Sabtu, 12 Oktober 2013
MEMBACA PERTANDA
Aku terjaga dari rahim sang malam
Ketika seperempat abad datang menghampiri
Halaman pertama sebuah catatan
Berlanjut dalam lembaran-lebaran terbaru
Terselingi, namun tidak pernah benar-benar terganti
Hari ini waktu seakan berhenti dalam kontempolasi
Jalan hidup telah membawaku sampai di sini
Takdir mengeliminasi sekian banyak pilihan
Meninggalkan aku untuk mempersiapkan sebuah jawaban
Dalam lelap semesta, pemahaman menyelinap
Memberikan wujud kepada mimpi-mimpi senyap
Jawaban atas renungan-renungan di kala gelap
Apakah ini adalah firasat?
Aku percaya pada pertanda…
Karena Tuhan berbicara kepada hamba
Dan alam berisyarat dalam sebuah bahasa
Hanya terkadang kita tak sanggup membacanya
Dan aku akan mengikuti kemana ia akan membawa
Rabu, 11 September 2013
SAJAK SEPULUH SEPTEMBER II
Waktu itu unik ya, Zu?
Karena waktu kita bertemu
Karena waktu pula kita berpisah
Dan perlahan-lahan kita semakin jauh
Ada apa ya, Zu?
Mengapa takdir tak tersenyum pada kita?
Padahal kufikir cinta itu semanis madu
Tapi luka, ternyata perihnya berlipat seribu
Aneh kan, Zu?
Cerita ini sudah lama terlewati
Tapi masih saja ingin selalu aku nikmati
Seolah-olah fragmen waktu dapat kita ulangi
Padahal jalan takdir ini tak akan pernah bisa direvisi
Yah, paling tidak, dalam sejarahlah kau bisa kumiliki sendiri
Hari ini 10 september lagi, Zu
Aku masih ingin mengenangmu seperti dulu
Meski, tentu saja, kau sudah tidak sama lagi
Tidak pernah sama lagi!
Tapi, sudahlah, Zu
Untuk malam ini saja!
Izinkan aku memimpikanmu,
Agar aku bisa melanjutkan hidup untuk esok hari
Karena waktu kita bertemu
Karena waktu pula kita berpisah
Dan perlahan-lahan kita semakin jauh
Ada apa ya, Zu?
Mengapa takdir tak tersenyum pada kita?
Padahal kufikir cinta itu semanis madu
Tapi luka, ternyata perihnya berlipat seribu
Aneh kan, Zu?
Cerita ini sudah lama terlewati
Tapi masih saja ingin selalu aku nikmati
Seolah-olah fragmen waktu dapat kita ulangi
Padahal jalan takdir ini tak akan pernah bisa direvisi
Yah, paling tidak, dalam sejarahlah kau bisa kumiliki sendiri
Hari ini 10 september lagi, Zu
Aku masih ingin mengenangmu seperti dulu
Meski, tentu saja, kau sudah tidak sama lagi
Tidak pernah sama lagi!
Tapi, sudahlah, Zu
Untuk malam ini saja!
Izinkan aku memimpikanmu,
Agar aku bisa melanjutkan hidup untuk esok hari
Sui Raya
10 September 2012
Rabu, 28 Agustus 2013
SEBUAH PERTANYAAN TENTANG CINTA
Sulitkah untuk dijawab
Apakah cinta punya wujud dan warna?
Aku bukan orang yang pandai bersilat lidah,
Kaupun faham!
Tapi waktu memang tidak bisa menunggu
Takdir tidak pernah memberikan pilihan
Aku masih mengenangmu dengan sempurna
Sebagai gadis pemilik senyum putih abu-abu
Dalam kenangan mimpi-mimpi selalu menjadi doa
Tapi dalam kenangan, tak ada yang bisa direvisi
Perasaan ini memang bukan soal matematika
Cinta ini tidak terdiri cuma dari hitam dan putih
Terkadang ia terdistorsi terlalu jauh dari mimpi
Terkadang jarak sedepa bahkan tidak juga bisa teraba
Terkadang puisi tidak cukup menjadi bukti
Klise memang,
Tapi itu yang selalu terjadi
Aku lelah berperang dengan keberanianku sendiri
Bahwa kau memang pantas diperjuangkan,
Aku tak bisa menyangkal
Tapi aku memang seorang peragu
Dan di dunia yang sempit ini,
Tidak ada tempat untuk orang seperti itu
Sulitkah untuk dijawab,
Apakah cinta punnya wujud dan warna?
Kufikir aku sudah cukup pandai
Tapi bahkan dalam hening paling mencekam
Aku tetap juga tidak bisa menjawabnya
Selain namamu, cinta terlalu absurd untukku
Apakah cinta punya wujud dan warna?
Aku bukan orang yang pandai bersilat lidah,
Kaupun faham!
Tapi waktu memang tidak bisa menunggu
Takdir tidak pernah memberikan pilihan
Aku masih mengenangmu dengan sempurna
Sebagai gadis pemilik senyum putih abu-abu
Dalam kenangan mimpi-mimpi selalu menjadi doa
Tapi dalam kenangan, tak ada yang bisa direvisi
Perasaan ini memang bukan soal matematika
Cinta ini tidak terdiri cuma dari hitam dan putih
Terkadang ia terdistorsi terlalu jauh dari mimpi
Terkadang jarak sedepa bahkan tidak juga bisa teraba
Terkadang puisi tidak cukup menjadi bukti
Klise memang,
Tapi itu yang selalu terjadi
Aku lelah berperang dengan keberanianku sendiri
Bahwa kau memang pantas diperjuangkan,
Aku tak bisa menyangkal
Tapi aku memang seorang peragu
Dan di dunia yang sempit ini,
Tidak ada tempat untuk orang seperti itu
Sulitkah untuk dijawab,
Apakah cinta punnya wujud dan warna?
Kufikir aku sudah cukup pandai
Tapi bahkan dalam hening paling mencekam
Aku tetap juga tidak bisa menjawabnya
Selain namamu, cinta terlalu absurd untukku
Rabu, 31 Juli 2013
SAJAK TANAH GERSANG
Ada tanda tanya di dinding pencakar langit
Inikah yang namanya kemajuan?
Tatkala tembok angkuh itu berdiri megah
Jalan beton mengular ke segala arah
Sementara para petani kehilangan lahan
Nelayan-nelayan kehilangan tangkapan
Ladang-ladang kini disulap menjadi pabrik
Mahasiswa bermimpi kerja di ruang ber-AC
Manusia-manusia desa minggat ke kota
Mental jongos mewabah setiap kepala
Siapa yang lemah akan diinjak dan dilindas sampai mati
Sungguh, bukan ini yang namanya kemajuan!
Jika bapakku petani,
Aku juga ingin jadi petani
Jika bapakku nelayan,
Aku juga ingin jadi nelayan
Sarjana-sarjana!
Kembalilah ke sawah,
Kembalilah ke lautan,
Jika ladang dan tambak kau tinggalkan
Bersiaplah mati oleh taring kapitalis
Rabu, 26 Juni 2013
MENGEJAR MATAHARI
Hari ini, senja datang
seperti biasa
Lalu mentari hilang
diantara garis cakrawala
Luka, gelisah, dan
lara terakumulasi bersama malam
Tersimpan menjadi
mimpi buruk dalam lelap dunia
Saat tubuh lelah ini
menuntut berhenti
Jiwa telah tertinggal
bersama mimpi-mimpi
Kita meraba-raba cinta
yang lama kita lupakan
Mentari yang tak mau
berhenti, kita benci setengah mati
Sejarah menjadi
drakula penghisap darah
Kita faham, tapi kita
menipu diri
Mentari tak pernah
hilang
Dia ada di sana, bumilah yang sedang
berputar
Saat esok hari membuka
lembaran pagi
Tataplah sinar tajam
di ufuk timur dengan berani
Berlarilah mengejar
matahari
Karena itu tak akan
membuatmu berhenti berlari
Nikmatilah setiap
misteri dan kejutan
Karena hidup hanya
bermuara pada dua pilihan
Kesenangan dan
kesedihan
Tapi nikmatilah setiap
langkah yang hatimu pilihkan
Karena disanalah berada
kebahagian
Hidup bukan tentang
hasil dari setiap pilihan yang kita ambil
Hidup adalah tentang
pilihan-pilihan itu sendiri
Rabu, 29 Mei 2013
DIALOG AKHIR MALAM
Sang sepi
menyeringai ditengah malam
Teruntuk jiwa-jiwa
yang menyendiri dalam senyap
Yang
tebangun dengan gelisah di puncak sang temaram
Berteman
kabut kelam yang jahat dan kejam
Serta sinar
rembulan yang kian pudar
Lidah-lidah yang
kering ini mulai basah
Ayat-ayat cinta
telah didendangkan syahdu
Taubat telah
dibenamkan dalam sajadah yang kusam
Hanya ada desah
kepedihan, kala mengingat dosa.
Hanya ada desah
pengharapan, kala mengingat Engkau.
Hati ini hitam
legam,
Terkotori oleh
zaman yang kian suram.
Jiwa-jiwa yang
tersesat ini mencari jalan pulang
Langkah-langkah
bimbang ini perlu tempat tujuan
Entah dengan apa akan
ku tebus surga-Mu,
Yang kupunya
hanya sujud-sujud sederhana
Dan doa-doa pelan
yang terselip dalam masa
Rasanya tak akan
cukup,
Kecuali dengan
Rahmat-Mu yang agung
Dalam malam yang
senyap,
Kening kasar ini
tenggelam dalam alas sujud
Aku ingin
mendengarkan suara-Mu
Berbisik pada
hatiku yang galau
Malam ini memang
dingin dan sunyi
Namun aku tak
ingin berhenti memuja
Dalam lirih
suara, kusebut nama-Mu
Temani
keheninganku dalam jaga dan air mata
Malam ini ku
ingin Engkau menemani jiwa ku yang resah
Tuntunlah aku
melintasi jalan yang mengarah pada-Mu
Jangan biarkan
aku berjalan dalam pekat tanpa arah
Aku sedang tak
mau sendirian.
Jumat, 05 April 2013
PRIA DI PEREMPATAN ITU
Pria di perempatan itu tidak pernah aku lupakan
Dia yang
pertama berdiri dahulu
Berada di
garis depan membawa bendera
Dan
spanduk-spanduk sederhana dari pilox
Meninggalkan
ruang-ruang kuliah
Diktat-diktat
tebal dari berbagai cabang ilmu
Mulai dari ilmu
filsafat hingga risalah pergerakan
Juga meja dan
kursi yang menjadi pasangan setia
Ia berdiri,
bangkit, dan bergerak
Memandu
barisan-barisan anti kezaliman
Dengan suara
serak yang keluar dari corong
Pengeras
suara
Ia
berteriak, berseru
Nadanya
sumbang dan tak berirama
Tapi bagiku
seperti bensin
Meledak dan
membakar semua orang
Pria itu
tidak pernah aku lupakan
Ia selalu
sederhana dalam bergaya
IPK nya
tidak lebih dari angka tiga
Tapi
caranya berbicara
Dan kata-kata
yang datang darinya
Seperti mutiara
yang bercahaya
Kutatap
fotonya yang terbingkai figura emas
Kuberi
salam hormat penuh takzim
Ucapan
terima kasih dan doa syukur
Wajahmu
tersenyum setia di situ
Tanpa
bergeser barang seinci pun
Menatap
dunia luar yang bising
Melihat
tunas-tunas baru itu tumbuh subur
Menatap
kami di sini
Meneruskan
perjuanganmu
Pria di
perempatan itu benar-benar tidak pernah aku lupakan
Ribuan orang mengantarkan kepergiannya
Aku salah satunya
Label:
Nyanyian Perjuangan,
Tentang Seseorang
Langganan:
Komentar (Atom)




