Minggu, 20 Oktober 2013
UPACARA MINUM KOPI
Rabu, 31 Juli 2013
SAJAK TANAH GERSANG
Ada tanda tanya di dinding pencakar langit
Inikah yang namanya kemajuan?
Tatkala tembok angkuh itu berdiri megah
Jalan beton mengular ke segala arah
Sementara para petani kehilangan lahan
Nelayan-nelayan kehilangan tangkapan
Ladang-ladang kini disulap menjadi pabrik
Mahasiswa bermimpi kerja di ruang ber-AC
Manusia-manusia desa minggat ke kota
Mental jongos mewabah setiap kepala
Siapa yang lemah akan diinjak dan dilindas sampai mati
Sungguh, bukan ini yang namanya kemajuan!
Jika bapakku petani,
Aku juga ingin jadi petani
Jika bapakku nelayan,
Aku juga ingin jadi nelayan
Sarjana-sarjana!
Kembalilah ke sawah,
Kembalilah ke lautan,
Jika ladang dan tambak kau tinggalkan
Bersiaplah mati oleh taring kapitalis
Rabu, 26 Juni 2013
MENGEJAR MATAHARI
Rabu, 29 Mei 2013
DIALOG AKHIR MALAM
Selasa, 19 Maret 2013
DOA SEORANG GELANDANGAN
Selasa, 04 Desember 2012
PENCARI CAHAYA
Kamis, 14 Juni 2012
MENJUMPAI KEMATIAN
Sabtu, 04 Februari 2012
JANGAN TAKUT PADA BADAI
Aku berjalan melawan hujan
Dalam simfoni malam yang meragukan
Berdansa dalam pelukan dingin sang bulan
Bumi basah kuyup
Tubuh menggigil
Kadang hidup memang menakutkan
Duri tajam terserak sepanjang jalan
Perihnya tak jarang melumpuhkan kaki
Dan hati jadi kaku untuk berbagi pada nurani
Tapi mari kita bersulang,
Karena dalam setiap tanya, selalu ada jawaban
Nikmatilah perjamuan munafik ini
Topeng-topeng itu tidak akan pernah lepas
Saat pesta belum usai, mereka akan turut bernyanyi
Pada masanya, lampu pasti akan dipadamkan
Dan tibalah saatnya untuk membubarkan diri
Ah, mengapa harus takut pada badai?
Bukankah takdir hanya harus digenapkan?
Pada garisnya aku hanya cukup untuk terus maju
Memainkan langkah dengan sedikit improvisasi
Lalu saat badai datang, menarilah dalam hujan!
Meski takdir tak memberi banyak pilihan
Aku punya cukup waktu untuk memutuskan
Berjalan terus atau menyerah pada badai
Karena hidup adalah cita-cita
Dan cita-cita adalah hidup itu sendiri
Ayo sobat! Mari merayakan hidup!
Karena hidup, memang pantas untuk dirayakan!
Minggu, 06 Desember 2009
RENUNGAN MALAM LEBARAN
Bertasbih aku dalam hening
Dalam hampa yang tidak berdaya
Kutanyakan pada diriku sendiri
Tentang tanya yang tidak terjawab
Pada-Mu tempat aku mengadu
Jawaban tanya yang lama tak ketemu
Hati ini sudah letih
Dan Engkaulah hanya satu tumpuan
Dan aku tidak bisa apa-apa
Selain memuja-Mu penuh cinta
Mengaharap kasih-Mu sepenuhnya
Dalam diam aku bertanya
Dalam tanya ku cari jawab
Dalam jawab ku cari Engkau
Selasa, 24 November 2009
BALADA SEORANG GEMBEL TUA
Gerbong-gerbong hitam penuh debu membisu
Sepasang mata tua itu kian sayu
Tangan lemahnya menggoreskan tinta hitam
Di garis-garis kehidupan yang belum mau berhenti
Baginya….
Hanya sebuah senyum getir hatinya
Berkata : Aku sudah lelah
Langit mengguyurkan hujan kepadanya
Tanpa perduli….gundahnya yang membiru
Tubuh kurusnya menggigil dalam temaram yang sunyi
Air hujan yang menusuk kulit, membuat hatinya
Yang dingin menjadi beku dan angin mengiris hatinya
Dengan pisau belati yang paling tajam
Rintihan dan air matanya sudah tak lagi sehangat dulu
Ia sudah lelah
Ia ingin berontak
Hatinya ingin teriak
Perut lapar yang tak jemu menyiksanya
Membuat semangat rentanya makin hilang dalam kabut
Jiwanya kian gentar pada dunia
Nyalinya sudah terkubur di dasar bumi
Dan malam membencinya setengah mati
Sudut gerbong kereta tua, tempatnya berhenti
Dari keras, kejamnya realita
Ia sudah lelah….
Detik jam merantai lengannya
Dunia jadi belenggu
Tuhan, pada-Mu ia bertumpu
Dibuatnya refleksi hati di atas kertas putih
Lagu-lagu cinta dijadikannya puisi tak bermakna
Tanpa punya kata-kata yang manis
Hanya jiwanya penuh khidmat meminta :
Wahai malaikat yang terjaga
Bolehkah kupinjam surga?
Aku sudah lelah dengan dunia.
Oktober 04
Kamis, 22 Oktober 2009
DAUN DI MUSIM GUGUR
Karena rapuh sudah ranting menahan
Terlihat indah mengantar pergiku
Tubuh renta yang lagi tak berdaya
Kini hatinya telah sunyi dengan mimpi
Pembaringan terasa menusuk punggungnya
Dan mata-mata ini terasa kian berat
Terasa ia masa dahulu
Saat perang yang membakar darahnya
Saat peluru menembus jantungnya
Saat nafasnya ternyata masih mengalir
Tak pernah ia takut mati
Hanya ia tak mengerti
Besok apakah masih ada lagi
Bagi pejuang tua yang telah renta
Menunggu matinya merayap kemari
Di musim gugur di atas pembaringan
July 04
Selasa, 13 Oktober 2009
KOTA PADANG DI SUATU SENJA
Saat bumi bergetar hebat
Dan kota Padang terkubur dalam tanah
Lihatlah kini, sebuah irama pilu kembali di mainkan
Dan terdengar ke setiap jendela rumah kita
Bumi telah menjadi tempat istirahat mereka
Mengubur para manusia hidup-hidup
Mari, mari, kita hening cipta barang sesaat
Kita turunkan bendera kita di tengah tiangnya
Rasanya kita punya banyak alasan
Untuk menyalahkan diri kita
Atas semua ini
Lihatlah, lihatlah mereka yang kebingungan
Yang telah terdampar diantara hidup dan mati
Mereka bertanya apa yang terjadi pada kotanya
Lalu bagaimana kita bercerita?
Dari mana kisah ini harus kita mulakan?
Apakah dari tangisan yang terdengar
Seorang ibu kehilangan anaknya
Dua ibu kehilangan anaknya
Sepuluh ibu kehilangan anaknya
Seratus ibu kehilangan anaknya
Ribuan ibu kehilangan anaknya
Lalu lihatlah!
Air mata mereka mengetuk nurani negeri
Seluruh Indonesia kehilangan anaknya
Seluruh Indonesia berduka
Petaka di senja hari
Saat bumi bergetar hebat
Dan kota Padang terkubur dalam tanah
Oktober 09
KAMI YANG DI BESARKAN DI ANTARA KORUPSI, PORNOGRAFI DAN RASA BENCI
Diantara korupsi
Diantara pornografi
Diantara rasa benci
Kami dari kecil telah diajarkan berkorupsi
Dengan mencontek pada ujian berkali-kali
Kami dari kecil telah dijejali pornografi
Oleh layar kaca televisi yang kami temui setiap hari
Kami dari kecil telah di tanamkan untuk saling benci
Dengan memusuhi orang lain dan memutuskan silaturahmi
Inilah kami anak negeri ini
Dibesarkan dengan semua ini
Kami yang awalnya tidak mengerti
Yang bersih, polos dan suci
Kini jadi begini
Silahkan anda berintrospeksi
Wahai bapak dan ibu kami
Moral kami sudah rusak di sana-sini
Negeri ini tak bisa lagi berharap pada kami
Dan kalian punya saham besar sekali untuk semua ini
Rabu, 23 September 2009
DAUN
Ku lihat daun yang berguguran
Warna kuning yang unik
Dan tetes embun yang cantik
Daun... daun...
Kalian yang telah tua harus pergi
Adakah penyesalan?
Ketika tubuh renta tidak lagi kembali berbisik
Hanya diam tak punya arti
Lalu pergi seperti daun kuning yang unik
8 Januari 05




