Tampilkan postingan dengan label Teriakan Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teriakan Hati. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Maret 2014

PEJUANG JALANAN

Untuk kerumunan yang menggetarkan para tiran
Hari ini kulihat, kawan
Para pejuang sesungguhnya
Tidak bersenjata apa-apa
Tapi nuraninya nyaring bersuara

Pedang kita adalah semangat
Tameng kita adalah tekad
Ditengah medan perang hitam putih
Kita adalah tentara-tentara kebenaran
Yang berbicara bukan sekedar dengan kata-kata
Kita adalah pembawa tongkat penghakiman
Untuk semua bentuk ketidak adilan

Kita bersuara atas kata-kata yang tak didengar
Kita bergerak untuk takdir yang telah ditentukan
Dan kita hanya akan mati atas nama sebuah perjuangan

Kala suara langit telah dibungkam Tuhan
Kita harus tetap meneriakkan kebenaran
Dan semua kelalim akan mendapat balasan

Hari ini kita datang dalam barisan perjuangan
Mengepung istana emas tempat kecurangan bertakhta
Kita buat para raja-raja tak bisa bermimpi di malam hari
Dan hidup mereka menjadi sebuah neraka di atas bumi

Mereka boleh gentar sekarang,
Mari kita lihat saja
Apakah raja kita yang agung itu,
Berani bertemu muka dengan kita besok pagi?
Karena kita akan terus di sini
Kita akan terus bertahan di sini
Kita akan terus bicara
Dan berharap mati tanpa pusara

Kita adalah serigala untuk kedzaliman
Neraca keadilan telah ditegakkan
Semua yang benar akan selalu menang

Dan yang salah pasti akan mendapat hukuman


Jumat, 07 Maret 2014

SIMPATI UNTUK PARA TIRAN



Untuk Hitler, Nero dan Caligula
Kita tak mau disebut pahlawan
Kita tak mau pula disebut tiran
Dan tak ada yang punya hak menentukan
Karena bahkan orang sucipun
Mati di tangan para pendosa
Dan kalian hanya menontonnya
Lalu bedakah kalian dengan setan

Mari biarkanlah saja,
Zaman berlagak jadi hakim paling kuasa
Dan kita tak pernah perduli,
Biarkan mereka membenci kita
Selama mereka takut pada kita

Kita hanyalah jiwa-jiwa penyendiri
Yang terlalu asik dengan pikiran kita sendiri
Kita tahu bahwa banyak manusia ksatria
Tapi kita juga tahu,
Tidak ada orang yang pantas untuk dipercaya
Ya, kita tidak percaya pada siapa-siapa
Bahkan pada diri kita sendiri

Kita tidak pernah memandang hitam putih
Seorang pembohong hebat,
Hanyalah seorang pesulap hebat,
Tidak ada yang berdosa,
Hanya sebuah permainan
Karena nanti akan ada saatnya,
Ketika kita harus membenci apa yang kita cintai
Ketika kita harus menertawakan apa yang kita yakini
Maka mengembaralah terus dalam pencarian
Jika tak kau temui di ujung sisi terang
Mungkin ia berada di ujung sisi yang lainnya
Karena kebenaran sejati kadang ada di dalam kegelapan jiwa

Kita menikmati gerak kehidupan,
Dan tak ingin mati lebih cepat
Karena diam berarti kematian
Kita tak menyiapkan rencana pemakaman
Meski para revolusioner memancung kita sekalipun
Kita percaya bahwa ini bukanlah penebusan
Bahkan dihadapan kematian, kita hanya punya satu sabda:
Qualis artifex pereo
Lihatlah, seorang seniman hebat akan mati

Sekali lagi, Tak ada yang perduli kita ini tiran atau pahlawan
Karena kita tahu sama tahu,
Bahwa sejarah hanyalah kebohongan yang disepakati
Dan kita semua sebenarnya adalah orang gila

Dalam kadar dan kedoknya masing-masing


Sabtu, 18 Januari 2014

ABSTRAKSI

Aku tidak pernah benar-benar memahami cinta
Definisi tak cukup menerjemahkan makna
Hati adalah misteri yang sangat mengerikan
Psikopat yang paranoid
Menyaru dalam wajah seorang pemalu

Asmara memberikan janji paling manis
Meski realitas tak lebih seperti hujan gerimis
Merobek dan mengiris
Tapi seperti candu, aku tidak bisa berhenti
Bahkan mengharap dosis paling tinggi

Aku membenci cermin yang merefleksi memori
Berharap arus waktu adalah gurauan paling tak lucu
Kau hadir lalu pergi
Seolah cinta tak cukup untukmu
Membawa pada titik yang tak lagi bisa aku kenali
Diriku dan dirimu

Aku mencintaimu seperti aku membencimu
Aku membencimu seperti aku mencintai
Mari melepas rindu...
Temui aku saat kau bersiap memeluk kematian
Mari bercumbu saat ajal menjemput kesepian

Sui Raya, 29 Desember 2012

Rabu, 28 Agustus 2013

SEBUAH PERTANYAAN TENTANG CINTA

Sulitkah untuk dijawab
Apakah cinta punya wujud dan warna?

Aku bukan orang yang pandai bersilat lidah,
Kaupun faham!
Tapi waktu memang tidak bisa menunggu
Takdir tidak pernah memberikan pilihan

Aku masih mengenangmu dengan sempurna
Sebagai gadis pemilik senyum putih abu-abu
Dalam kenangan mimpi-mimpi selalu menjadi doa
Tapi dalam kenangan, tak ada yang bisa direvisi

Perasaan ini memang bukan soal matematika
Cinta ini tidak terdiri cuma dari hitam dan putih
Terkadang ia terdistorsi terlalu jauh dari mimpi
Terkadang jarak sedepa bahkan tidak juga bisa teraba
Terkadang puisi tidak cukup menjadi bukti
Klise memang,
Tapi itu yang selalu terjadi

Aku lelah berperang dengan keberanianku sendiri
Bahwa kau memang pantas diperjuangkan,
Aku tak bisa menyangkal
Tapi aku memang seorang peragu
Dan di dunia yang sempit ini,
Tidak ada tempat untuk orang seperti itu

Sulitkah untuk dijawab,
Apakah cinta punnya wujud dan warna?

Kufikir aku sudah cukup pandai
Tapi bahkan dalam hening paling mencekam
Aku tetap juga tidak bisa menjawabnya
Selain namamu, cinta terlalu absurd untukku

Rabu, 31 Juli 2013

SAJAK TANAH GERSANG


Ada tanda tanya di dinding pencakar langit

Inikah yang namanya kemajuan?
Tatkala tembok angkuh itu berdiri megah
Jalan beton mengular ke segala arah
Sementara para petani kehilangan lahan
Nelayan-nelayan kehilangan tangkapan

Ladang-ladang kini disulap menjadi pabrik
Mahasiswa bermimpi kerja di ruang ber-AC
Manusia-manusia desa minggat ke kota
Mental jongos mewabah setiap kepala
Siapa yang lemah akan diinjak dan dilindas sampai mati
Sungguh, bukan ini yang namanya kemajuan!
Jika bapakku petani,
Aku juga ingin jadi petani
Jika bapakku nelayan,
Aku juga ingin jadi nelayan

Sarjana-sarjana!
Kembalilah ke sawah,
Kembalilah ke lautan,
Jika ladang dan tambak kau tinggalkan
Bersiaplah mati oleh taring kapitalis

Rabu, 26 Juni 2013

MENGEJAR MATAHARI




Hari ini, senja datang seperti biasa
Lalu mentari hilang diantara garis cakrawala
Luka, gelisah, dan lara terakumulasi bersama malam
Tersimpan menjadi mimpi buruk dalam lelap dunia

Saat tubuh lelah ini menuntut berhenti
Jiwa telah tertinggal bersama mimpi-mimpi
Kita meraba-raba cinta yang lama kita lupakan
Mentari yang tak mau berhenti, kita benci setengah mati
Sejarah menjadi drakula penghisap darah

Kita faham, tapi kita menipu diri
Mentari tak pernah hilang
Dia ada di sana, bumilah yang sedang berputar

Saat esok hari membuka lembaran pagi
Tataplah sinar tajam di ufuk timur dengan berani
Berlarilah mengejar matahari
Karena itu tak akan membuatmu berhenti berlari

Nikmatilah setiap misteri dan kejutan
Karena hidup hanya bermuara pada dua pilihan
Kesenangan dan kesedihan
Tapi nikmatilah setiap langkah yang hatimu pilihkan
Karena disanalah berada kebahagian

Hidup bukan tentang hasil dari setiap pilihan yang kita ambil
Hidup adalah tentang pilihan-pilihan itu sendiri

Selasa, 19 Maret 2013

DOA SEORANG GELANDANGAN

Malam telah larut....!

Kabut sunyi yang pekat tersenyum
Memeluk jiwa-jiwa kalah yang gelisah

Jalanan sepi...
Tiga wanita dengan baju tak pantas
Berdiri di sudut perempatan
Bibir merah itu
Adalah korban kehidupan
Pipi merah itu
Adalah korban zaman

Malam semakin larut...!
Bocah laki-laki bermain gitar di seberang jalan
Nyanyiannya getir
Hatinya berteriak penuh amarah
Dan hidup membalas dengan sumpah serapah

Aku berbaring di bawah bintang
Di atas tanah yang makin egois
Menahan luka yang semakin lelah

Anakku janganlah merengek lagi
Biarkan ibumu tertidur
Hidup ini terkadang memang kejam
Tapi Tuhan kita tidak pernah terpejam

Kita memang hanya orang terpinggir
Hidup di jalanan yang lengang
Tanpa atap dan lantai
Tanpa tiang dan jendela

Anak dan istriku...
Janganlah kalian bersedih
Tuhan mendengar doa kita
Tabahkan hati kalian
Janganlah ada iri dan dengki
Pada mereka yang kuasa...
Pada mereka yang kuasa...

Kita memang hanya orang terpinggir
Hidup di jalanan yang lengang
Hanya Tuhan yang akan menjawab doa kita

Ya Tuhan...
Jangan Kau tinggalkan kami
Beri kami cinta-Mu
Beri kami kelapangan hati
Kepada mereka yang lebih berkuasa...
Sayangilah mereka!
Ampunilah mereka!
Jangan biarkan kami iri pada mereka!
Jangan biarkan kami menyimpan dengki pada mereka!
Tabahkanlah kami...
Tabahkanlah kami, Tuhan...

Selasa, 08 Januari 2013

HIJAU YANG HILANG



Oh, apa yang sedang terjadi?

Banjir datang lagi dan lagi
Tidak lihatkah kita?
Sampah telah menyumbat segalanya
Menggunung, memenuhi tiap sudut mata
Mengepung kita dari arah mana saja

Hujan tak lagi hadirkan pelangi
Guntur dan badai adalah sang pengganti
Air sudah tak menumbuhkan tanaman
Ternak kita kehausan
Ikan-ikan hilang dalam pencemaran
Sungai tak lagi bermuara di lautan
Danau tak lagi membawa kehidupan

Oh, apa yang telah terjadi?

Senja penuh dengan warna kesedihan
Dengarkah kita malam bernafas dalam luka?
Kunang-kunang tak lagi mau bercerita
Dan rembulan kini berwarna jingga

Tanah gersang!
Tiada lagi cemara, tiada lagi akasia
Hanya kering, kering dan kering
Hutan kita terbakar!
Hutan kita lenyap!
Dan udara dipenuhi asap!

Bumi ini kian letih dan gelisah
Tiada lagi langit biru yang cerah
Tiada lagi gerimis yang basah
Musim apa kiranya sekarang?
Entah, aku telah lama lupa!
Sekarang aku hanya berharap melihat hijau,
Hijau yang telah lama hilang!

Oh, apakah yang terjadi?
Adakah ini bentuk kemarahan Tuhan?
Atau tangan kita yang menyebabkan ini semua?

Selasa, 04 Desember 2012

PENCARI CAHAYA

Kekasihku tunjukkan aku jalan
Bawakan aku lilin untuk penerang

Telah cukup aku berteman dengan malam
Sekarang aku ingin Kau bawa aku
Menuju jalan-Mu yang lurus
Agar cepat hati ini menjadi luruh
Dalam sinar gemerlap kasih-Mu

Kekasihku tunjukkan aku jalan
Bawakan aku lilin untuk penerang

Tiap detik yang ku ingat menjadikanku
Pembunuh.....

September 05

Kamis, 28 Juni 2012

LELAKI MALAM


Aku adalah bintang yang terbakar
Namun cahayaku akan mulai memudar
Mungkin perlahan lenyap dalam roda waktu
Tapi biarkanlah ceritaku hidup selamanya
Bersama puisi dan goresan sejarah

Kenanglah aku…!
Dipuncak sang temaram yang menggila
Lelaki yang tersenyum memeluk bayang-bayang
Mungkin rindu telah menghapus warna rembulan
Hingga bintang tidak lagi berharga untuk dipuja

Pada akhirnya beginilah asmara bercerita
Dalam bait-bait patah hati, nyanyikanlah!
Aku yang luka, mencumbu kabut yang beku
Menjelma bisikan yang menyeberangi langit

Aku adalah lelaki malam
Yang mengagumi hening paling mengerikan
Namun teramat sukar memahami hati seorang wanita
Tapi kenanglah aku…!
Mungkin sebagai sebuah bagian kejayaanmu
Saat jari lentikmu mengangkat piala kemenangan
Dan aku menangis dalam luka dan kekalahan

Mungkin ini adalah malam terakhirku
Tapi aku akan tetap di sini!
Menanti fajar datang membawa kehangatan pagi
Dan akulah yang akan terbakar dibawah mentari
Maka kenanglah aku…
Meski dalam rupa, sebuah cinta tanpa nama
Aku akan hidup selamanya!

Sabtu, 04 Februari 2012

JANGAN TAKUT PADA BADAI


Aku berjalan melawan hujan

Dalam simfoni malam yang meragukan

Berdansa dalam pelukan dingin sang bulan

Bumi basah kuyup

Tubuh menggigil


Kadang hidup memang menakutkan

Duri tajam terserak sepanjang jalan

Perihnya tak jarang melumpuhkan kaki

Dan hati jadi kaku untuk berbagi pada nurani

Tapi mari kita bersulang,

Karena dalam setiap tanya, selalu ada jawaban


Nikmatilah perjamuan munafik ini

Topeng-topeng itu tidak akan pernah lepas

Saat pesta belum usai, mereka akan turut bernyanyi

Pada masanya, lampu pasti akan dipadamkan

Dan tibalah saatnya untuk membubarkan diri


Ah, mengapa harus takut pada badai?

Bukankah takdir hanya harus digenapkan?

Pada garisnya aku hanya cukup untuk terus maju

Memainkan langkah dengan sedikit improvisasi

Lalu saat badai datang, menarilah dalam hujan!


Meski takdir tak memberi banyak pilihan

Aku punya cukup waktu untuk memutuskan

Berjalan terus atau menyerah pada badai

Karena hidup adalah cita-cita

Dan cita-cita adalah hidup itu sendiri


Ayo sobat! Mari merayakan hidup!

Karena hidup, memang pantas untuk dirayakan!

Sabtu, 10 Desember 2011

ILALANG RINDU KAMPUNG KENANGAN

Aku teringat pada ilalang yang aku rindu
Ditengah pelosok kampung penuh kenangan
Kala purnama menyinari malam
Jangkrik bernyanyi dengan berisik

Kami dahulu adalah sahabatmu
Yang berlarian bebas tanpa beban
Bermain bersamamu dalam siang dan malam

Waktu telah mengubah semua
Kau semakin hilang dalam peradaban
Dan aku terbebani dalam tanggung jawab

Kampung ku semakin hilang kini
Orang-orang latah pada istilah modernisasi
Di kampung, berdiri kota
Di kota, kampung dihapuskan dari peradaban
Tembok-tembok dibangun berjajar
Ramah-tamah, tegur-sapa terasa asing sekali

Kampung ini sekarang tidak sama lagi
Zaman telah mengubahnya dalam-dalam
Menyulapnya jadi kian asing dalam pikiranku
Membuat puzzle kenanganku sukar kucocokkan ulang

Kusyukuri kau tetap ada di sana,
Setia menjadi bagian memoriku
Meski kini kau sendiri
Ditinggal oleh sahabat terbaikmu
Anak-anak kecil polos
Yang menghabiskan waktu di bawah mentari
Berpeluh, bermain petak umpet dan kejar-kejaran
Mereka kini memilih berkawan dengan elektronik
Playstation dan Personal Computer

Ilalang di tengah kampung yang tak berkawan dengan zaman
Sebatang kara kini kau tak berpenghuni
Aku datang untuk menemui mu
Mengucap salam dan bernostalgia dengan kenangan
Bercerita tentang sahabat-sahabat masa kecilku
Yang entah dimana mereka kini?

Selasa, 14 Desember 2010

SEBUAH REPERTOIR

Ada suara berisik dari zaman yang sekarat
Jiwa-jiwa telah hilang dalam hutan logika
Nurani terasing dalam hiruk-pikuk peradaban
Pergiliran waktu membuat hati kian hitam
Topeng-topeng sandiwara terserak di mana-mana
Hingar-bingar pesta dunia telah dimulai
Kita larut dan ikut mabuk bersama

Ini adalah drama yang tak layak dipentaskan
Tirai panggung telah dibentangkan
Lampu-lampu telah dinyalakan

Biarlah kisah sunyi ini terekam dalam kenangan
Dalam bait-bait catatan harian masa silam
Tidak perlu ada yang membacanya
Tidak perlu ada yang mendengarnya

Hidup telah menawarkan banyak keindahan
Arus dunia mengajak kita terus hanyut
Semakin dalam…
Semakin tenggelam…

Hingga kita sampai pada satu titik balik
Ketika pintu cahaya telah ditemukan
Memperkenalkan kita tentang mana hitam dan putih
Kadang kita bimbang
Tapi manusia bisa memilih, manusia harus memilih

Skenario mulai dituliskan
Babak baru mulai dimainkan
Para aktor telah ditentukan

Aku bertanya: Sedanga apa kau?
Aku menjawab: Menulis puisi.
Aku bertanya: Untuk siapa?
Aku menjawab: Untuk diriku sendiri
Aku bertanya: Untuk apa?
Aku menjawab: Untuk sebuah drama
Aku bertanya
Aku menjawab
Aku tertawa

Kita sedang mementaskan drama kehidupan
Tiap langkah ini adalah perjuangan
Dan kita sedang berjalan menuju syurga, InsyaAllah

Kamis, 10 Juni 2010

IRONI

Dalam dingin pelukan malam
Aku mencari arti semua ini
Sesuatu yang tak pernah punya makna
Hanya kata dengan seribu tanya

Raga yang bicara menyulam rasa
Sebuah rindu yang tiada terkata
Hanya kupendam, hanya kusimpan
Seperti bulan di selimuti awan

Kala pagi menyuarakan cita
Aku jadi tak percaya pada hati
Asa itu jadi biasa
Aku jadi tak berguna
Semua sudah biasa

Seperti air mata untaikan kesedihan
Sebuah arti yang tak kan ditemui
Baik di kamus bahasa manapun
Hanya suara yang tak mau bicara
Dengan bahasa diam ia beri jawaban

Seperti pengembara bertanya pada bintang
Berlomba mencari sesuatu tak pasti
Tak tentu arah dan tujuan
Hanya punya satu impian

Cerita lama tentang seorang wanita
Yang punya cinta berjuta makna
Seperti madu yang mahal harganya
Atau api yang membakar kerangka
Hingga tiada bentuk tersisa
Karena rindu yang membunuh jiwa

Lalu waktu memberontak...
Kau disana berjalan mencari bahagia
Aku disini menunggu mati
Lalu bagaimana ku hidup tanpamu...?

Pontianak,
July 04

Kamis, 28 Januari 2010

BERITA DUKA CITA INDONESIA

Kemarin hari di televisi tua buatan cina
Berita duka kembali mengudara
Bercerita tentang negeri tak bernurani

Seorang nenek tewas terinjak saat berebut zakat
Seorang bayi dibuang ibunya di tempat sampah
Seorang bocah gelandangan sepuluh tahun mati di mutilasi

Kemarin hari pula, di layar televisi tua buatan cina pula
Berita duka sekali lagi mengudara
Bercerita pula tentang negeri yang tak bernuarani

Para pejabat dan menteri mendapat mobil mewah baru
Yang uangnya dari pajak rakyat miskin dan melarat
Seperti tak punya rasa malu mereka-mereka itu
Yang membuang 6,7 Triliun uang negara
Kemudian tidak ada yang merasa bertanggung jawab

Kemarin hari lagi, di layar televisi tua buatan cina lagi
Berita duka terus-menerus mengudara
Bercerita lagi tentang negeri yang tak bernuarani

Seorang Ibu di tangkap polisi karena mencuri dua buah coklat
Padahal penilep uang negara miliaran rupiah bebas lari ke luar negeri
Seorang ibu lain di hukum karena menulis keluhannya di surat elektronik
Padahal penyuap polisi dan jaksa tidak juga diadili kesalahannya
Meski dosanya sudah terdengar hampir di setiap telinga

Berita duka di negeri ini tidak berhenti mengudara
Seperti jargon lama Radio kita...
“Sekali di udara tetap di udara”

Sekarang, Mari kita heningkan cipta!

Selamat jalan nurani Indonesia
Semoga suatu saat nanti, engkau akan hidup kembali

Pontianak, Januari 2010

Selasa, 19 Januari 2010

DARI SEORANG PENYENDIRI KEPADA AYAHNYA

Ingin ku sampaikan ini padamu,
Meski aku tidak terbiasa menjadi melankolis
Di hadapanmu

Rasanya waktu berjalan terlalu cepat bagi kita berdua
Seperti baru kemarin rasanya aku masih menjadi anak-anak
Namun tanpa terasa kini aku sudah menjadi dewasa sepertimu

Kita memang sering tak sejalan
Karena kita sama-sama laki-laki yang keras kepala
Yang tidak mempercayakan takdir kita pada kata orang lain
Dan enggan menyerah sampai akhir

Engkau seperti tidak pernah termakan zaman
Meski bahu kukuhmu mulai surut menahan beban
Namun matamu senantiasa berbinar seperti dahulu
Tiap kali menatap anak-anakmu

Jika kemarin hari atau besok kita berselisih
Aku tahu kau tidak pernah menganggapnya serius
Selain sebagai dinamika pencarian jati diri untukku
Dan dengan mudah kau akan memaafkannya begitu saja

Dalam renungan-renungan kesendirianku
Kuingat lagi petuah-petuahmu abadimu
Yang kuukir di sisi relung hatiku
Pengalaman memang telah mengajarkanmu tentang segalanya
Rumusan kehidupan yang awam aku selami

Engkau adalah Ayahku!!!
Yang selamanya mengalirkan darah di tubuhku
Yang mewariskan namamu di ujung namaku
Agar aku tak salah langkah....

Pontianak, Januari 2010

Minggu, 10 Januari 2010

OMONG KOSONG

Orang bohong…
Omong kosong…
Aku dengar…
Mereka ngomong
Bohong-bohong
Aku lempar
Sandal bolong.

Pontianak, Juni 2009

DI NEGERI INI TIDAK ADA LAGI YANG NAMANYA KEADILAN

Kemarin dan hari-hari ini sama saja
Berita yang dibawakan di TV, itu-itu saja
Kasus korupsi yang tak pernah usai
Dan rakyat kelaparan

Kalau besok ada lagi bapak yang mencuri
Untuk makan anaknya
Ia akan masuk berita setelah di pukul massa
Di sisi kanan halaman lima surat kabar senja
Mukanya hancur dan berdarah-darah
Padahal maunya ia, hanya agar anaknya bisa makan
Tapi toh, siapa yang mau peduli

Dan tak jauh dari tempatnya
Mungkin hanya beberapa kilometer
Gubernur, Menteri, atau Presiden
Makan hingga perutnya kenyang dan buncit
Lalu tidur dengan permaisurinya yang cantik
Uangnya dari pajak rakyat
Termasuk dari bapak tadi, Si maling yang babak belur
Untuk cari makan anaknya

Si maling masuk penjara, mendekam berbulan-tahun
Kerena si anak merengek minta makan
Dia memang salah, mencuri tetap saja dosa
Tapi kemarin, Gubernurnya beli mobil baru
Dengan uang entah dari mana
Menterinya punya rumah baru dari
Bonus gaib sana-sini
Presidennya tidak usah dibicarakan lagi
Entah ada atau tidak penjara untuk mereka
Padahal mereka sudah terima gaji
Yang asalnya dari pajak rakyat
Pajak, kalau tak mau dibilang memeras
Karena semboyan yang dari rakyat
Untuk rakyat itu,
Melulu dari rakyat dan tak pernah
Dirasa untuk rakyat
Semuanya akhirnya membuncitkan perut penguasa

Sekarang kita tanya,
Dimanakah keadilan itu ?

Agustus 06

Sabtu, 19 Desember 2009

RINDU

Aku benci, harus jujur
Bahwa hari ini dingin sekali
Dan aku hanya seorang diri di sini
Sungguh....
Dalam gigil ini, aku merindukanmu

Oktober 09

Jumat, 18 Desember 2009

MEMORI HUJAN

Aku rindu kamu.
Engkau dimana?
Datanglah segera!
Aku telah lelah meunggumu
Aku capek...

Hujan kali ini basahkan hatiku yang galau
Aku ingin keluar!
Aku ingin menentang badai!
Walaupun aku lelah
Aku capek…

Sinarmu dimana?
Mengapa kau tak beri aku tanda
Apa kau sudah lupa aku

Hujan kali ini jadi pembuka memori
Ketika kau pergi di bawah guyurannya
Tapi mungkin kau sudah lupa itu semua

Hujan berhenti
Angin bertiup kembali
Aku lagi-lagi menunggumu
Padahal aku lelah
Aku capek...

Januari 05