Tampilkan postingan dengan label Aku.......... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aku.......... Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Februari 2015

UNTUK KAMU YANG SEDANG MENANTI SEORANG MALAIKAT

You are the sunshine of my life, you are the apple of my eye


Mungkin ketika itu, manusia sedang kurang ajar-kurang ajarnya
Melupakan Tuhan dan meragukan Kebesaran serta Kuasa-NYA
Maka DIA lalu akhirnya memutuskan menciptamu
Dan kini aku tunduk dalam sujud, mengakui keagungan-NYA

Mengapa aku baru menemukanmu sekarang?
Bak seorang Nabi yang hadir memperbaiki kehancuran umat
Kau adalah matahari musim dingin yang datang membawa hangat
Kau adalah matahari di awal subuh yang menghapuskan gelap
Maka puji Tuhan! Terberkahilah kami
Yang dianugrahkan engkau hadir dalam hidup kami
Di izinkan menikmati surga meski masih menginjak bumi
Yang deminya, manusia lain rela beribadah jungkir balik setengah mati

Wahai kau, yang sedang menunggu malaikat
Saat kau merasa hidupmu sedemikian kesepian
Percayalah, tak ada yang cukup bodoh meninggalkanmu pergi
Karena tak ada manusia yang bisa hidup tanpa matahari
Karena tak ada yang mau menikmati malam tanpa pagi
Karena  tanpamu, hujan akan turun setiap hari
Dan kami manusia akan berdoa tanpa henti

Jangan pernah bersedih, karena kau pantas untuk bahagia

Dan kalaupun kelak tak kau temukan malaikat
Tuhan takkan telantarkan Maha Karya-Nya yang terhebat
DIA akan berikan kasih-Nya yang paling dahsyat
Dalam wujud tak bernama, tapi lebih tangguh dari malaikat
Yang akan melakukan apa saja agar senyummu tetap ditempat

Tapi mungkin kau sebenarnya tak perlu malaikat
Kau hanya butuh orang-orang yang mendoakanmu
Dan kau tak akan kekurangan yang rela melakukan itu
Bahkan mereka melakukannya tanpa sedikitpun kau tahu

Karena seandainya saja malaikat boleh memilih,
Tanpa kau memintapun, mereka akan berbaris dengan suka cita
Mengabulkan pintamu, sambil berharap kau jatuh cinta
Dan meski anomali, aku yakin Tuhan akan memakluminya
Karena bagiku, kau memang karya-NYA paling luar biasa

Malam ini, saat kau hendak tidur dan bermimpi,
Tersenyumlah, ucapkan "Terima kasih" dan katakan "Amiiiin!"
Karena percayalah, seseorang, entah dimana, sedang mendoakanmu, dan berkata:
“Selamat tidur, semoga mimpi indah dan semoga besok kau bertemu malaikatmu.”

Rabu, 26 Maret 2014

GADIS YANG SEPERTI MATAHARI

Kau gadis yang seperti matahari
Yang hilang bersama senja yang syahdu
Aku selalu berharap malam tak pernah datang
Karena betapapun indahnya, perpisahan adalah kehilangan
Yang merdunya kita nikmati hanya dalam lagu
Percayalah, penyair-penyair itu hanyalah sekumpulan penipu
Yang mereka sendiri tahu, puisi tak akan pernah keluar dari buku

Wahai gadis yang seperti matahari
Aku mengenalmu ketika shubuh sedang gelap-gelapnya
Kau buat aku percaya, kalau hari ini mungkin akan berbeda
Sementara kau sendiri sering kali ragu, sinarmu tak sempurna
Seolah-olah kau berhutang pada semesta
Padahal cahayamu, me-ji-ku-hi-bi-ni-u
Memberi makna pada warna di dunia


Wahai Gadis yang membuatku jatuh cinta pada matahari
Jangan pernah lemah oleh cibiran para pembenci
Karena sempurna itu tidak pernah ada yang memiliki
Aku, kau, mereka, kita, semua, sama
Tapi jelas engkau punya makna berbeda
Karena kau adalah matahari,
Bagi kami orang-orang yang kau cintai
Bagi kami orang-orang yang mencintai
Bahkan saat malam gelap sempurna
Dan purnama sedang cantik-cantiknya
Kami tahu cahaya indah itu darimana datangnya

Di ujung dunia ini,
Tiap kali senja datang, aku selalu merindukanmu

Jumat, 07 Maret 2014

SIMPATI UNTUK PARA TIRAN



Untuk Hitler, Nero dan Caligula
Kita tak mau disebut pahlawan
Kita tak mau pula disebut tiran
Dan tak ada yang punya hak menentukan
Karena bahkan orang sucipun
Mati di tangan para pendosa
Dan kalian hanya menontonnya
Lalu bedakah kalian dengan setan

Mari biarkanlah saja,
Zaman berlagak jadi hakim paling kuasa
Dan kita tak pernah perduli,
Biarkan mereka membenci kita
Selama mereka takut pada kita

Kita hanyalah jiwa-jiwa penyendiri
Yang terlalu asik dengan pikiran kita sendiri
Kita tahu bahwa banyak manusia ksatria
Tapi kita juga tahu,
Tidak ada orang yang pantas untuk dipercaya
Ya, kita tidak percaya pada siapa-siapa
Bahkan pada diri kita sendiri

Kita tidak pernah memandang hitam putih
Seorang pembohong hebat,
Hanyalah seorang pesulap hebat,
Tidak ada yang berdosa,
Hanya sebuah permainan
Karena nanti akan ada saatnya,
Ketika kita harus membenci apa yang kita cintai
Ketika kita harus menertawakan apa yang kita yakini
Maka mengembaralah terus dalam pencarian
Jika tak kau temui di ujung sisi terang
Mungkin ia berada di ujung sisi yang lainnya
Karena kebenaran sejati kadang ada di dalam kegelapan jiwa

Kita menikmati gerak kehidupan,
Dan tak ingin mati lebih cepat
Karena diam berarti kematian
Kita tak menyiapkan rencana pemakaman
Meski para revolusioner memancung kita sekalipun
Kita percaya bahwa ini bukanlah penebusan
Bahkan dihadapan kematian, kita hanya punya satu sabda:
Qualis artifex pereo
Lihatlah, seorang seniman hebat akan mati

Sekali lagi, Tak ada yang perduli kita ini tiran atau pahlawan
Karena kita tahu sama tahu,
Bahwa sejarah hanyalah kebohongan yang disepakati
Dan kita semua sebenarnya adalah orang gila

Dalam kadar dan kedoknya masing-masing


Jumat, 21 Februari 2014

TENTANG HUJAN

Saat memandang dunia yang berembun
Dari jendela kamarku
Selalu saja aku teringat padamu
Gadis manis berkerudung merah jambu
Yang datang kehujanan tanpa mantel
Menerobos hujan bulan februari

Matahari yang malu-malu bersinar
Dan air langit yang menyanyi riang di atap rumah
Memanggilku untuk turut serta menari
Bermain hujan seperti anak kecil
Tanpa perduli apapun lagi

Tersenyumlah padaku wahai hujan
Temani kesendirianku
Sampaikan rinduku padanya
Pada gadis manis berkerudung merah jambu
Yang menyukai hujan bulan februari

Selepas hujan...
Aku berharap pelangi yang indah
Dan senyum manismu sebagai hadiah

Sabtu, 18 Januari 2014

ABSTRAKSI

Aku tidak pernah benar-benar memahami cinta
Definisi tak cukup menerjemahkan makna
Hati adalah misteri yang sangat mengerikan
Psikopat yang paranoid
Menyaru dalam wajah seorang pemalu

Asmara memberikan janji paling manis
Meski realitas tak lebih seperti hujan gerimis
Merobek dan mengiris
Tapi seperti candu, aku tidak bisa berhenti
Bahkan mengharap dosis paling tinggi

Aku membenci cermin yang merefleksi memori
Berharap arus waktu adalah gurauan paling tak lucu
Kau hadir lalu pergi
Seolah cinta tak cukup untukmu
Membawa pada titik yang tak lagi bisa aku kenali
Diriku dan dirimu

Aku mencintaimu seperti aku membencimu
Aku membencimu seperti aku mencintai
Mari melepas rindu...
Temui aku saat kau bersiap memeluk kematian
Mari bercumbu saat ajal menjemput kesepian

Sui Raya, 29 Desember 2012

Minggu, 20 Oktober 2013

UPACARA MINUM KOPI


Resapilah indahnya hidup
Dalam secangkir kopi di pagi hari
Kemudian nikmatilah saat-saat penuh filosofi
Ketika kesadaran meraih kebebasan berimaji

Sisihkan waktu sejenak menyiapkan bara
Bila panas menyenangkan, mengapa puas pada kebekuan
Siapkanlah cangkir terbaikmu
Karena hal-hal baik, memang perlu yang terbaik

Satu, dua, atau tiga ini hanya soal selera
Manis adalah pilihan, getir adalah kenyataan
Memang tak ada korelasi lelaki dan kelatnya rasa
Tapi hanya pemberani yang berkawan dengan tantangan

Harumnya adalah pemikat
Butiran itu larut dalam udara
Menebar nuansa menghangatkan suasana
Ibarat sebuah proses, menjelmalah bersama masa
Dari tanah, lalu menjadi tak sekedar aroma

Hitamnya tak bermakna apa-apa
Karena lidah memang lebih fasih dari mata
Sensasinya mungkin berbeda-beda
Bersahabat, erat, kadang terlalu pekat
Tapi ia menjadi candu, membuat kita mengulangnya selalu
Mungkin serupa juga dengan hidup
Walau kadang terasa terlalu pahit
Selalu ada nikmat yang bisa kita syukuri
Selalu ada syukur yang bisa kita nikmati

Ku habiskan isi cangkirku
Mengecap apa yang tersisa di dasarnya
Mungkin kopi ini terlalu kental

Dan aku, tak berniat terjaga selamanya

Sabtu, 12 Oktober 2013

MEMBACA PERTANDA

 

Aku terjaga dari rahim sang malam
Ketika seperempat abad datang menghampiri
Halaman pertama sebuah catatan
Berlanjut dalam lembaran-lebaran terbaru
Terselingi, namun tidak pernah benar-benar terganti

Hari ini waktu seakan berhenti dalam kontempolasi
Jalan hidup telah membawaku sampai di sini
Takdir mengeliminasi sekian banyak pilihan
Meninggalkan aku untuk mempersiapkan sebuah jawaban

Dalam lelap semesta, pemahaman menyelinap
Memberikan wujud kepada mimpi-mimpi senyap
Jawaban atas renungan-renungan di kala gelap
Apakah ini adalah firasat?

Aku percaya pada pertanda…
Karena Tuhan berbicara kepada hamba
Dan alam berisyarat dalam sebuah bahasa
Hanya terkadang kita tak sanggup membacanya
Dan aku akan mengikuti kemana ia akan membawa

Rabu, 28 Agustus 2013

SEBUAH PERTANYAAN TENTANG CINTA

Sulitkah untuk dijawab
Apakah cinta punya wujud dan warna?

Aku bukan orang yang pandai bersilat lidah,
Kaupun faham!
Tapi waktu memang tidak bisa menunggu
Takdir tidak pernah memberikan pilihan

Aku masih mengenangmu dengan sempurna
Sebagai gadis pemilik senyum putih abu-abu
Dalam kenangan mimpi-mimpi selalu menjadi doa
Tapi dalam kenangan, tak ada yang bisa direvisi

Perasaan ini memang bukan soal matematika
Cinta ini tidak terdiri cuma dari hitam dan putih
Terkadang ia terdistorsi terlalu jauh dari mimpi
Terkadang jarak sedepa bahkan tidak juga bisa teraba
Terkadang puisi tidak cukup menjadi bukti
Klise memang,
Tapi itu yang selalu terjadi

Aku lelah berperang dengan keberanianku sendiri
Bahwa kau memang pantas diperjuangkan,
Aku tak bisa menyangkal
Tapi aku memang seorang peragu
Dan di dunia yang sempit ini,
Tidak ada tempat untuk orang seperti itu

Sulitkah untuk dijawab,
Apakah cinta punnya wujud dan warna?

Kufikir aku sudah cukup pandai
Tapi bahkan dalam hening paling mencekam
Aku tetap juga tidak bisa menjawabnya
Selain namamu, cinta terlalu absurd untukku

Rabu, 26 Juni 2013

MENGEJAR MATAHARI




Hari ini, senja datang seperti biasa
Lalu mentari hilang diantara garis cakrawala
Luka, gelisah, dan lara terakumulasi bersama malam
Tersimpan menjadi mimpi buruk dalam lelap dunia

Saat tubuh lelah ini menuntut berhenti
Jiwa telah tertinggal bersama mimpi-mimpi
Kita meraba-raba cinta yang lama kita lupakan
Mentari yang tak mau berhenti, kita benci setengah mati
Sejarah menjadi drakula penghisap darah

Kita faham, tapi kita menipu diri
Mentari tak pernah hilang
Dia ada di sana, bumilah yang sedang berputar

Saat esok hari membuka lembaran pagi
Tataplah sinar tajam di ufuk timur dengan berani
Berlarilah mengejar matahari
Karena itu tak akan membuatmu berhenti berlari

Nikmatilah setiap misteri dan kejutan
Karena hidup hanya bermuara pada dua pilihan
Kesenangan dan kesedihan
Tapi nikmatilah setiap langkah yang hatimu pilihkan
Karena disanalah berada kebahagian

Hidup bukan tentang hasil dari setiap pilihan yang kita ambil
Hidup adalah tentang pilihan-pilihan itu sendiri

Selasa, 02 Oktober 2012

UNTUK ZU



Untukmu, Zu…
Emak ingin bertemu!
Ia ingin bercerita banyak hal
Tentang anak laki-lakinya yang sebentar lagi akan jadi milikmu

Jika telah sampai waktunya
Emak akan melepas bocah bengalnya ini kepadamu
Hanya kepadamu, Zu…
Rawatlah ia dengan kasih sayang terbaik yang bisa kau beri
Sekarang hanya kaulah yang ia punya
Logika sederhananya tidak cukup menjalani hidup ini sendirian
Ia butuh kau, Zu…

Pada akhirnya Emak akan menitipkan buah hatinya kepadamu
Si jantan yang ia rawat itu, kini telah menemukan betinanya
Hanya ini pesan Emak untukmu, Zu…
Bersabarlah menghadapinya
Dia terkadang memang suka bertindak bodoh
Amarahnya sering kali lebih panjang dari akalnya
Tapi dia hanyalah bocah kecil Emak, Zu…
Yang keras kepala tapi berhati lembut
Yang selalu egois tapi penuh kasih
Dan sebentar lagi, akan segera jadi bagian dari hari-harimu

Surat ini untukmu, Zu…
Temuilah Emak!
Ia akan bercerita banyak hal
Tentang anak laki-lakinya yang sangat mencintaimu



Agustus 2012

Kamis, 28 Juni 2012

LELAKI MALAM


Aku adalah bintang yang terbakar
Namun cahayaku akan mulai memudar
Mungkin perlahan lenyap dalam roda waktu
Tapi biarkanlah ceritaku hidup selamanya
Bersama puisi dan goresan sejarah

Kenanglah aku…!
Dipuncak sang temaram yang menggila
Lelaki yang tersenyum memeluk bayang-bayang
Mungkin rindu telah menghapus warna rembulan
Hingga bintang tidak lagi berharga untuk dipuja

Pada akhirnya beginilah asmara bercerita
Dalam bait-bait patah hati, nyanyikanlah!
Aku yang luka, mencumbu kabut yang beku
Menjelma bisikan yang menyeberangi langit

Aku adalah lelaki malam
Yang mengagumi hening paling mengerikan
Namun teramat sukar memahami hati seorang wanita
Tapi kenanglah aku…!
Mungkin sebagai sebuah bagian kejayaanmu
Saat jari lentikmu mengangkat piala kemenangan
Dan aku menangis dalam luka dan kekalahan

Mungkin ini adalah malam terakhirku
Tapi aku akan tetap di sini!
Menanti fajar datang membawa kehangatan pagi
Dan akulah yang akan terbakar dibawah mentari
Maka kenanglah aku…
Meski dalam rupa, sebuah cinta tanpa nama
Aku akan hidup selamanya!

Kamis, 14 Juni 2012

MENJUMPAI KEMATIAN


Pada akhirnya semua menjadi teramat sederhana
Seperti dalam sebuah hari yang biasa saja
Saat wujud kematian adalah bayang-bayang
Tak tersentuh, dan aku berjalan seperti sediakala

Tapi ini bukan perkara yang sukar
Bahwa hakikat mentari adalah mencintai horison
Dan senja tidak bisa dimaju mundurkan
Karena waktu bukan seperti jam weker
Yang bisa atur ulang kapan ia akan bersuara

Kapankah diri ini siap menghadap kematian?
Angka-angka itu bukan rumusan matematika
Bahwa detik kematian adalah teka-teki paling hakiki

Aku tidak ingin berada di dunia selamanya
Tapi aku masih ingin hidup seribu tahun lagi
Jika kau bertanya kepadaku,
Kapankah aku akan siap menghadap kematian?
Tidak sekarang
Tidak besok
Tidak lusa
Tidak pula nanti
Karena memang mungkin,
Tak pernah ada kata siap untuk sebuah kematian

Namun ketika pada akhirnya dia datang,
Aku akan tersenyum kepadanya!
Dan kuulurkan tanganku menyambut kehadirannya

Sungguh…
Yang terpenting bukan kapan kematian itu akan menjemputku,
Tapi dimanakah aku saat ia datang menjumpaiku?
Aku tahu, aku tidak bisa lari darinya
Karena waktu akan selalu berjalan maju
Hidup hanyalah menunda kematian

Sabtu, 04 Februari 2012

JANGAN TAKUT PADA BADAI


Aku berjalan melawan hujan

Dalam simfoni malam yang meragukan

Berdansa dalam pelukan dingin sang bulan

Bumi basah kuyup

Tubuh menggigil


Kadang hidup memang menakutkan

Duri tajam terserak sepanjang jalan

Perihnya tak jarang melumpuhkan kaki

Dan hati jadi kaku untuk berbagi pada nurani

Tapi mari kita bersulang,

Karena dalam setiap tanya, selalu ada jawaban


Nikmatilah perjamuan munafik ini

Topeng-topeng itu tidak akan pernah lepas

Saat pesta belum usai, mereka akan turut bernyanyi

Pada masanya, lampu pasti akan dipadamkan

Dan tibalah saatnya untuk membubarkan diri


Ah, mengapa harus takut pada badai?

Bukankah takdir hanya harus digenapkan?

Pada garisnya aku hanya cukup untuk terus maju

Memainkan langkah dengan sedikit improvisasi

Lalu saat badai datang, menarilah dalam hujan!


Meski takdir tak memberi banyak pilihan

Aku punya cukup waktu untuk memutuskan

Berjalan terus atau menyerah pada badai

Karena hidup adalah cita-cita

Dan cita-cita adalah hidup itu sendiri


Ayo sobat! Mari merayakan hidup!

Karena hidup, memang pantas untuk dirayakan!

Sabtu, 10 Desember 2011

ILALANG RINDU KAMPUNG KENANGAN

Aku teringat pada ilalang yang aku rindu
Ditengah pelosok kampung penuh kenangan
Kala purnama menyinari malam
Jangkrik bernyanyi dengan berisik

Kami dahulu adalah sahabatmu
Yang berlarian bebas tanpa beban
Bermain bersamamu dalam siang dan malam

Waktu telah mengubah semua
Kau semakin hilang dalam peradaban
Dan aku terbebani dalam tanggung jawab

Kampung ku semakin hilang kini
Orang-orang latah pada istilah modernisasi
Di kampung, berdiri kota
Di kota, kampung dihapuskan dari peradaban
Tembok-tembok dibangun berjajar
Ramah-tamah, tegur-sapa terasa asing sekali

Kampung ini sekarang tidak sama lagi
Zaman telah mengubahnya dalam-dalam
Menyulapnya jadi kian asing dalam pikiranku
Membuat puzzle kenanganku sukar kucocokkan ulang

Kusyukuri kau tetap ada di sana,
Setia menjadi bagian memoriku
Meski kini kau sendiri
Ditinggal oleh sahabat terbaikmu
Anak-anak kecil polos
Yang menghabiskan waktu di bawah mentari
Berpeluh, bermain petak umpet dan kejar-kejaran
Mereka kini memilih berkawan dengan elektronik
Playstation dan Personal Computer

Ilalang di tengah kampung yang tak berkawan dengan zaman
Sebatang kara kini kau tak berpenghuni
Aku datang untuk menemui mu
Mengucap salam dan bernostalgia dengan kenangan
Bercerita tentang sahabat-sahabat masa kecilku
Yang entah dimana mereka kini?

Selasa, 14 Desember 2010

SEBUAH REPERTOIR

Ada suara berisik dari zaman yang sekarat
Jiwa-jiwa telah hilang dalam hutan logika
Nurani terasing dalam hiruk-pikuk peradaban
Pergiliran waktu membuat hati kian hitam
Topeng-topeng sandiwara terserak di mana-mana
Hingar-bingar pesta dunia telah dimulai
Kita larut dan ikut mabuk bersama

Ini adalah drama yang tak layak dipentaskan
Tirai panggung telah dibentangkan
Lampu-lampu telah dinyalakan

Biarlah kisah sunyi ini terekam dalam kenangan
Dalam bait-bait catatan harian masa silam
Tidak perlu ada yang membacanya
Tidak perlu ada yang mendengarnya

Hidup telah menawarkan banyak keindahan
Arus dunia mengajak kita terus hanyut
Semakin dalam…
Semakin tenggelam…

Hingga kita sampai pada satu titik balik
Ketika pintu cahaya telah ditemukan
Memperkenalkan kita tentang mana hitam dan putih
Kadang kita bimbang
Tapi manusia bisa memilih, manusia harus memilih

Skenario mulai dituliskan
Babak baru mulai dimainkan
Para aktor telah ditentukan

Aku bertanya: Sedanga apa kau?
Aku menjawab: Menulis puisi.
Aku bertanya: Untuk siapa?
Aku menjawab: Untuk diriku sendiri
Aku bertanya: Untuk apa?
Aku menjawab: Untuk sebuah drama
Aku bertanya
Aku menjawab
Aku tertawa

Kita sedang mementaskan drama kehidupan
Tiap langkah ini adalah perjuangan
Dan kita sedang berjalan menuju syurga, InsyaAllah