Rabu, 19 Maret 2014

PEJUANG JALANAN

Untuk kerumunan yang menggetarkan para tiran
Hari ini kulihat, kawan
Para pejuang sesungguhnya
Tidak bersenjata apa-apa
Tapi nuraninya nyaring bersuara

Pedang kita adalah semangat
Tameng kita adalah tekad
Ditengah medan perang hitam putih
Kita adalah tentara-tentara kebenaran
Yang berbicara bukan sekedar dengan kata-kata
Kita adalah pembawa tongkat penghakiman
Untuk semua bentuk ketidak adilan

Kita bersuara atas kata-kata yang tak didengar
Kita bergerak untuk takdir yang telah ditentukan
Dan kita hanya akan mati atas nama sebuah perjuangan

Kala suara langit telah dibungkam Tuhan
Kita harus tetap meneriakkan kebenaran
Dan semua kelalim akan mendapat balasan

Hari ini kita datang dalam barisan perjuangan
Mengepung istana emas tempat kecurangan bertakhta
Kita buat para raja-raja tak bisa bermimpi di malam hari
Dan hidup mereka menjadi sebuah neraka di atas bumi

Mereka boleh gentar sekarang,
Mari kita lihat saja
Apakah raja kita yang agung itu,
Berani bertemu muka dengan kita besok pagi?
Karena kita akan terus di sini
Kita akan terus bertahan di sini
Kita akan terus bicara
Dan berharap mati tanpa pusara

Kita adalah serigala untuk kedzaliman
Neraca keadilan telah ditegakkan
Semua yang benar akan selalu menang

Dan yang salah pasti akan mendapat hukuman


Jumat, 07 Maret 2014

SIMPATI UNTUK PARA TIRAN



Untuk Hitler, Nero dan Caligula
Kita tak mau disebut pahlawan
Kita tak mau pula disebut tiran
Dan tak ada yang punya hak menentukan
Karena bahkan orang sucipun
Mati di tangan para pendosa
Dan kalian hanya menontonnya
Lalu bedakah kalian dengan setan

Mari biarkanlah saja,
Zaman berlagak jadi hakim paling kuasa
Dan kita tak pernah perduli,
Biarkan mereka membenci kita
Selama mereka takut pada kita

Kita hanyalah jiwa-jiwa penyendiri
Yang terlalu asik dengan pikiran kita sendiri
Kita tahu bahwa banyak manusia ksatria
Tapi kita juga tahu,
Tidak ada orang yang pantas untuk dipercaya
Ya, kita tidak percaya pada siapa-siapa
Bahkan pada diri kita sendiri

Kita tidak pernah memandang hitam putih
Seorang pembohong hebat,
Hanyalah seorang pesulap hebat,
Tidak ada yang berdosa,
Hanya sebuah permainan
Karena nanti akan ada saatnya,
Ketika kita harus membenci apa yang kita cintai
Ketika kita harus menertawakan apa yang kita yakini
Maka mengembaralah terus dalam pencarian
Jika tak kau temui di ujung sisi terang
Mungkin ia berada di ujung sisi yang lainnya
Karena kebenaran sejati kadang ada di dalam kegelapan jiwa

Kita menikmati gerak kehidupan,
Dan tak ingin mati lebih cepat
Karena diam berarti kematian
Kita tak menyiapkan rencana pemakaman
Meski para revolusioner memancung kita sekalipun
Kita percaya bahwa ini bukanlah penebusan
Bahkan dihadapan kematian, kita hanya punya satu sabda:
Qualis artifex pereo
Lihatlah, seorang seniman hebat akan mati

Sekali lagi, Tak ada yang perduli kita ini tiran atau pahlawan
Karena kita tahu sama tahu,
Bahwa sejarah hanyalah kebohongan yang disepakati
Dan kita semua sebenarnya adalah orang gila

Dalam kadar dan kedoknya masing-masing


Rabu, 26 Februari 2014

UNTUK ZU II

Aku selalu berfikir kita masih punya banyak waktu, Zu…
Tanpa sadar bahwa semua di sekitar kita berubah
Padahal ia bukan waktu namanya kalau tak terus maju
Aku berubah, kau pun berubah
Dan kita tak pernah lagi sama

Apakah waktu sebegitu memusuhi kita?
Ah… tidak juga…
Kita sajalah terlalu sombong pada takdir
Padahal waktu sudah menyuruh kita menjadi dewasa
Tapi kita tidak mau menurutinya
Kita terlenan oleh bayangan dan angan-angan
Tanpa menyadari kita terpisah sehasta demi sehasta
Semakin jauh, hingga jarak membuat kita asing
Membuat kita tak lagi berbicara dengan cinta

Aku tidak akan menyalahkanmu, Zu…
Karena memang tidak ada yang keliru
Kau dan aku adalah protagonist dalam hidup ini
Tak ada yang mendikte kita dalam menentukan arah
Kita adalah manusia-manusia yang merdeka
Bahwa dalam setiap pilihan ada yang harus direlakan
Itu adalah keniscayaan…
Karena kemenangan yang diraih tanpa pengorbanan
Rasanya tidak cukup patut untuk dirayakan

Jika pada akhirnya kisah ini berakhir tak seindah mimpi
Aku akan dengan senang hati melepasmu
Mengakui ke kalahanku…
Tapi selama waktu masih menjanjikan harapan, Zu…
Aku akan tetap melangkah kepadamu
Merekonstruksi janji-janji
Merfleksi mimpi-mimpi


Jumat, 21 Februari 2014

TENTANG HUJAN

Saat memandang dunia yang berembun
Dari jendela kamarku
Selalu saja aku teringat padamu
Gadis manis berkerudung merah jambu
Yang datang kehujanan tanpa mantel
Menerobos hujan bulan februari

Matahari yang malu-malu bersinar
Dan air langit yang menyanyi riang di atap rumah
Memanggilku untuk turut serta menari
Bermain hujan seperti anak kecil
Tanpa perduli apapun lagi

Tersenyumlah padaku wahai hujan
Temani kesendirianku
Sampaikan rinduku padanya
Pada gadis manis berkerudung merah jambu
Yang menyukai hujan bulan februari

Selepas hujan...
Aku berharap pelangi yang indah
Dan senyum manismu sebagai hadiah

Sabtu, 18 Januari 2014

ABSTRAKSI

Aku tidak pernah benar-benar memahami cinta
Definisi tak cukup menerjemahkan makna
Hati adalah misteri yang sangat mengerikan
Psikopat yang paranoid
Menyaru dalam wajah seorang pemalu

Asmara memberikan janji paling manis
Meski realitas tak lebih seperti hujan gerimis
Merobek dan mengiris
Tapi seperti candu, aku tidak bisa berhenti
Bahkan mengharap dosis paling tinggi

Aku membenci cermin yang merefleksi memori
Berharap arus waktu adalah gurauan paling tak lucu
Kau hadir lalu pergi
Seolah cinta tak cukup untukmu
Membawa pada titik yang tak lagi bisa aku kenali
Diriku dan dirimu

Aku mencintaimu seperti aku membencimu
Aku membencimu seperti aku mencintai
Mari melepas rindu...
Temui aku saat kau bersiap memeluk kematian
Mari bercumbu saat ajal menjemput kesepian

Sui Raya, 29 Desember 2012

Minggu, 20 Oktober 2013

UPACARA MINUM KOPI


Resapilah indahnya hidup
Dalam secangkir kopi di pagi hari
Kemudian nikmatilah saat-saat penuh filosofi
Ketika kesadaran meraih kebebasan berimaji

Sisihkan waktu sejenak menyiapkan bara
Bila panas menyenangkan, mengapa puas pada kebekuan
Siapkanlah cangkir terbaikmu
Karena hal-hal baik, memang perlu yang terbaik

Satu, dua, atau tiga ini hanya soal selera
Manis adalah pilihan, getir adalah kenyataan
Memang tak ada korelasi lelaki dan kelatnya rasa
Tapi hanya pemberani yang berkawan dengan tantangan

Harumnya adalah pemikat
Butiran itu larut dalam udara
Menebar nuansa menghangatkan suasana
Ibarat sebuah proses, menjelmalah bersama masa
Dari tanah, lalu menjadi tak sekedar aroma

Hitamnya tak bermakna apa-apa
Karena lidah memang lebih fasih dari mata
Sensasinya mungkin berbeda-beda
Bersahabat, erat, kadang terlalu pekat
Tapi ia menjadi candu, membuat kita mengulangnya selalu
Mungkin serupa juga dengan hidup
Walau kadang terasa terlalu pahit
Selalu ada nikmat yang bisa kita syukuri
Selalu ada syukur yang bisa kita nikmati

Ku habiskan isi cangkirku
Mengecap apa yang tersisa di dasarnya
Mungkin kopi ini terlalu kental

Dan aku, tak berniat terjaga selamanya

Sabtu, 12 Oktober 2013

MEMBACA PERTANDA

 

Aku terjaga dari rahim sang malam
Ketika seperempat abad datang menghampiri
Halaman pertama sebuah catatan
Berlanjut dalam lembaran-lebaran terbaru
Terselingi, namun tidak pernah benar-benar terganti

Hari ini waktu seakan berhenti dalam kontempolasi
Jalan hidup telah membawaku sampai di sini
Takdir mengeliminasi sekian banyak pilihan
Meninggalkan aku untuk mempersiapkan sebuah jawaban

Dalam lelap semesta, pemahaman menyelinap
Memberikan wujud kepada mimpi-mimpi senyap
Jawaban atas renungan-renungan di kala gelap
Apakah ini adalah firasat?

Aku percaya pada pertanda…
Karena Tuhan berbicara kepada hamba
Dan alam berisyarat dalam sebuah bahasa
Hanya terkadang kita tak sanggup membacanya
Dan aku akan mengikuti kemana ia akan membawa