sia dan percuma lagi
Apalagi pelaksanaannya yang tidak rapi
Dan kejujurannya di ragukan sana-sini
Aset negara satu-satu di jual tanpa rasa rugi
Dari BUMN, Hasil bumi, bahkan harga diri
Lama-lama Indonesia jadi milik luar negeri
Nanti jangan-jangan suatu saat kita akan melihat,
Pulau Jawa jadi punya Amerika
Sumatra jadi punya China
Lalu Papua punya Australia
Sulawesi punya Filipina
Dan Kalimantan diakui oleh Malaysia.
Kalau sudah begini kita harus bertanya lagi
Apakah kita sudah serius selama ini
Menjadi sebuah negara?
Atau selama ini kita hanya main-main
Hanya main-main menjadi negara
Yang bernama Indonesia
Padahal dahulu para pahlawan kita
Sudah serius memperjuangkan Indonesia
Sudah serius membangun negara Indonesia
Bahkan mereka telah berkorban segalanya
Untuk negara yang bernama Indonesia
Lalu, kalau memang kita hanya main-main
Menjadi negara yang bernama Indonesia
Apa yang akan kita katakan pada mereka?
Pontianak
November 09
November 09
UNTUKMU PEMUDA
Kita harus bergerak sekarang
Bangsa ini sudah sedemikian sakitnya
Dan perlu obat secepatnya
Maka kita tidak bisa lagi hanya diam
Karena kita adalah pemuda!
Maka kita tidak boleh lagi hanya diam
Suara keadilan menanti kita untuk berdengung lagi
Sejarah menunggu langkah kita yang berderap kencang
Dalam barisan yang tidak pernah habis
Menggema hingga ke setiap penjuru nusantara
Dan mereka yang mendengarnya
Yang punya nurani dan rasa peduli
Akan turut serta mengikuti
Kita adalah penanggung amanah besar
Pemegang tongkat estafet dari mereka,
Dari Sukarno, dari Moh. Yamin, dari WR Supratman
Dari Syahrir, dari Bung Tomo, dari Chairil Anwar
Dari Soe Hok Gie, dari Taufiq Ismail, dari Rendra,
dan semua para aktivis keadilan ‘66
Dari para pendemo yang menduduki gedung MPR
Dan meminta Soeharto untuk turun dari jabatannya
Pada pertengahan tahun 1998 yang kacau
Dan mereka kini menitipkan cita-citanya kepada kita
Sudah seharusnya kita tidak pernah berhenti
Karena kita adalah pemuda!
Memang seharusnya kita tidak boleh berhenti
Mari kita catat kisah kita di negeri ini
Dengan tinta emas sejarah....
Bangsa ini sudah sedemikian sakitnya
Dan perlu obat secepatnya
Maka kita tidak bisa lagi hanya diam
Karena kita adalah pemuda!
Maka kita tidak boleh lagi hanya diam
Suara keadilan menanti kita untuk berdengung lagi
Sejarah menunggu langkah kita yang berderap kencang
Dalam barisan yang tidak pernah habis
Menggema hingga ke setiap penjuru nusantara
Dan mereka yang mendengarnya
Yang punya nurani dan rasa peduli
Akan turut serta mengikuti
Kita adalah penanggung amanah besar
Pemegang tongkat estafet dari mereka,
Dari Sukarno, dari Moh. Yamin, dari WR Supratman
Dari Syahrir, dari Bung Tomo, dari Chairil Anwar
Dari Soe Hok Gie, dari Taufiq Ismail, dari Rendra,
dan semua para aktivis keadilan ‘66
Dari para pendemo yang menduduki gedung MPR
Dan meminta Soeharto untuk turun dari jabatannya
Pada pertengahan tahun 1998 yang kacau
Dan mereka kini menitipkan cita-citanya kepada kita
Sudah seharusnya kita tidak pernah berhenti
Karena kita adalah pemuda!
Memang seharusnya kita tidak boleh berhenti
Mari kita catat kisah kita di negeri ini
Dengan tinta emas sejarah....
Pontianak,
Oktober ‘09
Oktober ‘09
Kamis, 22 Oktober 2009
PILPRES
Delapan juli dua ribu sembilan
Hampir pukul sepuluh
Datang ke TPS di dekat rumah
Mendaftar kepada petugas yang tetangga sendiri
Menyerahkan undangan yang sampai kemarin hari
Diberi surat suara, lalu masuk ke dalam bilik
Kubuka surat suaranya lebar-lebar
Sambil mengingat janji mereka ketika kampanye
Ku contreng satu gambar
Dengan pesan yang kumintakan pada Tuhan
Aku tidak mau ditipu lagi
Kalau dia ingkar janji
Jangan jadikan ia pemimpin kami
Kulipat surat suara, kumasukkan dalam kotaknya
Di ujung jari, kucelupkan tinta
Besok, pengumuman pemenangnya aku nanti
Dan aku tidak mau di tipu lagi
Hampir pukul sepuluh
Datang ke TPS di dekat rumah
Mendaftar kepada petugas yang tetangga sendiri
Menyerahkan undangan yang sampai kemarin hari
Diberi surat suara, lalu masuk ke dalam bilik
Kubuka surat suaranya lebar-lebar
Sambil mengingat janji mereka ketika kampanye
Ku contreng satu gambar
Dengan pesan yang kumintakan pada Tuhan
Aku tidak mau ditipu lagi
Kalau dia ingkar janji
Jangan jadikan ia pemimpin kami
Kulipat surat suara, kumasukkan dalam kotaknya
Di ujung jari, kucelupkan tinta
Besok, pengumuman pemenangnya aku nanti
Dan aku tidak mau di tipu lagi
Juli 09
Selasa, 13 Oktober 2009
KOTA PADANG DI SUATU SENJA
Petaka di senja hari
Saat bumi bergetar hebat
Dan kota Padang terkubur dalam tanah
Lihatlah kini, sebuah irama pilu kembali di mainkan
Dan terdengar ke setiap jendela rumah kita
Bumi telah menjadi tempat istirahat mereka
Mengubur para manusia hidup-hidup
Mari, mari, kita hening cipta barang sesaat
Kita turunkan bendera kita di tengah tiangnya
Rasanya kita punya banyak alasan
Untuk menyalahkan diri kita
Atas semua ini
Lihatlah, lihatlah mereka yang kebingungan
Yang telah terdampar diantara hidup dan mati
Mereka bertanya apa yang terjadi pada kotanya
Lalu bagaimana kita bercerita?
Dari mana kisah ini harus kita mulakan?
Apakah dari tangisan yang terdengar
Seorang ibu kehilangan anaknya
Dua ibu kehilangan anaknya
Sepuluh ibu kehilangan anaknya
Seratus ibu kehilangan anaknya
Ribuan ibu kehilangan anaknya
Lalu lihatlah!
Air mata mereka mengetuk nurani negeri
Seluruh Indonesia kehilangan anaknya
Seluruh Indonesia berduka
Petaka di senja hari
Saat bumi bergetar hebat
Dan kota Padang terkubur dalam tanah
Saat bumi bergetar hebat
Dan kota Padang terkubur dalam tanah
Lihatlah kini, sebuah irama pilu kembali di mainkan
Dan terdengar ke setiap jendela rumah kita
Bumi telah menjadi tempat istirahat mereka
Mengubur para manusia hidup-hidup
Mari, mari, kita hening cipta barang sesaat
Kita turunkan bendera kita di tengah tiangnya
Rasanya kita punya banyak alasan
Untuk menyalahkan diri kita
Atas semua ini
Lihatlah, lihatlah mereka yang kebingungan
Yang telah terdampar diantara hidup dan mati
Mereka bertanya apa yang terjadi pada kotanya
Lalu bagaimana kita bercerita?
Dari mana kisah ini harus kita mulakan?
Apakah dari tangisan yang terdengar
Seorang ibu kehilangan anaknya
Dua ibu kehilangan anaknya
Sepuluh ibu kehilangan anaknya
Seratus ibu kehilangan anaknya
Ribuan ibu kehilangan anaknya
Lalu lihatlah!
Air mata mereka mengetuk nurani negeri
Seluruh Indonesia kehilangan anaknya
Seluruh Indonesia berduka
Petaka di senja hari
Saat bumi bergetar hebat
Dan kota Padang terkubur dalam tanah
Pontianak
Oktober 09
Oktober 09
KAMI YANG DI BESARKAN DI ANTARA KORUPSI, PORNOGRAFI DAN RASA BENCI
Berceritalah kami tentang bagaimana kami di besarkan
Diantara korupsi
Diantara pornografi
Diantara rasa benci
Kami dari kecil telah diajarkan berkorupsi
Dengan mencontek pada ujian berkali-kali
Kami dari kecil telah dijejali pornografi
Oleh layar kaca televisi yang kami temui setiap hari
Kami dari kecil telah di tanamkan untuk saling benci
Dengan memusuhi orang lain dan memutuskan silaturahmi
Inilah kami anak negeri ini
Dibesarkan dengan semua ini
Kami yang awalnya tidak mengerti
Yang bersih, polos dan suci
Kini jadi begini
Silahkan anda berintrospeksi
Wahai bapak dan ibu kami
Moral kami sudah rusak di sana-sini
Negeri ini tak bisa lagi berharap pada kami
Dan kalian punya saham besar sekali untuk semua ini
Diantara korupsi
Diantara pornografi
Diantara rasa benci
Kami dari kecil telah diajarkan berkorupsi
Dengan mencontek pada ujian berkali-kali
Kami dari kecil telah dijejali pornografi
Oleh layar kaca televisi yang kami temui setiap hari
Kami dari kecil telah di tanamkan untuk saling benci
Dengan memusuhi orang lain dan memutuskan silaturahmi
Inilah kami anak negeri ini
Dibesarkan dengan semua ini
Kami yang awalnya tidak mengerti
Yang bersih, polos dan suci
Kini jadi begini
Silahkan anda berintrospeksi
Wahai bapak dan ibu kami
Moral kami sudah rusak di sana-sini
Negeri ini tak bisa lagi berharap pada kami
Dan kalian punya saham besar sekali untuk semua ini
Oktober 09
Minggu, 27 September 2009
AKU MEMANG TIDAK MENGENALMU, TAPI KITA BERDIRI DI TANAH YANG SAMA
Untuk mereka yang tidak pernah mau tunduk
pada ketidakadilan
pada ketidakadilan
Kita memang tidak saling mengenal,
Tapi kita hidup dalam jiwa yang sama,
Dalam cita-cita yang tidak ada beda,
Dan tidak sudi tunduk pada musuh yang sama
Bernama kedzaliman
Berdiri kita di garis depan,
Kau dengan barisanmu
Aku dengan barisanku,
Kita berteriak!
Dengan teriakan yang sama,
Pada musuh yang sama,
Yang bergetar ketika melihat kita
Begitu kokohnya dalam keteguhan,
Walau tanpa di bayar sekedarnya
Dan moncong senapan di arahkan ke muka kita
Karena kita adalah orang muda
Yang tidak pernah takut mati
Aku memang tidak mengenalmu,
Tapi aku adalah kau,
Kau adalah aku,
Semua itu hanya kerena satu hal sederhana,
Karena kita punya satu persamaan saja,
Kita berdiri di tanah yang sama
Kita menjejak di bumi yang sama,
Negeri Indonesia.
Bila kuceritakan pada anak cucuku nanti,
Tentang perjuangan hari ini,
Semoga mereka mengerti
Bahwa ini bukanlah panggung puja-puji
Bukan tempat mencari kehidupan sendiri,
Tapi aku datang ke sini,
Hanya karena panggilan nurani
Yang kudengar dan kuturuti
Seperti yang juga kau lakukan
Dan kau wariskan kini di jiwa kami
Pemuda negeri ini
Pontianak,
september 09
september 09
AKU ADALAH ORANG-ORANG HILANG
Aku adalah orang-orang hilang…..
Terperangkap dalam kesemuan yang aku benci
Inilah ketidakadilan memelekku erat
Dan enggan melepaskanku barang sejenak
Mereka adalah tiran
Dan aku bukan pemberontak
Aku hanya ingin bergerak
Aku adalah orang-orang hilang......
Tersesat pada hidup dan mati
Cari aku di tempat sepi
Di rumah kesunyian dan senyap bertakhta
Jadi raja
Dan kita bisa kontempolasi
Sepuasnya, tanpa ada yang membataskan
Kita bertanya pada diri kita
Dan aku bertanya
Pada diri ku
Orang Hilang-kah Aku?
Aku adalah orang-orang hilang....
Tergolek di pusara kejujuran
Tengoklah jelas-jelas
Keadilan itu sudah kering dari tanah ini
Dan kebenaran sedang kemarau untuk menetes ke mari
Tanaman kita mati, ternak kitapun mati,
kejujuran kita mati, idealisme kitapun mati
setelah itu kita jugapun akan mati
Aku adalah orang-orang hilang....
Di negeri yang sekarat ini
Tapi aku heran, tidak adakah orang lain, yang juga menyadarinya
Seperti aku?
Terperangkap dalam kesemuan yang aku benci
Inilah ketidakadilan memelekku erat
Dan enggan melepaskanku barang sejenak
Mereka adalah tiran
Dan aku bukan pemberontak
Aku hanya ingin bergerak
Aku adalah orang-orang hilang......
Tersesat pada hidup dan mati
Cari aku di tempat sepi
Di rumah kesunyian dan senyap bertakhta
Jadi raja
Dan kita bisa kontempolasi
Sepuasnya, tanpa ada yang membataskan
Kita bertanya pada diri kita
Dan aku bertanya
Pada diri ku
Orang Hilang-kah Aku?
Aku adalah orang-orang hilang....
Tergolek di pusara kejujuran
Tengoklah jelas-jelas
Keadilan itu sudah kering dari tanah ini
Dan kebenaran sedang kemarau untuk menetes ke mari
Tanaman kita mati, ternak kitapun mati,
kejujuran kita mati, idealisme kitapun mati
setelah itu kita jugapun akan mati
Aku adalah orang-orang hilang....
Di negeri yang sekarat ini
Tapi aku heran, tidak adakah orang lain, yang juga menyadarinya
Seperti aku?
Pontianak,
September 2009
September 2009
SAJAK GENERASI MUDA UNTUK BANGSA
Lama sudah rasanya kami dibohongi oleh kata-kata
Yang tidak juga kami temukan di dalam dunia nyata
Ini negeri, paling kaya di seluruh dunia,
Baik dari sumber daya, flora fauna maupun budaya.
Bertahun-tahun juga kami diyakinkan setengah mati
Bahwa merdekanya bangsa ini sudah terjadi lama sekali
Yang nyata tidak juga kami temukan kini,
Hanya berganti rupa dengan sedikit modifikasi
Penjajahan itu,
Kalau dahulu ia bisa di lawan dengan bedil dan peluru,
Tapi penjajah yang sekarang tidak bisa ditembak mati.
Karena bentuknya tidak ada, tapi sungguh-sungguh nyata.
Dan penjajahan itu sekarang menjelma segala rupa,
Baik disadari atau tidak.
Baik dilawan maupun tidak,
Bahkan malah ada yang memeliharanya
Dijaga-jaganya, biar negeri ini
Tidak juga merdeka,
Dan mereka yang dapat untungnya
Rasanya sekarang sudah saatnya kita bergerak,
Bukan lagi hanya diam atau bicara saja
Tapi benar-benar bergerak
Dengan benar-benar gerak
Dengar itu, langkah kami yang berderak,
Muda, kreatif, sangat berbahaya,
Hingga orang banyak yang bertanya
Tentang apa yang bisa kami lakukan
Biar kami jawab dengan pasti:
Dahulu di negeri ini, orang muda yang pertama
Teriak MERDEKA!!!
Dan sekarang, biar kami yang akan sekali lagi teriak MERDEKA!!!
Yang tidak juga kami temukan di dalam dunia nyata
Ini negeri, paling kaya di seluruh dunia,
Baik dari sumber daya, flora fauna maupun budaya.
Bertahun-tahun juga kami diyakinkan setengah mati
Bahwa merdekanya bangsa ini sudah terjadi lama sekali
Yang nyata tidak juga kami temukan kini,
Hanya berganti rupa dengan sedikit modifikasi
Penjajahan itu,
Kalau dahulu ia bisa di lawan dengan bedil dan peluru,
Tapi penjajah yang sekarang tidak bisa ditembak mati.
Karena bentuknya tidak ada, tapi sungguh-sungguh nyata.
Dan penjajahan itu sekarang menjelma segala rupa,
Baik disadari atau tidak.
Baik dilawan maupun tidak,
Bahkan malah ada yang memeliharanya
Dijaga-jaganya, biar negeri ini
Tidak juga merdeka,
Dan mereka yang dapat untungnya
Rasanya sekarang sudah saatnya kita bergerak,
Bukan lagi hanya diam atau bicara saja
Tapi benar-benar bergerak
Dengan benar-benar gerak
Dengar itu, langkah kami yang berderak,
Muda, kreatif, sangat berbahaya,
Hingga orang banyak yang bertanya
Tentang apa yang bisa kami lakukan
Biar kami jawab dengan pasti:
Dahulu di negeri ini, orang muda yang pertama
Teriak MERDEKA!!!
Dan sekarang, biar kami yang akan sekali lagi teriak MERDEKA!!!
Pontianak,
September 2009
Langganan:
Postingan (Atom)

