Tampilkan postingan dengan label Nyanyian Rindu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nyanyian Rindu. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Maret 2014

GADIS YANG SEPERTI MATAHARI

Kau gadis yang seperti matahari
Yang hilang bersama senja yang syahdu
Aku selalu berharap malam tak pernah datang
Karena betapapun indahnya, perpisahan adalah kehilangan
Yang merdunya kita nikmati hanya dalam lagu
Percayalah, penyair-penyair itu hanyalah sekumpulan penipu
Yang mereka sendiri tahu, puisi tak akan pernah keluar dari buku

Wahai gadis yang seperti matahari
Aku mengenalmu ketika shubuh sedang gelap-gelapnya
Kau buat aku percaya, kalau hari ini mungkin akan berbeda
Sementara kau sendiri sering kali ragu, sinarmu tak sempurna
Seolah-olah kau berhutang pada semesta
Padahal cahayamu, me-ji-ku-hi-bi-ni-u
Memberi makna pada warna di dunia


Wahai Gadis yang membuatku jatuh cinta pada matahari
Jangan pernah lemah oleh cibiran para pembenci
Karena sempurna itu tidak pernah ada yang memiliki
Aku, kau, mereka, kita, semua, sama
Tapi jelas engkau punya makna berbeda
Karena kau adalah matahari,
Bagi kami orang-orang yang kau cintai
Bagi kami orang-orang yang mencintai
Bahkan saat malam gelap sempurna
Dan purnama sedang cantik-cantiknya
Kami tahu cahaya indah itu darimana datangnya

Di ujung dunia ini,
Tiap kali senja datang, aku selalu merindukanmu

Rabu, 26 Februari 2014

UNTUK ZU II

Aku selalu berfikir kita masih punya banyak waktu, Zu…
Tanpa sadar bahwa semua di sekitar kita berubah
Padahal ia bukan waktu namanya kalau tak terus maju
Aku berubah, kau pun berubah
Dan kita tak pernah lagi sama

Apakah waktu sebegitu memusuhi kita?
Ah… tidak juga…
Kita sajalah terlalu sombong pada takdir
Padahal waktu sudah menyuruh kita menjadi dewasa
Tapi kita tidak mau menurutinya
Kita terlenan oleh bayangan dan angan-angan
Tanpa menyadari kita terpisah sehasta demi sehasta
Semakin jauh, hingga jarak membuat kita asing
Membuat kita tak lagi berbicara dengan cinta

Aku tidak akan menyalahkanmu, Zu…
Karena memang tidak ada yang keliru
Kau dan aku adalah protagonist dalam hidup ini
Tak ada yang mendikte kita dalam menentukan arah
Kita adalah manusia-manusia yang merdeka
Bahwa dalam setiap pilihan ada yang harus direlakan
Itu adalah keniscayaan…
Karena kemenangan yang diraih tanpa pengorbanan
Rasanya tidak cukup patut untuk dirayakan

Jika pada akhirnya kisah ini berakhir tak seindah mimpi
Aku akan dengan senang hati melepasmu
Mengakui ke kalahanku…
Tapi selama waktu masih menjanjikan harapan, Zu…
Aku akan tetap melangkah kepadamu
Merekonstruksi janji-janji
Merfleksi mimpi-mimpi


Sabtu, 12 Oktober 2013

MEMBACA PERTANDA

 

Aku terjaga dari rahim sang malam
Ketika seperempat abad datang menghampiri
Halaman pertama sebuah catatan
Berlanjut dalam lembaran-lebaran terbaru
Terselingi, namun tidak pernah benar-benar terganti

Hari ini waktu seakan berhenti dalam kontempolasi
Jalan hidup telah membawaku sampai di sini
Takdir mengeliminasi sekian banyak pilihan
Meninggalkan aku untuk mempersiapkan sebuah jawaban

Dalam lelap semesta, pemahaman menyelinap
Memberikan wujud kepada mimpi-mimpi senyap
Jawaban atas renungan-renungan di kala gelap
Apakah ini adalah firasat?

Aku percaya pada pertanda…
Karena Tuhan berbicara kepada hamba
Dan alam berisyarat dalam sebuah bahasa
Hanya terkadang kita tak sanggup membacanya
Dan aku akan mengikuti kemana ia akan membawa

Rabu, 11 September 2013

SAJAK SEPULUH SEPTEMBER II

Waktu itu unik ya, Zu?
Karena waktu kita bertemu
Karena waktu pula kita berpisah
Dan perlahan-lahan kita semakin jauh

Ada apa ya, Zu?
Mengapa takdir tak tersenyum pada kita?
Padahal kufikir cinta itu semanis madu
Tapi luka, ternyata perihnya berlipat seribu

Aneh kan, Zu?
Cerita ini sudah lama terlewati
Tapi masih saja ingin selalu aku nikmati
Seolah-olah fragmen waktu dapat kita ulangi
Padahal jalan takdir ini tak akan pernah bisa direvisi
Yah, paling tidak, dalam sejarahlah kau bisa kumiliki sendiri


Hari ini 10 september lagi, Zu
Aku masih ingin mengenangmu seperti dulu
Meski, tentu saja, kau sudah tidak sama lagi
Tidak pernah sama lagi!

Tapi, sudahlah, Zu
Untuk malam ini saja!
Izinkan aku memimpikanmu,
Agar aku bisa melanjutkan hidup untuk esok hari

Sui Raya 
10 September 2012

Sabtu, 10 Desember 2011

ILALANG RINDU KAMPUNG KENANGAN

Aku teringat pada ilalang yang aku rindu
Ditengah pelosok kampung penuh kenangan
Kala purnama menyinari malam
Jangkrik bernyanyi dengan berisik

Kami dahulu adalah sahabatmu
Yang berlarian bebas tanpa beban
Bermain bersamamu dalam siang dan malam

Waktu telah mengubah semua
Kau semakin hilang dalam peradaban
Dan aku terbebani dalam tanggung jawab

Kampung ku semakin hilang kini
Orang-orang latah pada istilah modernisasi
Di kampung, berdiri kota
Di kota, kampung dihapuskan dari peradaban
Tembok-tembok dibangun berjajar
Ramah-tamah, tegur-sapa terasa asing sekali

Kampung ini sekarang tidak sama lagi
Zaman telah mengubahnya dalam-dalam
Menyulapnya jadi kian asing dalam pikiranku
Membuat puzzle kenanganku sukar kucocokkan ulang

Kusyukuri kau tetap ada di sana,
Setia menjadi bagian memoriku
Meski kini kau sendiri
Ditinggal oleh sahabat terbaikmu
Anak-anak kecil polos
Yang menghabiskan waktu di bawah mentari
Berpeluh, bermain petak umpet dan kejar-kejaran
Mereka kini memilih berkawan dengan elektronik
Playstation dan Personal Computer

Ilalang di tengah kampung yang tak berkawan dengan zaman
Sebatang kara kini kau tak berpenghuni
Aku datang untuk menemui mu
Mengucap salam dan bernostalgia dengan kenangan
Bercerita tentang sahabat-sahabat masa kecilku
Yang entah dimana mereka kini?

Kamis, 10 Juni 2010

IRONI

Dalam dingin pelukan malam
Aku mencari arti semua ini
Sesuatu yang tak pernah punya makna
Hanya kata dengan seribu tanya

Raga yang bicara menyulam rasa
Sebuah rindu yang tiada terkata
Hanya kupendam, hanya kusimpan
Seperti bulan di selimuti awan

Kala pagi menyuarakan cita
Aku jadi tak percaya pada hati
Asa itu jadi biasa
Aku jadi tak berguna
Semua sudah biasa

Seperti air mata untaikan kesedihan
Sebuah arti yang tak kan ditemui
Baik di kamus bahasa manapun
Hanya suara yang tak mau bicara
Dengan bahasa diam ia beri jawaban

Seperti pengembara bertanya pada bintang
Berlomba mencari sesuatu tak pasti
Tak tentu arah dan tujuan
Hanya punya satu impian

Cerita lama tentang seorang wanita
Yang punya cinta berjuta makna
Seperti madu yang mahal harganya
Atau api yang membakar kerangka
Hingga tiada bentuk tersisa
Karena rindu yang membunuh jiwa

Lalu waktu memberontak...
Kau disana berjalan mencari bahagia
Aku disini menunggu mati
Lalu bagaimana ku hidup tanpamu...?

Pontianak,
July 04

Selasa, 19 Januari 2010

DARI SEORANG PENYENDIRI KEPADA AYAHNYA

Ingin ku sampaikan ini padamu,
Meski aku tidak terbiasa menjadi melankolis
Di hadapanmu

Rasanya waktu berjalan terlalu cepat bagi kita berdua
Seperti baru kemarin rasanya aku masih menjadi anak-anak
Namun tanpa terasa kini aku sudah menjadi dewasa sepertimu

Kita memang sering tak sejalan
Karena kita sama-sama laki-laki yang keras kepala
Yang tidak mempercayakan takdir kita pada kata orang lain
Dan enggan menyerah sampai akhir

Engkau seperti tidak pernah termakan zaman
Meski bahu kukuhmu mulai surut menahan beban
Namun matamu senantiasa berbinar seperti dahulu
Tiap kali menatap anak-anakmu

Jika kemarin hari atau besok kita berselisih
Aku tahu kau tidak pernah menganggapnya serius
Selain sebagai dinamika pencarian jati diri untukku
Dan dengan mudah kau akan memaafkannya begitu saja

Dalam renungan-renungan kesendirianku
Kuingat lagi petuah-petuahmu abadimu
Yang kuukir di sisi relung hatiku
Pengalaman memang telah mengajarkanmu tentang segalanya
Rumusan kehidupan yang awam aku selami

Engkau adalah Ayahku!!!
Yang selamanya mengalirkan darah di tubuhku
Yang mewariskan namamu di ujung namaku
Agar aku tak salah langkah....

Pontianak, Januari 2010

Selasa, 29 Desember 2009

PEREMPUAN

Datanglah dengan keindahan
Sesempurna syurga dan cahaya cinta
Mewarnai pelangi dengan irama syahdu
membingkai langit hitam dengan sinar kejora

Engkau adalah kemuliaan
Permata berkilau yang bercahaya
Jagalah dengan sempurna
Dengan kesucian

Maka sujudlah
Tunduklah dalam khusyu’
Engkau memang perempuan
Tapi duduklah di sisi syurga
Jadilah bidadari!

September 2009

Sabtu, 19 Desember 2009

RINDU

Aku benci, harus jujur
Bahwa hari ini dingin sekali
Dan aku hanya seorang diri di sini
Sungguh....
Dalam gigil ini, aku merindukanmu

Oktober 09

Jumat, 18 Desember 2009

MEMORI HUJAN

Aku rindu kamu.
Engkau dimana?
Datanglah segera!
Aku telah lelah meunggumu
Aku capek...

Hujan kali ini basahkan hatiku yang galau
Aku ingin keluar!
Aku ingin menentang badai!
Walaupun aku lelah
Aku capek…

Sinarmu dimana?
Mengapa kau tak beri aku tanda
Apa kau sudah lupa aku

Hujan kali ini jadi pembuka memori
Ketika kau pergi di bawah guyurannya
Tapi mungkin kau sudah lupa itu semua

Hujan berhenti
Angin bertiup kembali
Aku lagi-lagi menunggumu
Padahal aku lelah
Aku capek...

Januari 05

Selasa, 13 Oktober 2009

SEPANJANG KAPUAS

Tentang rindu,
Engkau tentu lebih mengerti,
Karena kau lebih pengalaman dalam hal cinta
Dari pada aku

Malam ini, aku hanyut dalam pesona Kapuas
Dan nuansa eksotis yang begitu lepas
Namun tetap saja,
Seperti biasa,
Aku merindukanmu

Angin terasa dingin menyentuh kulit
Kuingin engkaulah yang hadir dalam tiap kebekuan
Membetulkan letak jaketku
Kemudian mengajaku makan malam
Dengan menu pilihan yang paling kita suka
Dan menikmati, perjalan kita di sana
Memandang bintang-bintang yang selalu ramah
Pada kita,
Lalu kita duduk, memandang pada Kapuas
Malihat sisiannya yang punya beragam cerita romantis
Sambil mencelupkan kaki kita kedalam arusnya yang deras
Seperti mereka yang sedang asyik dengan cinta
Walau mungkin cinta kita dan mereka sangat berbeda

Biarlah sekarang kunikmati dulu rindu ini
Untuk diriku sendiri
Dan kau tidak perlu tahu
Biar kita hidup dengan cinta kita masing-masing
Kau dengan cintamu
Aku dengan mencintaimu
Tapi percayalah, engkau tidak pernah berjalan sendiri
Ada alunan nafas lain yang menyertaimu
Ada alunan langkah lain yang menyertaimu
Engkau tidak pernah benar-benar berjalan sendiri

Kupejamkan mata, kuhirup harumnya
Dalam desau angin yang menyertaiku
Engkau bercerita tentang rasa rindumu
Adakah aku disana?
Tersenyum dalam mimpi dan khayalanmu
Memberikan harapan dan inspirasi
Dan mengajakmu mencipta sejuta puisi

Sepanjang Kapuas aku melihat kilas wajahmu
Ku baca namamu terukir dalam tiap riak gelombang
Nafasmu terdengar dalam tiap debur di dinding perahu
Dan angin malam mengantarkan senyummu yang hangat

Sepanjang Kapuas...
Entah mengapa, aku teringat padamu


Pontianak,
10 Oktober 09

Minggu, 27 September 2009

SAJAK SEPULUH SEPTEMBER

Bagaimana harus ku bercerita
Tentang hati ini kepadamu

Engkau sendiri mungkin tahu
Bagaimana kisah ini bermula
Karena engkau, adalah tokoh utamanya
Tanpa kau sadari atau tidak

Engkau datang begitu saja dalam hidupku
Tanpa izin, kau mengambil tempat
Di sisi ruang hatiku
dan kemudian hadir
menyapaku dalam mimpi-mimpi

Kemudian semuanya membuat aku resah
Semuanya membuatku gelisah
Tapi rasanya benar-benar indah

Bagaimana harus ku bercerita
Tentang hati ini kepadamu

Entah jika esok hari kita bertemu
Di jalan atau di pasar
Apakah kau akan menyapaku sehangat dahulu?
Saat kita masih duduk di ruang yang sama
Memandang ke arah yang sama
Dan memakai seragam yang sama

Apakah kita masih seperti dahulu
Malu-malu ketika harus berbicara soal cinta
Dan akhirnya semuanya cukup kita simpan
Di hati saja

Sekarang kita sudah dewasa
Dan kita menjadi begitu berbeda
dalam banyak hal
bahkan semua

Besok aku ingin kembali bertemu denganmu
Seperti saat kita masih duduk di ruang yang sama
Memandang ke arah yang sama
Dan memakai seragam yang sama
Seperti dahulu

Sapalah aku dengan suara hangatmu yang khas
Tunggulah aku di muka pintu rumahmu
Memanggil namaku dengan lembut
Dan membawakan ku cangkir dan seduhan teh
Yang kau buat memang hanya untukku
Sandarkanlah kepalamu ke bahu ini
Kemudian berceritalah, aku akan mendengarkannya
Dengan bahasa yang mungkin hanya kita saja yang tahu
Tanpa ada yang mengerti
Tanpa ada yang akan perduli
Selain kita

Hidup kita memang tidak lagi sama
Semuanya memang tidak lagi pernah sama
Kita sudah punya jalan sendiri-sendiri
Engkau dengan hidupmu sendiri
Aku dengan hidupku sendiri
Dan cinta kita
Juga mungkin tidak akan pernah sama

Tapi aku akan jalan terus
Walau kita berbeda dalam cinta dan semuanya
Tersenyum padamu
Dan menunduk malu-malu seperti dahulu
Saat setiap kali kita bertemu muka
Dan berpapasan di lorong panjang depan kelasku

Bagaimana harus ku bercerita
Tentang hati ini kepadamu

Engkau akan tetap ada untukku
Dalam kenangan-kenangan dan harapan
Dan juga hidup yang selalu biru

Pontianak,
10 september 09