Rabu, 19 Maret 2014
PEJUANG JALANAN
Jumat, 07 Maret 2014
SIMPATI UNTUK PARA TIRAN
Sabtu, 18 Januari 2014
ABSTRAKSI
Definisi tak cukup menerjemahkan makna
Hati adalah misteri yang sangat mengerikan
Psikopat yang paranoid
Menyaru dalam wajah seorang pemalu
Asmara memberikan janji paling manis
Meski realitas tak lebih seperti hujan gerimis
Merobek dan mengiris
Tapi seperti candu, aku tidak bisa berhenti
Bahkan mengharap dosis paling tinggi
Aku membenci cermin yang merefleksi memori
Berharap arus waktu adalah gurauan paling tak lucu
Kau hadir lalu pergi
Seolah cinta tak cukup untukmu
Membawa pada titik yang tak lagi bisa aku kenali
Diriku dan dirimu
Aku mencintaimu seperti aku membencimu
Aku membencimu seperti aku mencintai
Mari melepas rindu...
Temui aku saat kau bersiap memeluk kematian
Mari bercumbu saat ajal menjemput kesepian
Rabu, 28 Agustus 2013
SEBUAH PERTANYAAN TENTANG CINTA
Apakah cinta punya wujud dan warna?
Aku bukan orang yang pandai bersilat lidah,
Kaupun faham!
Tapi waktu memang tidak bisa menunggu
Takdir tidak pernah memberikan pilihan
Aku masih mengenangmu dengan sempurna
Sebagai gadis pemilik senyum putih abu-abu
Dalam kenangan mimpi-mimpi selalu menjadi doa
Tapi dalam kenangan, tak ada yang bisa direvisi
Perasaan ini memang bukan soal matematika
Cinta ini tidak terdiri cuma dari hitam dan putih
Terkadang ia terdistorsi terlalu jauh dari mimpi
Terkadang jarak sedepa bahkan tidak juga bisa teraba
Terkadang puisi tidak cukup menjadi bukti
Klise memang,
Tapi itu yang selalu terjadi
Aku lelah berperang dengan keberanianku sendiri
Bahwa kau memang pantas diperjuangkan,
Aku tak bisa menyangkal
Tapi aku memang seorang peragu
Dan di dunia yang sempit ini,
Tidak ada tempat untuk orang seperti itu
Sulitkah untuk dijawab,
Apakah cinta punnya wujud dan warna?
Kufikir aku sudah cukup pandai
Tapi bahkan dalam hening paling mencekam
Aku tetap juga tidak bisa menjawabnya
Selain namamu, cinta terlalu absurd untukku
Rabu, 31 Juli 2013
SAJAK TANAH GERSANG
Ada tanda tanya di dinding pencakar langit
Inikah yang namanya kemajuan?
Tatkala tembok angkuh itu berdiri megah
Jalan beton mengular ke segala arah
Sementara para petani kehilangan lahan
Nelayan-nelayan kehilangan tangkapan
Ladang-ladang kini disulap menjadi pabrik
Mahasiswa bermimpi kerja di ruang ber-AC
Manusia-manusia desa minggat ke kota
Mental jongos mewabah setiap kepala
Siapa yang lemah akan diinjak dan dilindas sampai mati
Sungguh, bukan ini yang namanya kemajuan!
Jika bapakku petani,
Aku juga ingin jadi petani
Jika bapakku nelayan,
Aku juga ingin jadi nelayan
Sarjana-sarjana!
Kembalilah ke sawah,
Kembalilah ke lautan,
Jika ladang dan tambak kau tinggalkan
Bersiaplah mati oleh taring kapitalis
Rabu, 26 Juni 2013
MENGEJAR MATAHARI
Selasa, 19 Maret 2013
DOA SEORANG GELANDANGAN
Selasa, 08 Januari 2013
HIJAU YANG HILANG
Selasa, 04 Desember 2012
PENCARI CAHAYA
Kamis, 28 Juni 2012
LELAKI MALAM
Sabtu, 04 Februari 2012
JANGAN TAKUT PADA BADAI
Aku berjalan melawan hujan
Dalam simfoni malam yang meragukan
Berdansa dalam pelukan dingin sang bulan
Bumi basah kuyup
Tubuh menggigil
Kadang hidup memang menakutkan
Duri tajam terserak sepanjang jalan
Perihnya tak jarang melumpuhkan kaki
Dan hati jadi kaku untuk berbagi pada nurani
Tapi mari kita bersulang,
Karena dalam setiap tanya, selalu ada jawaban
Nikmatilah perjamuan munafik ini
Topeng-topeng itu tidak akan pernah lepas
Saat pesta belum usai, mereka akan turut bernyanyi
Pada masanya, lampu pasti akan dipadamkan
Dan tibalah saatnya untuk membubarkan diri
Ah, mengapa harus takut pada badai?
Bukankah takdir hanya harus digenapkan?
Pada garisnya aku hanya cukup untuk terus maju
Memainkan langkah dengan sedikit improvisasi
Lalu saat badai datang, menarilah dalam hujan!
Meski takdir tak memberi banyak pilihan
Aku punya cukup waktu untuk memutuskan
Berjalan terus atau menyerah pada badai
Karena hidup adalah cita-cita
Dan cita-cita adalah hidup itu sendiri
Ayo sobat! Mari merayakan hidup!
Karena hidup, memang pantas untuk dirayakan!
Sabtu, 10 Desember 2011
ILALANG RINDU KAMPUNG KENANGAN
Ditengah pelosok kampung penuh kenangan
Kala purnama menyinari malam
Jangkrik bernyanyi dengan berisik
Kami dahulu adalah sahabatmu
Yang berlarian bebas tanpa beban
Bermain bersamamu dalam siang dan malam
Waktu telah mengubah semua
Kau semakin hilang dalam peradaban
Dan aku terbebani dalam tanggung jawab
Kampung ku semakin hilang kini
Orang-orang latah pada istilah modernisasi
Di kampung, berdiri kota
Di kota, kampung dihapuskan dari peradaban
Tembok-tembok dibangun berjajar
Ramah-tamah, tegur-sapa terasa asing sekali
Kampung ini sekarang tidak sama lagi
Zaman telah mengubahnya dalam-dalam
Menyulapnya jadi kian asing dalam pikiranku
Membuat puzzle kenanganku sukar kucocokkan ulang
Kusyukuri kau tetap ada di sana,
Setia menjadi bagian memoriku
Meski kini kau sendiri
Ditinggal oleh sahabat terbaikmu
Anak-anak kecil polos
Yang menghabiskan waktu di bawah mentari
Berpeluh, bermain petak umpet dan kejar-kejaran
Mereka kini memilih berkawan dengan elektronik
Playstation dan Personal Computer
Ilalang di tengah kampung yang tak berkawan dengan zaman
Sebatang kara kini kau tak berpenghuni
Aku datang untuk menemui mu
Mengucap salam dan bernostalgia dengan kenangan
Bercerita tentang sahabat-sahabat masa kecilku
Yang entah dimana mereka kini?
Selasa, 14 Desember 2010
SEBUAH REPERTOIR
Jiwa-jiwa telah hilang dalam hutan logika
Nurani terasing dalam hiruk-pikuk peradaban
Pergiliran waktu membuat hati kian hitam
Topeng-topeng sandiwara terserak di mana-mana
Hingar-bingar pesta dunia telah dimulai
Kita larut dan ikut mabuk bersama
Ini adalah drama yang tak layak dipentaskan
Tirai panggung telah dibentangkan
Lampu-lampu telah dinyalakan
Biarlah kisah sunyi ini terekam dalam kenangan
Dalam bait-bait catatan harian masa silam
Tidak perlu ada yang membacanya
Tidak perlu ada yang mendengarnya
Hidup telah menawarkan banyak keindahan
Arus dunia mengajak kita terus hanyut
Semakin dalam…
Semakin tenggelam…
Hingga kita sampai pada satu titik balik
Ketika pintu cahaya telah ditemukan
Memperkenalkan kita tentang mana hitam dan putih
Kadang kita bimbang
Tapi manusia bisa memilih, manusia harus memilih
Skenario mulai dituliskan
Babak baru mulai dimainkan
Para aktor telah ditentukan
Aku bertanya: Sedanga apa kau?
Aku menjawab: Menulis puisi.
Aku bertanya: Untuk siapa?
Aku menjawab: Untuk diriku sendiri
Aku bertanya: Untuk apa?
Aku menjawab: Untuk sebuah drama
Aku bertanya
Aku menjawab
Aku tertawa
Kita sedang mementaskan drama kehidupan
Tiap langkah ini adalah perjuangan
Dan kita sedang berjalan menuju syurga, InsyaAllah
Kamis, 10 Juni 2010
IRONI
Aku mencari arti semua ini
Sesuatu yang tak pernah punya makna
Hanya kata dengan seribu tanya
Raga yang bicara menyulam rasa
Sebuah rindu yang tiada terkata
Hanya kupendam, hanya kusimpan
Seperti bulan di selimuti awan
Kala pagi menyuarakan cita
Aku jadi tak percaya pada hati
Asa itu jadi biasa
Aku jadi tak berguna
Semua sudah biasa
Seperti air mata untaikan kesedihan
Sebuah arti yang tak kan ditemui
Baik di kamus bahasa manapun
Hanya suara yang tak mau bicara
Dengan bahasa diam ia beri jawaban
Seperti pengembara bertanya pada bintang
Berlomba mencari sesuatu tak pasti
Tak tentu arah dan tujuan
Hanya punya satu impian
Cerita lama tentang seorang wanita
Yang punya cinta berjuta makna
Seperti madu yang mahal harganya
Atau api yang membakar kerangka
Hingga tiada bentuk tersisa
Karena rindu yang membunuh jiwa
Lalu waktu memberontak...
Kau disana berjalan mencari bahagia
Aku disini menunggu mati
Lalu bagaimana ku hidup tanpamu...?
July 04
Kamis, 28 Januari 2010
BERITA DUKA CITA INDONESIA
Berita duka kembali mengudara
Bercerita tentang negeri tak bernurani
Seorang nenek tewas terinjak saat berebut zakat
Seorang bayi dibuang ibunya di tempat sampah
Seorang bocah gelandangan sepuluh tahun mati di mutilasi
Kemarin hari pula, di layar televisi tua buatan cina pula
Berita duka sekali lagi mengudara
Bercerita pula tentang negeri yang tak bernuarani
Para pejabat dan menteri mendapat mobil mewah baru
Yang uangnya dari pajak rakyat miskin dan melarat
Seperti tak punya rasa malu mereka-mereka itu
Yang membuang 6,7 Triliun uang negara
Kemudian tidak ada yang merasa bertanggung jawab
Kemarin hari lagi, di layar televisi tua buatan cina lagi
Berita duka terus-menerus mengudara
Bercerita lagi tentang negeri yang tak bernuarani
Seorang Ibu di tangkap polisi karena mencuri dua buah coklat
Padahal penilep uang negara miliaran rupiah bebas lari ke luar negeri
Seorang ibu lain di hukum karena menulis keluhannya di surat elektronik
Padahal penyuap polisi dan jaksa tidak juga diadili kesalahannya
Meski dosanya sudah terdengar hampir di setiap telinga
Berita duka di negeri ini tidak berhenti mengudara
Seperti jargon lama Radio kita...
“Sekali di udara tetap di udara”
Sekarang, Mari kita heningkan cipta!
Selamat jalan nurani Indonesia
Semoga suatu saat nanti, engkau akan hidup kembali
Selasa, 19 Januari 2010
DARI SEORANG PENYENDIRI KEPADA AYAHNYA
Meski aku tidak terbiasa menjadi melankolis
Di hadapanmu
Rasanya waktu berjalan terlalu cepat bagi kita berdua
Seperti baru kemarin rasanya aku masih menjadi anak-anak
Namun tanpa terasa kini aku sudah menjadi dewasa sepertimu
Kita memang sering tak sejalan
Karena kita sama-sama laki-laki yang keras kepala
Yang tidak mempercayakan takdir kita pada kata orang lain
Dan enggan menyerah sampai akhir
Engkau seperti tidak pernah termakan zaman
Meski bahu kukuhmu mulai surut menahan beban
Namun matamu senantiasa berbinar seperti dahulu
Tiap kali menatap anak-anakmu
Jika kemarin hari atau besok kita berselisih
Aku tahu kau tidak pernah menganggapnya serius
Selain sebagai dinamika pencarian jati diri untukku
Dan dengan mudah kau akan memaafkannya begitu saja
Dalam renungan-renungan kesendirianku
Kuingat lagi petuah-petuahmu abadimu
Yang kuukir di sisi relung hatiku
Pengalaman memang telah mengajarkanmu tentang segalanya
Rumusan kehidupan yang awam aku selami
Engkau adalah Ayahku!!!
Yang selamanya mengalirkan darah di tubuhku
Yang mewariskan namamu di ujung namaku
Agar aku tak salah langkah....
Minggu, 10 Januari 2010
OMONG KOSONG
Omong kosong…
Aku dengar…
Mereka ngomong
Bohong-bohong
Aku lempar
Sandal bolong.
DI NEGERI INI TIDAK ADA LAGI YANG NAMANYA KEADILAN
Berita yang dibawakan di TV, itu-itu saja
Kasus korupsi yang tak pernah usai
Dan rakyat kelaparan
Kalau besok ada lagi bapak yang mencuri
Untuk makan anaknya
Ia akan masuk berita setelah di pukul massa
Di sisi kanan halaman lima surat kabar senja
Mukanya hancur dan berdarah-darah
Padahal maunya ia, hanya agar anaknya bisa makan
Tapi toh, siapa yang mau peduli
Dan tak jauh dari tempatnya
Mungkin hanya beberapa kilometer
Gubernur, Menteri, atau Presiden
Makan hingga perutnya kenyang dan buncit
Lalu tidur dengan permaisurinya yang cantik
Uangnya dari pajak rakyat
Termasuk dari bapak tadi, Si maling yang babak belur
Untuk cari makan anaknya
Si maling masuk penjara, mendekam berbulan-tahun
Kerena si anak merengek minta makan
Dia memang salah, mencuri tetap saja dosa
Tapi kemarin, Gubernurnya beli mobil baru
Dengan uang entah dari mana
Menterinya punya rumah baru dari
Bonus gaib sana-sini
Presidennya tidak usah dibicarakan lagi
Entah ada atau tidak penjara untuk mereka
Padahal mereka sudah terima gaji
Yang asalnya dari pajak rakyat
Pajak, kalau tak mau dibilang memeras
Karena semboyan yang dari rakyat
Untuk rakyat itu,
Melulu dari rakyat dan tak pernah
Dirasa untuk rakyat
Semuanya akhirnya membuncitkan perut penguasa
Sekarang kita tanya,
Dimanakah keadilan itu ?
Sabtu, 19 Desember 2009
RINDU
Bahwa hari ini dingin sekali
Dan aku hanya seorang diri di sini
Sungguh....
Dalam gigil ini, aku merindukanmu
Jumat, 18 Desember 2009
MEMORI HUJAN
Engkau dimana?
Datanglah segera!
Aku telah lelah meunggumu
Aku capek...
Hujan kali ini basahkan hatiku yang galau
Aku ingin keluar!
Aku ingin menentang badai!
Walaupun aku lelah
Aku capek…
Sinarmu dimana?
Mengapa kau tak beri aku tanda
Apa kau sudah lupa aku
Hujan kali ini jadi pembuka memori
Ketika kau pergi di bawah guyurannya
Tapi mungkin kau sudah lupa itu semua
Hujan berhenti
Angin bertiup kembali
Aku lagi-lagi menunggumu
Padahal aku lelah
Aku capek...





