Tampilkan postingan dengan label Sebuah Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sebuah Renungan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Oktober 2013

UPACARA MINUM KOPI


Resapilah indahnya hidup
Dalam secangkir kopi di pagi hari
Kemudian nikmatilah saat-saat penuh filosofi
Ketika kesadaran meraih kebebasan berimaji

Sisihkan waktu sejenak menyiapkan bara
Bila panas menyenangkan, mengapa puas pada kebekuan
Siapkanlah cangkir terbaikmu
Karena hal-hal baik, memang perlu yang terbaik

Satu, dua, atau tiga ini hanya soal selera
Manis adalah pilihan, getir adalah kenyataan
Memang tak ada korelasi lelaki dan kelatnya rasa
Tapi hanya pemberani yang berkawan dengan tantangan

Harumnya adalah pemikat
Butiran itu larut dalam udara
Menebar nuansa menghangatkan suasana
Ibarat sebuah proses, menjelmalah bersama masa
Dari tanah, lalu menjadi tak sekedar aroma

Hitamnya tak bermakna apa-apa
Karena lidah memang lebih fasih dari mata
Sensasinya mungkin berbeda-beda
Bersahabat, erat, kadang terlalu pekat
Tapi ia menjadi candu, membuat kita mengulangnya selalu
Mungkin serupa juga dengan hidup
Walau kadang terasa terlalu pahit
Selalu ada nikmat yang bisa kita syukuri
Selalu ada syukur yang bisa kita nikmati

Ku habiskan isi cangkirku
Mengecap apa yang tersisa di dasarnya
Mungkin kopi ini terlalu kental

Dan aku, tak berniat terjaga selamanya

Rabu, 31 Juli 2013

SAJAK TANAH GERSANG


Ada tanda tanya di dinding pencakar langit

Inikah yang namanya kemajuan?
Tatkala tembok angkuh itu berdiri megah
Jalan beton mengular ke segala arah
Sementara para petani kehilangan lahan
Nelayan-nelayan kehilangan tangkapan

Ladang-ladang kini disulap menjadi pabrik
Mahasiswa bermimpi kerja di ruang ber-AC
Manusia-manusia desa minggat ke kota
Mental jongos mewabah setiap kepala
Siapa yang lemah akan diinjak dan dilindas sampai mati
Sungguh, bukan ini yang namanya kemajuan!
Jika bapakku petani,
Aku juga ingin jadi petani
Jika bapakku nelayan,
Aku juga ingin jadi nelayan

Sarjana-sarjana!
Kembalilah ke sawah,
Kembalilah ke lautan,
Jika ladang dan tambak kau tinggalkan
Bersiaplah mati oleh taring kapitalis

Rabu, 26 Juni 2013

MENGEJAR MATAHARI




Hari ini, senja datang seperti biasa
Lalu mentari hilang diantara garis cakrawala
Luka, gelisah, dan lara terakumulasi bersama malam
Tersimpan menjadi mimpi buruk dalam lelap dunia

Saat tubuh lelah ini menuntut berhenti
Jiwa telah tertinggal bersama mimpi-mimpi
Kita meraba-raba cinta yang lama kita lupakan
Mentari yang tak mau berhenti, kita benci setengah mati
Sejarah menjadi drakula penghisap darah

Kita faham, tapi kita menipu diri
Mentari tak pernah hilang
Dia ada di sana, bumilah yang sedang berputar

Saat esok hari membuka lembaran pagi
Tataplah sinar tajam di ufuk timur dengan berani
Berlarilah mengejar matahari
Karena itu tak akan membuatmu berhenti berlari

Nikmatilah setiap misteri dan kejutan
Karena hidup hanya bermuara pada dua pilihan
Kesenangan dan kesedihan
Tapi nikmatilah setiap langkah yang hatimu pilihkan
Karena disanalah berada kebahagian

Hidup bukan tentang hasil dari setiap pilihan yang kita ambil
Hidup adalah tentang pilihan-pilihan itu sendiri

Rabu, 29 Mei 2013

DIALOG AKHIR MALAM

Sang sepi menyeringai ditengah malam

Teruntuk jiwa-jiwa yang menyendiri dalam senyap
Yang tebangun dengan gelisah di puncak sang temaram
Berteman kabut kelam yang jahat dan kejam
Serta sinar rembulan yang kian pudar

Lidah-lidah yang kering ini mulai basah
Ayat-ayat cinta telah didendangkan syahdu
Taubat telah dibenamkan dalam sajadah yang kusam
Hanya ada desah kepedihan, kala mengingat dosa.
Hanya ada desah pengharapan, kala mengingat Engkau.

Hati ini hitam legam,
Terkotori oleh zaman yang kian suram.
Jiwa-jiwa yang tersesat ini mencari jalan pulang
Langkah-langkah bimbang ini perlu tempat tujuan

Entah dengan apa akan ku tebus surga-Mu,
Yang kupunya hanya sujud-sujud sederhana
Dan doa-doa pelan yang terselip dalam masa
Rasanya tak akan cukup,
Kecuali dengan Rahmat-Mu yang agung

Dalam malam yang senyap,
Kening kasar ini tenggelam dalam alas sujud
Aku ingin mendengarkan suara-Mu
Berbisik pada hatiku yang galau

Malam ini memang dingin dan sunyi
Namun aku tak ingin berhenti memuja
Dalam lirih suara, kusebut nama-Mu
Temani keheninganku dalam jaga dan air mata

Malam ini ku ingin Engkau menemani jiwa ku yang resah
Tuntunlah aku melintasi jalan yang  mengarah pada-Mu
Jangan biarkan aku berjalan dalam pekat tanpa arah
Aku sedang tak mau sendirian.

Selasa, 19 Maret 2013

DOA SEORANG GELANDANGAN

Malam telah larut....!

Kabut sunyi yang pekat tersenyum
Memeluk jiwa-jiwa kalah yang gelisah

Jalanan sepi...
Tiga wanita dengan baju tak pantas
Berdiri di sudut perempatan
Bibir merah itu
Adalah korban kehidupan
Pipi merah itu
Adalah korban zaman

Malam semakin larut...!
Bocah laki-laki bermain gitar di seberang jalan
Nyanyiannya getir
Hatinya berteriak penuh amarah
Dan hidup membalas dengan sumpah serapah

Aku berbaring di bawah bintang
Di atas tanah yang makin egois
Menahan luka yang semakin lelah

Anakku janganlah merengek lagi
Biarkan ibumu tertidur
Hidup ini terkadang memang kejam
Tapi Tuhan kita tidak pernah terpejam

Kita memang hanya orang terpinggir
Hidup di jalanan yang lengang
Tanpa atap dan lantai
Tanpa tiang dan jendela

Anak dan istriku...
Janganlah kalian bersedih
Tuhan mendengar doa kita
Tabahkan hati kalian
Janganlah ada iri dan dengki
Pada mereka yang kuasa...
Pada mereka yang kuasa...

Kita memang hanya orang terpinggir
Hidup di jalanan yang lengang
Hanya Tuhan yang akan menjawab doa kita

Ya Tuhan...
Jangan Kau tinggalkan kami
Beri kami cinta-Mu
Beri kami kelapangan hati
Kepada mereka yang lebih berkuasa...
Sayangilah mereka!
Ampunilah mereka!
Jangan biarkan kami iri pada mereka!
Jangan biarkan kami menyimpan dengki pada mereka!
Tabahkanlah kami...
Tabahkanlah kami, Tuhan...

Selasa, 04 Desember 2012

PENCARI CAHAYA

Kekasihku tunjukkan aku jalan
Bawakan aku lilin untuk penerang

Telah cukup aku berteman dengan malam
Sekarang aku ingin Kau bawa aku
Menuju jalan-Mu yang lurus
Agar cepat hati ini menjadi luruh
Dalam sinar gemerlap kasih-Mu

Kekasihku tunjukkan aku jalan
Bawakan aku lilin untuk penerang

Tiap detik yang ku ingat menjadikanku
Pembunuh.....

September 05

Kamis, 14 Juni 2012

MENJUMPAI KEMATIAN


Pada akhirnya semua menjadi teramat sederhana
Seperti dalam sebuah hari yang biasa saja
Saat wujud kematian adalah bayang-bayang
Tak tersentuh, dan aku berjalan seperti sediakala

Tapi ini bukan perkara yang sukar
Bahwa hakikat mentari adalah mencintai horison
Dan senja tidak bisa dimaju mundurkan
Karena waktu bukan seperti jam weker
Yang bisa atur ulang kapan ia akan bersuara

Kapankah diri ini siap menghadap kematian?
Angka-angka itu bukan rumusan matematika
Bahwa detik kematian adalah teka-teki paling hakiki

Aku tidak ingin berada di dunia selamanya
Tapi aku masih ingin hidup seribu tahun lagi
Jika kau bertanya kepadaku,
Kapankah aku akan siap menghadap kematian?
Tidak sekarang
Tidak besok
Tidak lusa
Tidak pula nanti
Karena memang mungkin,
Tak pernah ada kata siap untuk sebuah kematian

Namun ketika pada akhirnya dia datang,
Aku akan tersenyum kepadanya!
Dan kuulurkan tanganku menyambut kehadirannya

Sungguh…
Yang terpenting bukan kapan kematian itu akan menjemputku,
Tapi dimanakah aku saat ia datang menjumpaiku?
Aku tahu, aku tidak bisa lari darinya
Karena waktu akan selalu berjalan maju
Hidup hanyalah menunda kematian

Sabtu, 04 Februari 2012

JANGAN TAKUT PADA BADAI


Aku berjalan melawan hujan

Dalam simfoni malam yang meragukan

Berdansa dalam pelukan dingin sang bulan

Bumi basah kuyup

Tubuh menggigil


Kadang hidup memang menakutkan

Duri tajam terserak sepanjang jalan

Perihnya tak jarang melumpuhkan kaki

Dan hati jadi kaku untuk berbagi pada nurani

Tapi mari kita bersulang,

Karena dalam setiap tanya, selalu ada jawaban


Nikmatilah perjamuan munafik ini

Topeng-topeng itu tidak akan pernah lepas

Saat pesta belum usai, mereka akan turut bernyanyi

Pada masanya, lampu pasti akan dipadamkan

Dan tibalah saatnya untuk membubarkan diri


Ah, mengapa harus takut pada badai?

Bukankah takdir hanya harus digenapkan?

Pada garisnya aku hanya cukup untuk terus maju

Memainkan langkah dengan sedikit improvisasi

Lalu saat badai datang, menarilah dalam hujan!


Meski takdir tak memberi banyak pilihan

Aku punya cukup waktu untuk memutuskan

Berjalan terus atau menyerah pada badai

Karena hidup adalah cita-cita

Dan cita-cita adalah hidup itu sendiri


Ayo sobat! Mari merayakan hidup!

Karena hidup, memang pantas untuk dirayakan!

Minggu, 06 Desember 2009

RENUNGAN MALAM LEBARAN

Angin melintas melewati jendela
Bertasbih aku dalam hening
Dalam hampa yang tidak berdaya

Kutanyakan pada diriku sendiri
Tentang tanya yang tidak terjawab

Pada-Mu tempat aku mengadu
Jawaban tanya yang lama tak ketemu
Hati ini sudah letih
Dan Engkaulah hanya satu tumpuan
Dan aku tidak bisa apa-apa
Selain memuja-Mu penuh cinta
Mengaharap kasih-Mu sepenuhnya

Dalam diam aku bertanya
Dalam tanya ku cari jawab
Dalam jawab ku cari Engkau

November 09

Selasa, 24 November 2009

BALADA SEORANG GEMBEL TUA

Di kanan kiri rel yang tak lagi dipakai
Gerbong-gerbong hitam penuh debu membisu
Sepasang mata tua itu kian sayu
Tangan lemahnya menggoreskan tinta hitam
Di garis-garis kehidupan yang belum mau berhenti
Baginya….
Hanya sebuah senyum getir hatinya
Berkata : Aku sudah lelah

Langit mengguyurkan hujan kepadanya
Tanpa perduli….gundahnya yang membiru
Tubuh kurusnya menggigil dalam temaram yang sunyi
Air hujan yang menusuk kulit, membuat hatinya
Yang dingin menjadi beku dan angin mengiris hatinya
Dengan pisau belati yang paling tajam
Rintihan dan air matanya sudah tak lagi sehangat dulu
Ia sudah lelah
Ia ingin berontak
Hatinya ingin teriak

Perut lapar yang tak jemu menyiksanya
Membuat semangat rentanya makin hilang dalam kabut
Jiwanya kian gentar pada dunia
Nyalinya sudah terkubur di dasar bumi
Dan malam membencinya setengah mati

Sudut gerbong kereta tua, tempatnya berhenti
Dari keras, kejamnya realita
Ia sudah lelah….
Detik jam merantai lengannya
Dunia jadi belenggu
Tuhan, pada-Mu ia bertumpu

Dibuatnya refleksi hati di atas kertas putih
Lagu-lagu cinta dijadikannya puisi tak bermakna
Tanpa punya kata-kata yang manis
Hanya jiwanya penuh khidmat meminta :
Wahai malaikat yang terjaga
Bolehkah kupinjam surga?
Aku sudah lelah dengan dunia.

Pontianak,
Oktober 04

Kamis, 22 Oktober 2009

DAUN DI MUSIM GUGUR

Saat daun-daun berguguran di musimnya
Karena rapuh sudah ranting menahan
Terlihat indah mengantar pergiku
Tubuh renta yang lagi tak berdaya

Kini hatinya telah sunyi dengan mimpi
Pembaringan terasa menusuk punggungnya
Dan mata-mata ini terasa kian berat

Terasa ia masa dahulu
Saat perang yang membakar darahnya
Saat peluru menembus jantungnya
Saat nafasnya ternyata masih mengalir
Tak pernah ia takut mati

Hanya ia tak mengerti
Besok apakah masih ada lagi
Bagi pejuang tua yang telah renta
Menunggu matinya merayap kemari
Di musim gugur di atas pembaringan

Pontianak,
July 04

Selasa, 13 Oktober 2009

KOTA PADANG DI SUATU SENJA

Petaka di senja hari
Saat bumi bergetar hebat
Dan kota Padang terkubur dalam tanah

Lihatlah kini, sebuah irama pilu kembali di mainkan
Dan terdengar ke setiap jendela rumah kita
Bumi telah menjadi tempat istirahat mereka
Mengubur para manusia hidup-hidup

Mari, mari, kita hening cipta barang sesaat
Kita turunkan bendera kita di tengah tiangnya
Rasanya kita punya banyak alasan
Untuk menyalahkan diri kita
Atas semua ini

Lihatlah, lihatlah mereka yang kebingungan
Yang telah terdampar diantara hidup dan mati
Mereka bertanya apa yang terjadi pada kotanya
Lalu bagaimana kita bercerita?
Dari mana kisah ini harus kita mulakan?
Apakah dari tangisan yang terdengar
Seorang ibu kehilangan anaknya
Dua ibu kehilangan anaknya
Sepuluh ibu kehilangan anaknya
Seratus ibu kehilangan anaknya
Ribuan ibu kehilangan anaknya

Lalu lihatlah!
Air mata mereka mengetuk nurani negeri
Seluruh Indonesia kehilangan anaknya
Seluruh Indonesia berduka

Petaka di senja hari
Saat bumi bergetar hebat
Dan kota Padang terkubur dalam tanah


Pontianak
Oktober 09

KAMI YANG DI BESARKAN DI ANTARA KORUPSI, PORNOGRAFI DAN RASA BENCI

Berceritalah kami tentang bagaimana kami di besarkan
Diantara korupsi
Diantara pornografi
Diantara rasa benci

Kami dari kecil telah diajarkan berkorupsi
Dengan mencontek pada ujian berkali-kali
Kami dari kecil telah dijejali pornografi
Oleh layar kaca televisi yang kami temui setiap hari
Kami dari kecil telah di tanamkan untuk saling benci
Dengan memusuhi orang lain dan memutuskan silaturahmi

Inilah kami anak negeri ini
Dibesarkan dengan semua ini
Kami yang awalnya tidak mengerti
Yang bersih, polos dan suci
Kini jadi begini

Silahkan anda berintrospeksi
Wahai bapak dan ibu kami
Moral kami sudah rusak di sana-sini
Negeri ini tak bisa lagi berharap pada kami
Dan kalian punya saham besar sekali untuk semua ini

Oktober 09

Rabu, 23 September 2009

DAUN

Dalam hening dan sunyi
Ku lihat daun yang berguguran
Warna kuning yang unik
Dan tetes embun yang cantik

Daun... daun...
Kalian yang telah tua harus pergi
Adakah penyesalan?
Ketika tubuh renta tidak lagi kembali berbisik
Hanya diam tak punya arti
Lalu pergi seperti daun kuning yang unik

Pontianak,
8 Januari 05